KITAB KEJADIAN

09 September 2016

Pembicara : Pdt Paulus Budiono

 

            Shalom,

Terimakasih buat doa Saudara, sehingga kami rombongan kecil baik dari Surabaya, BPP (Badan Pimpinan Pusat) GPT bersama rekan-rekan yang lain dari seluruh Indonesia boleh berada dalam Raker ke-7 di Medan, yang disertai dengan dua hari KKR,semua telah berjalan dengan baik, Kamis kami kembali ke Surabaya. Dan malam ini semata-mata hanya anugerah dan kekuatan dari Allah, kepujian bagi Allah saja.

Saya sangat tersentuh dengan nyanyian tadi karena memang di dunia ini, bahkan kata Yesus sendiri, kasih manusia semakin dingin, berkurang. Kasih agape adalahkasih dari Allah yang menjadi aliran sungai yang tidak akan berhenti dan harus kepada Allah. Itulah Roh Kudus yang Tuhan katakan di dalam Yohanes 4 kepada perempuan Samaria dan kepada orang yang haus akan air (Roh Kudus) boleh datang.Kitaberterimakasih karena Allah telah memberikan kasih agape-Nya. Langit dan bumi tercipta oleh Allah dan Allah itu tertib. Oleh karena itu, penciptaan-Nya seimbang. Dalam kasih-Nya menciptakan semuanya, dengan ketertiban-Nya semua yang tidak berbentuk menjadi berbentuk, yang gelap menjadi terang. Semua itu adalah ketertiban yang Allah kerjakan.

Selanjutnya malam ini kita akan merenungkan imanYusuf. Allah tidak pernah berbicara secara langsung kepada Yusuf, tetapi kita bisa melihat bahwa dalam segala aspek perbuatan hidupnya, dari masa muda sampai tua, Yusuf selalu berada dalam koridor kebenaran Allah. Marime-review beberapa ayat di dalam Ibrani 11, agar iman kita kepada Allah oleh firman Kristusbertumbuh, iman kita tetap iman yang sama, tetapi mempunyai jangkauan yang luas.

Ibrani 11:1-3Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Kitamemperhatikan definisi iman yang banyak kita temukan di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama sampai kitab Wahyu yang mengatakan,“Barangsiapa yang percaya...”. Itu adalah iman. Dikatakan bahwa, “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah...”Di sini Allah seolah-olah membuat kita percaya kepada hal yang global, iman secara global. Saya rasaagama lain juga mengatakan bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah. Tetapi apakah iman mereka dan kita bisa disamaratakan? Jika kita hanya membaca ayat pertama sampai ketiga, kita akan merasa sama saja. Tetapi masih ada ayat lain yang berbicara tentang iman. Iman secara global bisa sama yakni yakin bahwa alam semesta termasuk manusia diciptakan Allah, tetapi bagaimana menciptakannya, mereka tidak mengetahuinya, bahkan mempunyai konsep lain, dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari segumpal darah. Kita harus kembali pada apa kata Allah tentang hal ini.

Pada akhir zaman kita didorong bukan hanya menyelidiki Alkitab, tetapi Alkitab ini dapat kita lihat wujudnya di sekitar kita. Kita bisa melihat ciptaan Allah yang mengagumkan, tetapi ada ayat firman Allah yang mengatakan untuk berhati-hati karena banyak orang yang walaupun mengerti, mengetahui dan mengakui bahwa alam semesta dan segalanya dari Allah, tetapi mereka tidak memuliakan Allah, sehingga mereka membuat patung dan sebagainya untuk disembah. Jadi ada orang yang percaya bahwa Allah menciptakan semuanya, sekaligus mereka mengambil ciptaan-Nya itu menjadi berhala.

Sekarang kita melihat ayat keempat tentang iman Habel, dikatakan, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain.” Ini sesuatu hal yang berbeda. Bukan lagi berbicara tentang kekaguman pada penciptaan semesta alam ini, tetapi berkaitan dengan kurban. Kapan kurban itu diadakan dan untuk apa? Kita dipacu oleh kasih Roh Kudus untuk mau membuka Alkitab Perjanjian Lama. Bagaimana jika tidak ada Perjanjian Lama, hanya ada Perjanjian Baru dan kitab Ibrani dalam Perjanjian Baru? Pandangan kita akan kosong akan imannya Habel, Henokh atau Nabi Nuh. Oleh sebab itu, jika kita memiliki Alkitab yang lengkap ini, mari kita suka membacanya. Agar ketika kita membaca iman, kita mengetahui bahwa iman itu tidak hanya secara global, tetapi spesifik tentang Habel dan lain-lain.

