Kebaktian terakhir Kaum Wanita di 2016

(1 Desember 2016)



Sekitar 400 wanita memenuhi gedung The Grand Club. Mereka duduk di kursi dalam bentuk setengah lingkaran. Bila kita masuk ruangan tersebut, di depan tampak panggung kecil dan di sebelah kanan depan terlihat keyboard dan pemain musik Psallo Orchestra.
Hari itu merupakan kebaktian terakhir dari Kaum Wanita dan tidak diadakan di gereja untuk mendapatkan suasana lain. Para panitia dengan seragam blus hitam dan rok batik tampak sibuk melayani tamu-tamu dari anggota kebaktian Kaum Wanita dari gereja Kristus Gembala juga tamu undangan dari Jakarta, Bekasi, Mojokerto, istri-istri hamba Tuhan dari Surabaya, Tuban, Bojonegoro, Gresik, Lumajang, Malang dan dari PWKI.
Ibu Gembala, Ibu Ester Budiono, duduk di depan berseberangan dengan musik ber-sama dua pembicara lainnya, Ibu Ester Prasetyo dan Ibu Vida Simon; mereka juga berseragam hitam-batik. Suasana tampak akrab dengan tatanan duduk macam ini.


Pada awal kebaktian, Ibu Gembala memimpin kebaktian dengan doa pembukaan dan pujian kemudian memberi pesan Firman Tuhan yang diambil dari injil Lukas 1:5-25 tentang imam Zakharia dan ibu Elisabet – pasangan suami istri yang sampai lanjut usia belum juga dikaruniai anak – karena Elisabet mandul. Meskipun demikian mereka tetap setia melayani di Bait Suci hingga akhirnya mukjizat terjadi. Elisabet mengan-dung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Tuhan menginginkan kita tetap setia melayani meskipun doa/permohonan kita belum atau bahkan tidak dikabulkan Tuhan. Kesetiaan melayani sampai akhir hidup kiranya menjadi komitmen pelayanan kita!
Selesai Firman Tuhan tiga orang ibu mewakili bidang pelayanannya masing-masing memberikan kesaksian:

 

593-kw-1


1. Ibu Nathalya (dari backing vocal) menyatakan bahwa melayani Tuhan baginya adalah sebuah anugerah karena merupakan keper-cayaan Tuhan. Untuk itu ibu Nathalya ingin selalu setia melayani dan menjadi berkat bagi banyak orang. Jika dahulu hidupnya hanya melayani suami dan anak-anak, saat ini beliau mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dan melayani Tuhan.

 

593-kw-2

 

2. Ibu Olla, wanita lajang, mewakili tim musik mendapatkan berkat melalui Firman Rut yang juga hidup sendiri. Seperti Rut, Ibu Ola belajar dari kesendirian untuk hidup lebih dekat kepa-da Tuhan dan berkesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

 

593-kw-3

3. Ibu Ay Lien, hampir semua mengenal ibu Ay Lien karena beliau melayani konsumsi baik di kalangan Kaum Muda maupun Kaum Wanita. Beliau merasakan sukacita dan sangat diberkati dalam pelayanannya menyediakan makanan bagi semua peserta.

Pembicara kedua adalah Ibu Ester Prasetyo yang membawakan Firman sambungan dari berita yang dibawakan ibu Ester Budiono yaitu Injil Lukas 1:26-38. Firman Tuhan menceritakan bagaimana Maria menanggapi pemberitahuan malaikat Gabriel bahwa dia akan mengandung Anak Allah yang mahatinggi. Mungkin ada keraguan dan kegalauan karena dia belum bersuami tetapi dia memosisikan diri sebagai doulos, seorang hamba, yang tidak memiliki hak. Dia kemudian memasrahkan hidupnya kepada Tuhan. Malaikat Gabriel lalu memberitahukan kepadanya bahwa Elisabet juga mengandung pada masa tuanya. Banyak hal yang tampak mustahil terjadi dalam hidup kita belum lagi masalah datang silih berganti namun bila kita pasrah kepada Tuhan, Ia akan memberikan jalan keluar karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil!

