Nikah Massal

KISAH PERJALANAN MISI

“Sehelai surat yang sangat berarti” itulah komentar dari Koran KOMPAS; yang dimaksudkan ialah “surat nikah” yang diperoleh 5.115 pasangan kurang mampu dari Jakarta dan sekitarnya dalam pernikahan massal yang diadakan di gedung Istora Senayan pada tanggal 28 Januari 2015. Mereka terdiri dari berbagai etnis, bahasa dan agama. Hari itu, tanpa membayar sepeserpun, pernikahan mereka dirayakan dan diresmikan. Anak-anak mereka yang dahulunya tidak memiliki surat penduduk, surat kelahiran dll. kini memiliki masa depan lebih baik. Mereka dapat mengenyam pendidikan di sekolah dan mendapatkan hak-hak sebagai seorang warga sah di negara kita.

Suatu event besar dan langka terjadi pada tanggal 28 Januari lalu. Gedung Istora Senayan ditumpahruahi pengunjung yang sedang merayakan pesta nikah ribuan pasang pengantin. Sejak pukul 07.00 tempat telah ramai dengan pasangan pengantin bersama kerabatnya juga pengunjung yang terus berdatangan. Ketika memasuki gedung Istora Senayan, pasangan pengantin prasejahtera dari berbagai daerah di Jakarta, Bogor, Tangerang  disambut oleh pementasan musik di atas panggung dan dimeriahkan oleh sejumlah artis dengan tarian dan nyanyian. Beberapa pasang pengantin bahkan diarak dengan panser-panser dari AD.

Resepsi pernikahan massal itu diadakan atas hasil kerja sama Yayasan Pondok Kasih, Harmoni Cinta Indonesia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dinas Pembinaan Mental TNI AD dan Global Compact Network. Selain itu para pengusaha, tokoh-tokoh agama, berbagai organisasi masyarakat, 3 stasiun TV (SCTV, RTV, Indosiar) ikut berpartisipasi mengabadikan momen bersejarah itu. PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) ikut serta sebagai “ujung tombak” mencari mereka yang membutuhkan bantuan. Biaya untuk menyelenggarakan acara ini Rp 1.200.000 per pa-sangan nikah.

502 nikah massal 1

Ibu Hana Ananda, yang telah menggeluti pelayanan bagi kaum duafa selama 25 tahun, menjadi inspirator pernikahan massal tersebut. Ide ini timbul untuk memperbaiki nasib masyarakat tingkat paling rendah dan tersisihkan di negara kita ini agar mereka mempunyai status sah sebagai warga Negara Indonesia dengan memegang surat-surat penting yang diperlukan seperti akta pernikahan, akta kelahiran, KTP, dll. Menurut pengakuan beliau, pernikahan massal ini merupakan kegiatan kedelapan kalinya.

502 nikah massal 2

Dalam sambutannya, “Mama Hana” (demikian beliau dikenal) menjelaskan tujuan diselenggarakannya pernikahan massal yaitu agar kaum prasejahtera yang dinikahkan memiliki pernikahan yang dikehendaki Tuhan dan sah di hadapan pemerintah. Dengan demikian mereka terhindar dari dosa perzinaan, perasaan malu dan rendah diri karena tidak ada pengakuan diri dari masyarakat. Sambutan dari wakil pemerintah DKI mengatakan betapa berartinya acara bagi mereka yang dinikahkan karena nikah merupakan acara “satu kali dalam seumur hidup”. Sambutan mama Hana tanpa teks telah menggugah hati banyak kalangan karena terasa keluar dari hati yang sarat dengan kasih dan kepedulian. Beberapa pengunjung tampak begitu terharu hingga meneteskan air mata.

Para pasangan berasal dari beragam latar belakang seperti: kaum pemulung, buruh pabrik, pembantu rumah tangga bahkan tukang sampah yang hidup di tempat-tempat kumuh dan di kolong-kolong jembatan. Mereka juga berasal dari pelbagai etnis, bahasa dan agama. Sungguh indah melihat mereka berpakaian aneka ragam sesuai dengan asal daerah mereka!

Tak terbayangkan betapa bahagianya mereka! Mereka yang untuk membuat surat nikah saja tidak mampu kini tanpa membayar sepeser pun dihias layaknya pengantin (oleh perusahaan kosmetik Martha Tilaar) bahkan sebanyak 534 pengantin putri sempat dibekali pelatihan merias wajah. Tak ketinggalan antusiasme dari TNI AD, para sukarelawan Pekerja Sosial serta keterlibatan berbagai instansi pemerintah dan swasta dalam mengawal mereka yang lemah untuk mendapatkan hak-hak mereka sebagai warga negara menunjukkan indahnya jalinan kerja sama luar biasa demi memperjuangkan hak rakyat kecil yang akan membawa dampak besar bagi mereka dan keturunan mereka. Inilah ciri khas bangsa Indonesia sebenarnya yaitu kesatuan dan persatuan dari aneka suku, bahasa, agama, pendidikan dll. yang berbingkaikan Bhineka Tunggal Ika!

Ketika Mama Hana diinterview di stasiun Indosiar, seorang dari mereka bertanya sambil berbisik apakah beliau seorang Kristiani. Ternyata tanpa perlu menunjukkan identitas diri tetapi di-ekspresikan melalui perbuatan kasih dan kepedulian pada sesama, mereka menyaksikan kebesaran Tuhan dan Nama Tuhan dipermuliakan. Suatu saat kelak kita pun menghadapi Pesta Pernikahan Anak Domba dan kita dari berbagai latar belakang, bangsa, suku dan bahasa disatukan menjadi mempelai-Nya!

Nikah massal lintas agama, suku dan ras ini mendapat sambutan meriah dari banyak lapisan masyarakat dan pemerintah di ibu kota serta diharapkan dapat diikuti oleh propinsi-propinsi di seluruh Nusantara. Mari kita doakan agar Indonesia dapat melihat kebesaran Tuhan dalam mempersatukan rakyatnya! (VS)

BEBERAPA CATATAN KECIL SEPUTAR PERNIKAHAN MASSAL:

  • “Demi anak dan masa depan yang lebih baik, saya mendaftar acara pernikahan ini.” (seorang pengantin wanita yang berpendapatan Rp. 25.000 per hari)
  • “Ini demi anak saya agar bisa memiliki akta lahir, semoga hidup kami lebih baik.” (office boy sebuah kantor)
  • “Untuk membuat surat nikah dan berbagai biaya administrasi kami harus bayar ± 2 juta padahal suami saya sebagai buruh pabrik tak sanggup membayar semahal itu…” (Indri, 25 tahun)
  • “Ini sekaligus mendorong rasa percaya diri dari pengantin putri. Meski hidup dalam keterbatasan, mereka harus berani menatap hari depan…” (Martha Tilaar yang membekali pengantin putri untuk menghias diri)
  • “Akta anak merupakan bagian dari hak asasi manusia. Kami berusaha membuat persyaratan tidak rumit. Mereka yang ada di kolong jembatan pun diusahakan punya identitas.” (Susy Dwi Harini, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta)
  • “Saya dapat merasakan manifestasi kasih dan kepedulian yang besar dari Tuhan dalam acara ini.” (seorang pengunjung)

502 nikah massal 3