Henokh juga beriman, tetapi tidak ada kurban. Dia berjalan bersama Tuhan selama 300 tahun, tiba-tiba raib, ia diangkat oleh Tuhan. Selanjutnya iman Abraham, Abraham beriman, ia meninggalkan tempat tinggalnya, ada suatu perjalanan. Habel tidak demikian, dia menetap bersama orangtua dan kakaknya, dia mati di tangan kakaknya sendiri. Abraham, yang karena iman dia berpindah, ini juga mendorong kita, mungkin dapat berpindah tempat pekerjaan atau tempat pelayanan. Kita tidak perlu bingung dan mengeluh. Karena iman Abraham berkenan kepadaAllah, sehingga berkat yang diterima di Mesopotamia tidak menjadi daya tarik yang melebihi imannya kepada Allah yang memanggilnya. Seringkali kitatidak memiliki iman seperti Abraham, kita tidak mau pindah karena merasa sudah nyaman dan berhasil. Abraham akhirnya harus tinggal di tenda selama ratusan tahun. 75 tahun di Mesopotamia begitu senang, termasuk di Haran diperkaya oleh Tuhan. Sekarang harus pindah, tinggal di tenda, tetapi sampai anak cucunya tetapberiman yang sama seperti iman Abraham.

Semua ini sangat menarik dan membuat iman kitabervariasi, sehingga ketika kita menghadapi suatu hal, kita beriman, ketika menghadapi hal yang lain, tetap beriman. Tetapi jika kita tidak mau banyakmembaca dan menelusuri secara utuh, kita pasti bingung. Sebagai contoh, mengapa anak sekolah SD sampai SMP, pendidikannya semakin lama semakin banyak? Mengapa ada bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, matematika dan lainnya? Kita mungkin ingin menyekolahkan anak ke Cina, apabila di Indonesia tidak belajar bahasa Mandarin, akan sangat sulit. Tetapi jika telah dibekali bahasa Mandarin, dia dapat mandiri dan dapat bergaul di sana. Inilah maksud saya agardengan membaca dan menghayatiAlkitab, kita menjadi orang beriman kepada Allah Tritunggal seutuhnya di dalam segala aspek kehidupan kita, sehingga di manapun kita berada di situ Allah ada untuk menopang, membangkitkan dan memelihara iman kita.

Malam ini kita melihat imannya Yusuf. Iman Yusuf berbeda dengan iman Yakub dan yang lainnya. Iman Abraham diakhiri dengan mempersembahkan putra tunggalnya, suatu ujian yang sangat berat. Selanjutnya imanIshak, ia memberi berkat untuk kedua anaknya, Esau dan Yakub. Yakub juga dengan iman memberi berkat kepada kedua anak Yusuf, Manasye dan Efraim. Yusuf tidak menerima berkat dari Yakub ayahnya, tetapi justru memberi berkat.

Ibrani 11:22 Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.

Kita dapat melihat ucapan Yusuf menjelang matinya tentang keluarnya seluruh bangsa Israel, jika Abraham masih secara pribadi dengan Allah dan anaknya, Ishak hanya kepada dua anaknya, Yakub kepada dua cucunya.Jadi iman tidak harus memberkati, ada waktunya dengan iman kita menyampaikan suatu berita. Saya berkhotbah disini juga dengan iman, jika tidak dengan iman hanya omong kosong saja, saya rugi saudara lebih rugi lagi. Yusuf tidak berbicara pada perorangan, dia bicara untuk seluruh orang Israel, mungkin waktu itu belum terlalu banyak, kurang lebih 70 orang, tetapi sudah merupakan suatu keluarga besar cikal bakal dari negara Israel,sekaligus berbicara mengenai tulang belulangnya,ada suatu nubuatan di dalamnya.Karena nanti dalam waktu yang cukup lama, bangsa Israel sangat dimanja di Mesir, hampir tidak ingat tanah leluhurnya, yaitu Kanaan yang Allah janjikan, sehingga Yusuf memberitakan nubuatan yang akan datang, setelah 400 tahun. Kadang kita beriman untuk kesembuhan, itu hanya untuk beberapa orang, iman untuk suatu usaha, kemakmuran, mukzijat.