Acara selanjutnya diteruskan dengan tiga ibu yang bersaksi:

 

593-kw-4

 

4. Ibu Susan adalah penerima tamu yang selalu menyambut tamu dengan senyum yang khas. Beliau menyaksikan dahulu non-Kristen tetapi dengan cara luar biasa beliau dibawa kepada Kristus dan melayani-Nya. “Apa ada perubah-an dalam hidupku?” tanyanya kepada suami-nya suatu hari setelah merasa mengalami keubahan hidup dari Firman Tuhan. “Kamu lebih langsing”, jawab suaminya. Semua hadirin grrrr! Karena ibu Susan orangnya gemuk. Namun ternyata yang dimaksud “langsing” oleh suaminya ialah banyak hal buruk sudah “tanggal” dari hidupnya! Puji Tuhan.

 

593-kw-5


5. Ibu Vonny S. (pelayanan sound system) merasakan kasih dan kemurahan Tuhan boleh mela-yani Tuhan. Firman dari kitab Rut, wanita Moab, yang begitu rendah hati dan taat serta tidak mementingkan diri sendiri telah begitu member-kati hidupnya. Firman tersebut menguatkan, mengubahkan, menuntun dan menyucikan hidupnya serta memulihkan kerohaniannya se-hingga hidupnya menjadi tenang, damai dan sukacita.

 

593-kw-6

6. Christine, seorang pemudi yang melayani di bidang media, menyatakan sukacita karena Tuhan telah menjawab doanya. Walau pen-didikan formalnya tidak berkaitan dengan media, kesukaannya ialah sesuatu yang ber-hubungan dengan media. Sejak dahulu dia menginginkan adanya shooting yang dapat memuat gambar-gambar dari segala sudut, sekarang doanya sudah didengar oleh Tuhan seperti yang kita nikmati saat ini dalam kebaktian-kebaktian yang kita ikuti.

Pembicara ketiga adalah ibu Vida Simon yang membawakan arti sebuah salam diambil dari Lukas 1:39-45. Maria dalam keadaan mengandung janin Yesus pergi mengunjungi Elisabet, sanaknya, yang telah hamil 6 bulan pada masa tuanya. Ketika Maria memberi salam melonjaklah bayi dalam kandungannya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. Mengapa pemberian salam berdampak begitu dahsyat membuat anak dalam kandungan melonjak dan ibunya penuh dengan Roh kudus? Karena Maria mengandung janin Raja Damai walau masih kecil sekali! Salam sangat berarti dan penting sehingga surat-surat di Perjanjian Baru selalu dibuka dan ditutup dengan salam. Jika kita memiliki Yesus dalam diri kita, sekalipun sangat kecil, salam sejahtera kita akan sangat berarti bagi orang lain di sekitar kita. Semua wanita bertugas membawa salam damai sejahtera kepada semua orang terutama bagi keluarga kita, suami dan anak-anak.


Suatu yang benar-benar merupakan kejutan dari Tuhan ialah Firman yang persis berkesinambungan walaupun para pembicara tidak saling mengadakan perjanjian!
Di akhir kebaktian para wanita mendapatkan bunga-bunga mawar melambangkan syalom yang harus selalu kita bawa kepada keluarga juga kepada siapa saja di sekitar kita. Semua wanita menyanyikan lagu sambil berjanji kepada Tuhan untuk selalu membawa syalom dalam hidupnya dan membagikannya kepada semua orang.

 

Dengan melambaikan bunga-bunga itu, mereka menyanyikan:

 

Havenu syalom alekhem, havenu syalom alekhem……..
Havenu syalom alekhem, havenu syalom alekhem, havenu syalom alekhem, havenu syalom, syalom, syalom alekhem.
Kubawa damai sejahtera, kubawa damai sejahtera, kubawa damai sejahtera, kubawa damai, damai, damai sejahtera.
Syalom khaverim, syalom khaverim, syalom…. syalom
Lehit ra’ot, lehit ra’ot syalom, syalom
Syalom, kawanku, syalom kawanku, syalom, syalom
Sampai berjumpa, sampai berjumpa, syalom, syalom…
(Red.)

 

593-kw-7