EZRA

Di hadapan Tuhan, yang terpenting bukanlah prestasi kita melainkan komitmen kita untuk hidup bagi-Nya. Prestasi hanyalah contoh tentang apa yang dapat dilakukan Tuhan melalui kehidupan seseorang. Kebanyakan pemimpin hebat dalam Alkitab justru tidak menyadari betapa dahsyat pengaruh kehidupan mereka bagi orang lain. Mereka terlalu sibuk menaati Allah sehingga tidak punya waktu mencatat dan membanggakan keberhasilan mereka. Ezra adalah salah satunya.

Sekitar 80 tahun setelah restorasi Bait Allah di bawah kepemimpinan Zerubabel, Ezra kembali ke Yehuda dengan ± 2000 laki-laki dan keluarga mereka. Ia membawa surat dari Artahsasta yang memerintahkannya untuk melaksanakan program pendidikan keagamaan. Surat ini memberinya kekuasaan yang besar. Namun jauh sebelum misi Ezra dimulai, Allah telah membentuknya dalam tiga bidang sehingga ia dapat menjalankan kekuasaannya dengan baik. Pertama, sebagai seorang juru tulis, Ezra mendedikasikan dirinya mempelajari Firman Allah. Kedua, ia berniat menerapkan dan menaati secara pribadi perintah-perintah yang ia temukan dalam Firman Allah itu. Ketiga, ia berkomitmen mengajarkan Firman Allah dan penerapannya kepada orang lain.

Melihat prioritas-prioritas Ezra ini, kita tidak terkejut akan tindakannya ketika ia tiba di Yerusalem. Rakyat telah melanggar perintah Allah dengan menikahi perempuan-perempuan asing. Pada suatu hari yang dingin dan hujan, Ezra berbicara kepada rakyat dan menjelaskan dosa mereka. Karena banyak yang berdosa, seluruh rakyat menanggung kutuk dari Tuhan. Pengakuan, pertobatan dan tindakan sangat diperlukan. Rakyat mengakui dosa mereka dan menyusun rencana untuk mengatasi masalah ini.

Upaya awal Ezra adalah fondasi bagi pekerjaan Nehemia. Ezra melanjutkan pelayanannya di bawah pimpinan Nehemia dan keduanya dipakai Allah memulai suatu gerakan spiritual yang melanda seantero negeri setelah restorasi Yerusalem.

Ezra mencapai prestasi besar dan membawa dampak yang dahsyat karena tindakan dan kehidupannya dimulai dengan tepat yaitu dengan Firman Allah. Ia mempelajarinya dengan serius dan menerapkannya dengan setia. Ia mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Ia layak disebut sebagai teladan bagi orang yang ingin hidup bagi Allah.

Kekuatan dan kecakapan Ezra:

  • Berkomitmen untuk mempelajari, mengikuti dan mengajarkan Firman Allah
  • Memimpin kelompok kedua rakyat Israel yang kembali dari Babel ke Yerusalem
  • Kemungkinan adalah penulis 1 dan 2 Tawarikh
  • Sangat ingin menaati Firman Allah hingga detail terkecilnya
  • Diutus oleh raja Artahsasta untuk mengevaluasi keadaan, mendirikan sistem pendidikan keagamaan dan kembali untuk melaporkan langsung hasilnya
  • Bekerja bersama Nehemia pada masa kebangkitan spiritual terakhir di Perjanjian Lama

 

Pelajaran dari kehidupan Ezra:

  • Kerelaan seseorang untuk mempelajari dan mempraktikkan Firman Allah akan membawa dampak langsung pada pemakaian Allah dalam kehidupannya.
  • Awal dari pelayanan yang benar adalah komitmen pribadi untuk melayani bahkan sebelum tahu pelayanan seperti apa yang akan dikerjakannya.

 

Statistik demografi:

  • Lokasi: Babel, Yerusalem
  • Pekerjaan: juru tulis di pengasingan Babel, utusan raja, guru
  • Keluarga: Ayah: Seraya
  • Rekan sezaman: Nehemia, Artahsasta

 

Ayat Kunci:

Ezra 7 : 10