Kita telahmembahas bersama bahwa Yusuf adalah gambar bayang Yesus, dari kondisi yang enak, anak yang dikasihi kemudian dijual oleh saudara-saudaranya,Yusuf tidak salah tetapi tetap merupakan keturunan orang berdosa. Yesus berbeda, Yesus tidak bersalah, Yesus mati untuk manusia berdosa, Yusuf tidak mati untuk manusia. Itu sebabnya kita harus melihat jangan sampai kebaikan Yusuf menggantikan kebaikan Yesus, ini akan membuat kita melupakan esensi yang sebenarnya, rencana penyelamatan Allah dalam manusia.

Manusia diciptakan begitu sempurna, laki-laki dan perempuan. Ketika manusia melanggar, maka semua yang disebutkan serupa dan segambar Allah menjadi hilang. Tuhan mau memulihkan kembali, maka Allah akan menunjuk manusia yang dilahirkan, bahwa inilah gambar bayang Allah di mana Dia ingin menyelamatkan kembali nikah, keluarga, satu bangsa bahkan seluruh umat manusia. Jika dahulu Allah menyelamatkan bangsa Israel satu macam saja, Yesus akan muncul dalam wujud fisik dari keluarga Israel, Dia datang untuk menyelamatkan dunia.Ayat mengatakan “demikianlah Allah mengasihi isi dunia” Jika dahulu Allah mengasihi bangsa Israel dan berkata : bukan karena kamu banyak, hebat, kamu adalah bangsa terkecil dari bangsa bangsa di sekitarmu, kamu adalah bangsa yang sangat lemah dibanding dengan bangsa bangsa lain yang kuat, tetapi mengapa Aku memilihmu? Karena Aku mencintaimu.

Saat kita membaca“demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu,” iman kita akan bertumbuh, saat kita membaca Alkitab dan Tuhan memberikan pengertian kita akan makin banyak berterimakasih, bukan semakin bosan, semakin hilang arah, tetapi semakin mengerti semakin mengimani, semakin penuh harapan dan semakin mencintai, semakin dewasa, sehingga tanpa diingatkan, kita suka membaca Alkitab, karena sudah jatuh cinta pada Firman Allah,saya dan istri boleh saksikan kepada Saudara dalam segala keterbatasan, kami dari hari ke hari makin digairahkan mencintai firman Allah. Saya mau mendorong saudara sehingga dalam membahasiman Yusuf malam ini, kita lebih dikuatkan. Kita tidak pernah temukan Yusuf mendengar suara Tuhan langsung, tetapi Yusuf pasti dengar nasehat ayahnya yang beriman karena dimulai dengan ayahnya kemudian pengalamannya sendiri, juga iman yang dimiliki Ishak adalah melihat contoh dari orangtuanya.

Waktu saya dan istri mendidik anak kami untuk berdoa Bapa Kami dari mana kami tahu? Karena kami percaya akan tulisan Alkitab, Firman Allah ini, maka iman kami bertumbuh dan kami mengajarkan kepada anak anak kami, selanjutnya anak anak kami ikut berdoa Bapa Kami. Anak-anak kami mendengar tentang Yesus, Abraham, Ishak, dan banyak tokoh iman lainnya dari kami. Saya percaya anak kami, baik Ham, Ivan dan Sony tidak ada yang mengatakan saya bertemu Yesus dalam mimpi, saya berjumpa Yesus di jalan, tetapi mereka beriman oleh karena kami suami istri memberi contoh iman kepada mereka, mendidik mereka dengan pengajaran Firman Allah.

Itu sebabnya Efesus6 mengatakan “hai bapak-bapak jangan menyakiti hati anak-anakmu tetapi didiklah mereka dan peliharalah mereka didalam kebenaran Firman Allah”, Kebenaran Firman Allah artinya Firman itu pribadi Allah, Firman menjadi manusia, Firman itu telah tertulis dalam bentuk Alkitab, diilhami oleh Roh Allah, maka ini yang kita sajikan, yang kita bicarakan, ada masalah maupun belum ada masalah dibicarakan, apalagi jika sedang ada masalah, lebih banyak berbicara tentang Firman bukan emosi kita.

