Paskah Sekolah Minggu Kendangsari

 

Kali ini pujian tidak seperti biasanya, hanya berdurasi 10 menit dilanjutkan dengan pemberitaan Firman Tuhan yang dibawakan oleh Oom John Nababan dengan tema “HE IS RISEN”. Yesus adalah kebangkitan namun sebelum mengalami proses kebangkitan, Ia mati. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Yesus harus mati, sementara Ia adalah Tuhan yang berkuasa? Alkitab mengatakan bahwa sebagai Manusia, Yesus harus mengalami apa yang dirasakan oleh manusia supaya Ia dapat merasakan kelemahan-kelemahan kita seperti: senang, susah, sakit, bahkan mati. Namun kematian yang dialami-Nya berbeda dengan kematian yang dialami oleh manusia biasa sebab Yesus mati untuk menebus dosa manusia.

Yohanes 11:5-16 mengatakan bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup, siapa yang percaya kepada-Nya akan hidup. Kita percaya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah percaya kepada kurban Kristus yang mampu mengampuni dosa kita. Contoh nyata kalau kurban Kristus mampu mengampuni dosa manusia adalah saat Yesus mengunjungi rumah Lazarus. Ada tiga karakter manusia yaitu:

1. Marta yang selalu sibuk sehingga tidak memanfaatkan waktu untuk mendengarkan Firman Tuhan. Sikap ini sering terjadi saat Firman disampaikan anak-anak tidak mendengar dengan baik tetapi ribut sendiri mengganggu teman, ngelamun, main-main bahkan bertengkar.

2. Lazarus yang ditemukan mati.

3. Maria yang duduk mendengar di kaki Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tuhan rindu anak-anak bersikap seperti Maria yang setia duduk mendengarkan Firman Tuhan.

Marta dan Lazarus harus mengalami PEMULIHAN supaya Marta diampuni kesalahannya dan Lazarus dibangkitkan dari kematian. Tidak ada jalan lain, hanya melalui kurban Kristus yang mampu mengampuni kesalahan dan menghidupkan. Yesus telah mati dan bangkit dari kematian; kuasa kebangkitan-Nya mampu mengampuni semua kesalahan kita.

Seusai Firman Tuhan, anak-anak diajak menyanyikan Lagu TUHAN S’LALU AMPUNI’. Mereka yang masih terikat dengan dosa, menyanyi dengan sungguh-sungguh dan mengakui dosa-dosa yang telah mereka lakukan karena darah Yesus sanggup mengampuni dan melepaskan mereka dari dosa. Pengakuan dosa mereka ditulis di atas secarik kertas kemudian mereka berdoa sungguh-sungguh mohon ampun kepada Tuhan. Semua guru yang hadir serta orang tua yang ada diminta kesediaannya untuk berdoa bagi mereka yang membawa kertas bertuliskan dosa-dosa mereka.

Selesai berdoa, anak-anak menempel dosa-dosa mereka pada balon warna-warni yang disediakan lalu bersama-sama menuju ke halaman sambil tetap menyanyikan TUHAN S’LALU AMPUNI untuk kemudian melepaskan balon-balon yang penuh dengan tempelan dosa-dosa. Begitu balon-balon terlepas, mereka bertepuk tangan sambil menyanyikan “S’KARANG SAYA SUDAH BEBAS”.

Dengan penuh sukacita anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing. Acara selanjutnya adalah LOMBA MENYANYI SOLO, dengan pilihan lagu:

Kelas kecil:  Tuhan Bangkit, musuh-Nya dikalahkan

      Tanda Paku di kaki dan tangan

Kelas besar: S’perti yang Kau ingini

      Sekarang t’lah tiba

Empat juri yang adalah orang tua murid (Bpk & Ibu Agus Mulyono, Ibu Ida Rosita dan Bpk. Wawang) dengan penuh kesabaran mendengarkan anak-anak menyanyi satu persatu. Kriteria penilaian adalah keberanian, hafal lirik lagu, gerakan, bila mereka dapat menciptakan gerakan sendiri akan mendapatkan bonus nilai. Hal ini dimaksudkan untuk mencari talenta anak-anak SM Kendangsari supaya bila ada event KKR Anak mendatang sudah tersedia calon-calon yang potensial.

Doa Penutup oleh tante Grace Mangitung mengakhiri rangkaian acara yang telah dilaksanakan. Sekalipun acara berlangsung lebih lama dari biasanya, anak-anak begitu penuh sukacita, kebangkitan Yesus telah melepaskan mereka dari dosa-dosa mereka… “SAYA BEBAS OLEH DARAH, DARAH-NYA DOMBA ALLAH, SEKARANG SAYA BEBAS-BEBAS-BEBAS, HALELUYA…”

Puji Tuhan, SELAMAT PASKAH! (el)