Seringkali justru waktu ada masalah, Alkitab ditutup yang muncul adalah filosofi manusia, budaya kita, ego kita, perbedaan budaya antara suami istri, sehingga persoalan anak membuat suami istri ribut, karena istri mempunyai karakter sendiri, suamimempunyai cara sendiri, Alkitab diabaikan, Roh Kudus diabaikan maka anak terdidik tanpa iman. Anak akan tumbuh dengan kedongkolan, kekecewaan dan segala ketidaksenangan terhadap orangua. Sehingga anak anak suka bersembunyi di dalam kamar, tidak suka berkomunikasi dengan orangtua, lebih suka berkomunikasi dengan dunia maya, di situlah kita hancur, iman rusak. Mengapa Yusuf yang tidak pernah mendengar suara Tuhan tetapi bisa mengimani perintah Tuhan? karena orangtuanya mendidiknya.

Malam ini kitame-review kembali bahwa Yusuf adalah gambar bayang Yesus, kita bisa melihat keluarga yang takut akan Tuhan, itu sangat penting sekali ;

Kejadian 37:2-4 Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun--jadi masih muda--biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.

Dituliskan, “inilah keturunan Yakub,”di sini Yusuf dimunculkan, yang beriman pada Allah dari ayahnya. Surat Galatia mengatakan, “seseorang yang beriman seperti Abraham, maka ia dihisap menjadi keturunan Abraham.”Roma 4 berkata, “jadi Abraham dijadikan bapak orang percaya yang tidak bersunat tetapi sekaligus Abraham juga menjadi bapak dari orang yang bersunat.” Bapa Abraham dibenarkan sewaktu dia belum disunat. Dia disebutkan sebagai bapa orang percaya yang tidak disunat maupun yang disunat – itulah bangsa Israel. Yusuf pasti mendengar dari ayahnya, ayahnya mendengar dari kakeknya dan kakeknya mendengar dari kakek buyutnya dan seterusnya.

Kita tahu baik Yakub ataupun Ishak ataupun Abraham pekerjaannya menggembala. Kita bisa menemukan ciri-ciri seorang gembala secara fisik, yang ada dalam Perjanjian Lama. Kadang kita menyebutkan bahwa Yesus adalah gembala agung kita. Kita tidak tahu bagaimana jerih payah dan cintanya seorang gembala kepada domba-dombanya, jika ada satu yang hilang, maka yang lain ditinggalkan dan mencarinya dengan sungguh-sungguh. Itu adalah tabiat dari seorang gembala yang menyayangi domba-dombanya. Yesus tidak sembarang mengatakan, “Akulah gembala yang baik, gembala yang baik menyayangi domba-dombanya,” itu bukan omong kosong dan rekayasa. Daud sejak kecil sudah menggembala domba, demikian pula Yusuf sehingga menjadi ciri khusus dari keluarga ini, yaitu pekerjaannya sebagai gembala.

Di sini kita dapat melihat contoh-contoh positif sekaligus contoh-contoh negatif dari orangtua. Kadang tanpa disadari sewaktu orangtua berbicara, anak memperhatikan, jangan dipikir anak tidak mengerti bahasa kita. Kapan kita mengajar itu? siapa guru yang mengajar anak untuk mengerti bahasa kita? Pernahkan anak saudara yang berumur satu tahun atau satu bulan atau mulai lahir diajari bahasa oleh guru? tidak ada! Bahasa yang diberikan ayah dan ibu adalah bahasa cinta dari ibunya dan bahasa sayang dari ayahnya. Sekaligus juga bahasa dongkol dari ayah dan ibu, bahasa bohong juga ada pada ayah dan ibu. Semuanya ditampung oleh anak yang kita anggap belum mengerti bahasa Indonesia, belum mengerti bahasa Batak, belum mengerti bahasa Jawa, jangan berpikiran seperti itu. Tidak perlu kita mencari guru bahasa Inggris, guru bahasa Mandarin. Jika saudara berbahasa Mandarin, maka bahasamu itu bisa dimengerti oleh anak.

            Jika kita mencoba menghitung, berapa banyak pendidikan yang diterima di sekolah dan berapa banyak kita mendidik di rumah. Sekarang anak mulai sekolah umur 2 tahun, ia belajar di sekolah setiap hari mulai pagi, supaya mengurangi repotnya ayah dan ibu yang mencari uang, sekarang tidak repot, tetapi nanti akan repot, karena apa yang dididik oleh sekolah, jiwanya sekolah masuk ke dalam anak, bukan jiwanya orang tua. Jika sekolahnya tidak beriman, gurunya tidak beriman dan kita membiarkan anak-anak dididik disitu sementara kebaktian sekolah Minggu hanya seminggu sekali dan hanya 1 jam, mereka dididik tanpa iman puluhan jam dalam 1 minggu, mau jadi apa anak kita kemudian?

Waktu saya membaca ini, saya katakan, “Tuhan tolong kami, supaya kita tidak sekadar membaca, kita mempunyai anak, cucu”. Kita tidak bisa mengawasi mereka setiap waktu, tetapi kita mempunyai Roh Tuhan, kita mempunyai Tuhan yang mencintai anak-anak. Karena itu kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, tidak bisa hanya mengatakan, “Tuhan tolong jaga anak saya,” sementara kita tidak mempunyai jiwa untuk mencintai anak, Tuhan dijadikan jongos atau babysitter, sedangkan kita menjadi tuan rumah yang mencari uang saja. Saya yakin jika kita minta Tuhan menjaga anak kita, kita lebih dulu harus mencintai anak kita. Tuhan katakan, “memang Paulus Budiono dan istrinya cinta anaknya, tetapi karena dia pelayanan, tidak mungkin bisa meninggalkan, Aku jaga” Tetapi jika saya hanya mau seenaknya saja dan mau lepas tanggungjawab maka saya sedang memberikan bahaya kepada anak saya pada masa mendatang.

Yusuf tidak mendengar langsung suara kakek buyutnya, Abraham, tetapi dia mendengar tentang cerita tentang Abraham. Mungkin step by step, tidak langsung bertemu Abraham, tetapi iman Yakub mencerminkan imannya Ishak, iman Ishak mencerminkan imannya Abraham, ini turun terus. Bersyukur Tuhan mencatat riwayat Yusuf, ditulis sejak masih berusia 17 tahun, dia sudah biasa menggembalakan kambing domba.

Terimakasih pada Tuhan yang mendidik kami suami istri untuk menggembalakan saudara. Kita perhatikan bukan Yusuf sendiri yang menjadi gembala, karena masih kecil. Saat berusia 1 tahun sampai 6 tahun dia masih berada di padang Haran, itu langsung. Tetapi setelah itu dia belajar mandiri, sampai umur 17 tahun, dia sudah terbiasa dan memiliki satu karakter yang indah, karakter yang diperkenan Allah. Terbiasa berkarakter baik sebab orangtuanya juga terbiasa baik, terbiasa mengendalikan diri, terbiasa untuk melindungi jika domba-dombanya diserang musuh, binatang buas. Karakter yang indah ini harus dipupuk oleh sebab imam. Karena Abraham beriman kepada Allah maka hidupnya ditolong, nikahnya dilindungi, pekerjaannya dipelihara Tuhan dan seterusnya sampai Ishak dan semuanya.

Jadi karakter itu bertumbuh bersama anak dan kita orang tua juga bertumbuh, semakin tua semakin bijaksana, kata Elihu ketika melihat 3 temannya tidak bisa menjawab Ayub, ia coba berbicara, “maafkan saya masih muda karena itu saya tidak mau tiba-tiba muncul di antara kalian yang lebih tua, saya tunggu saya dengar.” Seyogyanya orang semakin tua semakin bijaksana, semakin tua semakin memberikan arahan, pandangan dan pengarahan yang indah, itu kata Elihu kepada Ayub yang sedang dongkol karena dinasihati anak muda. Disini dikatakan bahwa karakter itu sudah turun temurun. Waktu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, yang pertamaterlihat akibatnyaadalah anak sulungnya, Kain membunuh. Waktu Adam menjelekkan isterinya, dia tidak mengerti nanti akan mempunyai anak dan anaknya sudah tidak senang kepada adiknya.

Waktu Allah memilih Abraham, Allah konsekuen mendidik Abraham, mulai dari Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sara. Itu dilihat oleh Ishak dan Yakub, kemudian diceritakannya kepada Yusuf. Yusuf terbiasa menggembalakan kambing domba, tetapi tidak one man show dikatakan bersama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa.

Rahel merasa jengkel karena tidak memiliki anak, maka dia memberikan budak wanitanya menjadi selir Yakub dan melahirkan anak diberi nama Dan, ada lagi yang bernama Naftali, yang berarti bertengkar. Jadi nama-nama itu menunjukkan tabiat orang tuanya. Rahel bangga waktu mendapatnya, dia katakan, “Naftali, karena aku bertengkar dengan kakakku, saya menang.”Kelahiran merupakan suatu komunikasi indah dari suatu nikah, tetapi disini komunikasi kejengkelan, ketidaksenangan, iri hati dari Rahel. Ini menjadi gambaran buat kita jangan sampai buah nikah kita hasil dari pertengkaran, kedongkolan. Harus ada kasih yang dibuahi. Sebenarnya Yusuf merupakan hasil cinta Yakub kepada Rahel. Pada masa tuanya dia mendapatkan Yusuf

Jika tabiat suka berkelahi dilihat oleh Yusuf, maka Yusuf bisa ikut berbuat yang jahat. Yusuf sejak kecil sudah dididik apa itu kebaikan dan apa itu kejahatan sehingga dari kecil ia sudah menyampaikan kejahatan saudara-saudaranya kepada ayahnya.Syukur, Yusuf sejak muda terbiasa menggembalakan, sementara kakak-kakaknya menggembalakan karena kewajiban sehingga mereka banyak melakukan kejahatan. Dengan mudahnya mereka mengambil seekor domba, darahnya dipercikkan pada pakaian Yusuf lalu dibawa pulang dan mendustai ayahnya dikabarkan Yusuf mati.

Ketika manusia makan buah kebaikan dan kejahatan, maka sampai kapanpun juga manusia diperhadapkan dua hal, jahat dan benar. Jika ada masalah, mencari kambing hitam, itu tabiat manusia. Tidak ada yang meminta Tuhan untuk menyelesaikan. Rasul Paulus berkata,‘aku tahu sesuatu yang baik tetapi begitu aku mau berbuat baik, muncul di dalam diriku, hatiku yang jahat. Akhirnya aku dikalahkan oleh yang jahat. Aku berbuat yang jahat’. Itu pengalaman Rasul Paulus.

Saya percaya anak-anak Bilha, Zilpa, dan yang lain tidak mau sengaja berbuat yang tidak baik, tetapi jika sudah sekali berbuat yang tidak baik(jahat), itu akan berulang terus. Rasul Paulus sampai mengeluh mengatakan dia manusia celaka, siapa yang bisa melepaskannya dari tubuh maut. Mulai dari Bilha, anak-anaknya, sampai Paulus, tabiat ini tetap ada. Ingin berbuat baik, tetapi yang jahat muncul sampai membohongi ayahnya dan semua orang. Hanya satu yang bisa menolong kita untuk tidak kompromi dengan kejahatan dan tetap hidup dalam kebenaran, yaitu Yesus. Kadang kita masih kompromi dengan yang tidak baik, tetapi Yesus bisa menolong kita.

Saudara-saudaranya semakin tidak senang kepada Yusuf bukan saja karena kejahatan mereka diungkapkan, tapi karena cinta orangtuanya. Dalam pandangan mereka, Yakub sepertinya lebih mengasihi Yusuf. Penilaian manusia sangat subyektif, jika kita tidak betul-betul beriman kepada Firman Tuhan, seringkali terjebak dengan penilaian yang subyektif, terutama jika melihat orang lain lebih diberkati, lebih dipakai untuk menunjukkan kejahatan. Karena kesucian hidupnya Yusuf diberkati, maka saudara-saudaranya merasa dibayang-banyangi hukuman ayahnya karena kejahatannya diketahui. Yusuf mendapatkan pakaian yang paling indah, maka saudara-saudaranya tidak mau menyapadengan ramah. Itu tanda iri hati. Orang yang beriman jangan iri hati. Itu akan berlanjut pada puluhan tahun kemudian. Tabiatnya tidak berkurang tetapi semakin bertambah.

Waktu Yusuf memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya, setelah sekian puluh tahun tidak bertemu,Yusuf sudah mahir bahasa Mesir. Yusuf mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah rencana Tuhan, lalu mereka diberi berkat untuk pulang, membawa ayahnya dan semuanya pindah ke Mesir. Selanjutnya Yusuf berpesan, “Jangan berkelahi di tengah jalan”. Ini sifat yang tidak hilang, sejak saat menggembalakan sudah tidak senang satu dengan yang lain. Orang beriman tidak harus bersaing. Karena pekerjaan Tuhan bukan pekerjaan saingan. Pekerjaan Tuhan adalah memberitakan kebenaran Firman Allah. Hati-hati, di mimbar yang kita bicarakan bukan iman, tetapi iman ditambah kepahitan. Kita harus menyatakan iman kepada Firman Kristus yang dapat merubah kita. Ada kelompok tertentu yang mengatakan kita tidak satu pengajaran karena pengajaran Paulus Budiono sesat, karena itu tidak mau bersalaman, jangan terpovokasi atau kita sendiri juga ada sentimen.

Sampai sekian lama, Yususf masih ingat tabiat saudara-saudaranya, maka ia berpesan,‘Jangan berkelahi di tengah jalan’ karena Benyamin mendapat lima kali lebih banyak, yang lain menurut urutan umurnya. Yusuf sangat tahu kakak-kakaknya suka berkelahi, suka iri hati. Yusuf pribadi yang polos, tidak pandaiberbicara, tetapi pandai bekerja.Tuhan melihat Yusuf mempunyai iman. Dan imannya itu dibina dari kecil, dari orangtuanya (Yakub) yang sudah diperbaiki. Jika Yakub belum diperbaiki, maka Yusuf akan menjadi Yakub kedua yang lebih licik lagi. Puji Tuhan, Yakub dirubah seratus persen, menjadi pincang seumur hidup. Maka dia mendidik anaknya.

Kejadian 37:5-11Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.Karena katanya kepada mereka: "Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini:Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu."Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?" Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu.Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku."Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?"Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.

            Cerita ini tidak bisa dicegah, sudah terjadi dan diceritakan olehYusuf dengan polos. Apakah dia tahu bahwa mimpinya berasal dari Tuhan? Saya katakan ya, karena ayahnya pernah bermimpi. Ayahnya pasti bercerita sekalipun mimpinya berbeda.Ada dua pegawai raja berbuat salah dan dimasukkan dalam tahanan khusus. Yang satu adalah pegawai makanan, dan satunya adalah pegawai perjamuan atau anggur. Kata Yusuf, itu mimpi dari Tuhan dan iamenjelaskannya. Waktu Yusuf dikeluarkan dari penjara dan bertemu raja Firaun, diulangi pernyataan itu: “Bukan saya tetapi Tuhan.”

            Sekali lagi, Yusuf tidak pernah bertemu Tuhantetapi ia tahu karena iman. Malam hari ini kita mau lebih mengimani walaupun ada konsekuensi yang akan kita terima. Bagi Yusuf yang masih polos, tidak mudah dihadapkan dengan saudara-saudaranya yang lebih berpengalaman. Tetapi lewat cerita ini, kita bisa melihat mengapa saudara-saudaranya tidak senang, yaitu persoalan harga diri, tinggi rendahnya suatu jabatan. Jika di dalam gereja Tuhan ada persaingan siapa yang lebih besar, gembala senior, junior, penatua lebih tua, masih muda, kemudian saingan, akibatnya sungguh mengerikan, kebencian dan iri hati yang semakin meningkat. Mimpi Yusuf ada dua kali dan dengan polos ia menjelaskan bahwa ada 11 ikatan gandum dan 11 bintang yang sujud dan tunduk kepada ikatan gandum Yusuf dan kepada Yusuf sendiri,bahkan matahari dan bulan tunduk kepadanya.Dari awal kakak-kakaknya sudah tidak senang, maka akan terus tidak senang. Biarpun itu benar, tetap tidak disenangi.

Kita melihat bagaimana Yesus di bumi, Dia mengatakan, “Akulah Roti Hidup.” Yesus katakan nanti waktu sangkakala berbunyi, Anak Manusia akan menjadi Raja. Ada kesamaan antara Yesus dan Yusuf sama-sama dibenci. Yusuf mengalami kondisi yang tidak enak sampai titik terendah. Yesus juga begitu.Yohanes 6 Yesus memecahkan lima ketul roti dan mengenyangkan ribuan orang, mereka katakan, “Inilah nabi yang kita tunggu, inilah raja!” Persoalan gandum, makanan, pemeliharaan sama seperti yang dialami Yusuf di Mesir.

            Kita mau belajar, bahwa tanpa iman, tidak ada orang yang berkenan di hadapan Allah. Yang datang kepada Allah harus beriman bahwa Allah memberkati orang yang mencari Dia. Yusuf diperkenan, maka Tuhan memberikan mimpi tetapi kakak-kakaknya tidak diperkenan, sehingga mereka semakin menjauhi Yusuf, ada dua saudaranya yang menyadarinya, itulah Yehuda dan Ruben, yang lain tetap keras hati.

Yesus adalah Roti Kehidupan, “Akulah Roti dari surga.” Bukan sekadar manna, kata Yohanes 6, karena perkataan ini membuat banyak orang Yahudi, murid-Nya, meninggalkan Yesus. Oleh sebab mimpinya Yusuf makin dibenci saudara-saudaranya. Saudara boleh bayangkan, jika anak dididik untuk membenci pamannya. Tanpa sadar kita suka mempengaruhi anak kita, anggota keluarga kita karena kita tidak senang akan kebenaran. Kita harus dipengaruhi oleh kebenaran yang menyucikan supaya dapat mempengaruhi anak-anak kita, “Anakku, jangan membenci dia tetapi bencilah terhadap kejahatan!” Tujuannya membawa kepada iman. Seringkali tanpa sadar kita lampiaskan segala ketidaksenangan kita akan seseorang kepada anak-anak sehingga ketidaksenangan itu semakin betambah.

Yakub juga marah mendengar mimpi Yususf,tetapi indahnya, Alkitab mengatakan Yakub menaruh semua itu dalam hatinya. Mengapa? Ayahnya beriman sedangkan saudara-saudaranya tidak beriman. Yakub merupakan orang yang lebih tua, lebih senior harus menjadi contoh. Ayahnya juga menegur, Ibrani mengatakan ayah di bumi kita hormati karena bisa memberikan pandangan-pandangan sebatas apa yang dianggapnya baik. Dalam hal ini Yakub sempat emosi, orangtua juga bisa emosi, ayah yang beriman bisa berbuat salah dan salah tafsir, “Mimpi apa mimpimu itu?” Sepertinya Yakub membela anak-anak yang lain, tampaklah rasa gengsinya, “Masakan aku dan ibumu, saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” Itu memicu iri hati saudara-saudaranya. Karena ayahnya marah, anak-anaknya seperti mendapat kekuatan, dukungan, “Ya, ayah betul, adik salah”. Maka tidak salah jika aku iri hati, benci dia. Tidak salah jika aku tidak mau firman pengajaran. Di sini ada kalimat selanjutnya, “Tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.” Tuhan ijinkan ayahnya dalam masa tuanya bertemu Yusuf dan sujud bersama adik-adiknya. Apakah salah?

Jika Tuhan sudah mengangkat seseorang, kita yang senior harus tunduk, apa salahnya? Yesus akhirnya dipuja-puji, apa salahnya? Tetapi orang Yahudi sampai hari ini tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias. Apa yang kita pelajari hari ini adalah suatu nubuatan yang luar biasa agar kita melihat pertolongan Tuhan. Ada kesempatan memperbaiki kesalahan yang merugikan diri sendiri maupun nikah rumah tangga. Pada akhirnya saudara-saudara Yusuf yang membencinya makan gandum dari Yusuf. Apakah tidak malu? Tetapi Yusuf katakan, “Tidak perlu malu, Bukan kamu yang menjual aku, Tuhan yang berbuat itu.” Yesus juga tidak menyalahkan siapapun. Selanjutnya, benar setelah tujuh belas tahun kemudian baru muncul kondisi itu. Saudara bisa bayangkan jikadalam waktu tujuh belas tahun tetap tidak berubah, betapa kerasnya hati kita. Jika saya tidak mendapat firman iman ini, saya akan lebih keras dari hari ke hari.

Sebagai manusia, apakah bisa kesal terhadap isteri? Bisa. Bisa kurang sabar? Bisa. Dan itu pasti membuat goresan-goresan dalam hati, jika tidak disembuhkan oleh bilur Yesus,luka itu akan bertambah parah. Pengalaman saya ketika ada sedikit luka di jari yang tak kunjung sembuhakan mengganggu kerja saya.Saya harus sembuhkan supaya bisa bekerja lebih leluasa. Darah Yesus akan menyucikan kita.

Gandum sorgawi adalah roti hidup buat kita, Tuhan katakan, “Akulah Roti Hidup. Daging-Ku dan darah-Ku adalah makanan dan minuman yang sungguh-sungguh, bukan untuk kesembuhan fisik tetapi kesembuhan jiwa”. Oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan. Pada malam hari ini kisah iman Yusuf akan membuat saya dan Saudara bertambah iman. Kita mau membaca dan merenungkanlebih jauh di rumah dan melanjutkannya pada waktu yang akan datang.

Amin.