Pendalaman Alkitab Kitab KEJADIAN

Jumat, 14 Oktober 2016

Pdt. Paulus Budiono

 

           Shalom.

Malam ini kita kembali akan berada di zaman tidak ada Alkitab, tidak ada sekolah, tidak ada peraturan, bagi keluarga Yakub tetapi ada hati nurani. Beberapa Jumat yang lalu saya menyampaikan bahwa Raja Firaun bisa menilai dan mengaku pemuda Yusuf yang berumur 30 tahun, ada Roh Allah. Saya berterima kasih kepada Pdt. Yusak yang sudah meneruskan PA kita. Saya juga telah menerima dan menikmati apa yang beliau uraikan dalam pasal 37.

Zaman kita sekarang, sangat beken tentang Roh Kudus bahkan tanpa sadar kita meremehkan karya Roh Kudus. Tetapi dari mulut seorang pemerintahan, Raja Firaun yang tidak kenal Allah, bisa mengatakan bahwa Yusuf ada Roh Kudus. Hal ini dicatat oleh Musa yang tentunya dalam urapan Roh Kudus. Kitapun bisa melihat betapa ajaibnya peryertaan Tuhan kepada Yusuf, mulai dari lahir sampai umur 110 tahun, saya yakin Yusuf disertai Roh Allah. Kitapun harus yakin bahwa Alkitab ini juga ditulis bagi kita. Malam ini kita memposisikan diri seperti Yusuf. Kitab-kitab yang lain bisa menjadi referensi untuk kita mengagumi tentang karya Roh Kudus di dalam Yusuf yang sederhana, tetapi dipakai Tuhan.

Tuhan menyertai Yusuf mulai dari rumah tangga, kemudian di rumah Potifar, berlanjut di dalam penjara, lalu di dalam istana Firaun menjadi perdana menteri seumur hidup. Ini adalah perjalan hidup Yusuf dan saya yakin Yusuf disertai Tuhan sejak dalam kandungan ibunya, ada ayat mengatakan, “Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya. Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang anak laki-laki.” Sejak lahir sampai berumur 17 tahun, Yusuf berada dalam rumah orang tuanya. Pekerjaannya adalah menggembalakan domba-domba ayahnya bersama kakak-kakaknya.

Kita harus bersyukur karena sekarang kita memiliki Alkitab yang begitu lengkap. Kita bisa menemukan kasus ini dan apa penyebabnya. Kitapun menemukan jawaban di dalam ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi pada zaman Yusuf tidak ada apa-apa, yang ada hanya hati nurani. Pada malam ini kita berposisi hanya ada hati nurani. Bagaimana kita menghadapi kasus ini? Selama 17 tahun Yusuf berada dalam rumah orang tuanya. Kemudian berada di bangsa kafir, negeri yang lain, bukan lagi sebagai anak yang disayangi. Tetapi kita melihat penyertaan Tuhan itu nyata.

Mengapa kita kembali mempelajari kisah Yusuf? Sedangkan kita mengetahui bahwa dari permulaan kita mempelajari rencara Allah menciptakan Adam dan Hawa agar berkembangbiak, tetapi telah dirusak oleh Adam dan Hawa sendiri. Lalu Tuhan berjanji bahwa dari benih perempuan akan menghancurkan kepala ular dan ular akan melukai tumit keturunan wanita. Kita telah melihat bahwa dalam perjalanan selalu ada pasang surut, dalam kehidupan Adam dan Hawa, serta keturunannya, Allah terus memilih. Dan kita sampai pada pilihan Allah kepada Abram, Tuhan menyatakan tentang keturunan. Keturunan dari Abram adalah Ishak. Dari Ishak, lahir kembar, dua anak laki-laki, Tuhan memilih Yakub dan diubah menjadi Israel. Di situ Tuhan tetap ingin sampai pada tujuan penyelamatan seluruh umat ciptaan-Nya melalui benih wanita. Oleh karena itu, jika kita kembali pada kitab Kejadian maksudnya supaya kita dapat melihat rencana Allah yang tidak pernah gagal. Memang ada oknum yang selalu ingin menggagalkan sejak semula dari taman Eden dan seterusnya, tetapi Tuhan tetap pelihara.

Jika kita membaca kitab Kejadian pasal 30 sampai 50, hampir tidak pernah ditemukan kekeliruan Yusuf, tetapi mengapa Tuhan tidak memilih Yusuf menjadi jalur keturunan untuk menggenapi rencana Tuhan dalam pribadi Yesus? Memang rencana Tuhan di luar pemikiran manusia. Ruben sudah jatuh dalam perselingkuhan dengan ibu tirinya, Simeon dan Lewi berbuat sangat kejam, Yehudapun bermasalah, tetapi Tuhan pilih Yehuda, mengapa Yehuda yang dipilih? Jika Saudara bertanya kepada saya, saya tidak bisa menjawab. Saya hanya mengajak Saudara untuk mengagumi Alkitab, firman Allah ini, bahkan sampai persoalan Roh Kudus, kita tinggal menikmati. Satu perkara yang saya tekankan adalah Roh Kudus sudah menyertai Yusuf, jauh sebelum Firaun mengakuinya, sehingga keberhasilan demi keberhasilan selalu beserta Yusuf. Jika nanti kita menghadapi kesulitan, kita dapat belajar seperti Yusuf, penyertaan Tuhan, memberikan pembuktian yang nyata bahwa dia berhasil.

Kejadian 41:37 - 39 Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.

Kita bisa melihat penyertaan Allah ada dalam kehidupan Yusuf. Ketika di penjara, Tuhan besertanya di penjara. Sebelumnya saat di rumah Potifar, Tuhan besertanya di sana dan saat Yusuf menghadap Firaun di istana Tuhan beserta, Roh Kudus ada. Bahkan sebelumnya waktu dia berumur 17 tahun dan sebelumnya lagi Tuhan selalu menyertai. Karena itu jika saya membaca ini, saya berterimakasih pada Tuhan karena adanya Alkitab ini, terutama Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengatakan : “Aku akan mengutus Roh penghibur itulah Roh kebenaran, itulah Roh Kudus menyertai kamu selamanya. Bayangkan jika kita disertai seperti ini, apakah ada hal-hal yang membuat kita gagal? Apakah Allah meberi perlakuan berbeda pada Yusuf sehingga ia selalu berhasil sementara kepada kita hanya sedikit berhasil? Tidak! Karena Allah bukan Allah yang plin plan, Dia konsekuen dengan perkataan-Nya, Roh Kudus adalah Allah sendiri. Saat itu Roh Kudus ada dalam kehidupan Yusuf, itu berarti Allah sendiri, Allah Tritunggal menyertai dan Yesus juga berjanji Bapa akan datang pada mereka yang mencintai Aku, yang mentaati firman-Ku (Yohanes 14).

Yusuf selalu berhasil sebab Tuhan menyertainya. Kita akan melihat bagaimana hati nurani Yusuf, hati nurani adalah pemberian Tuhan. Hati nurani Yusuf dari awal pertama dalam rumah orangtuanya sudah takut akan Tuhan, dia selalu menyenangkan Tuhan. Saya mau belajar bersama saudara, karena Alkitab mengatakan jangan mendukacitakan Roh Kudus. Yusuf dalam pandangan dan penelitian saya tidak pernah mendukacitakan Roh Allah. Rasul Paulus mengatakan pada sidang jemaat Efesus, jangan mendukacitakan Roh Kudus itu berarti sidang jemaat Efesus bisa dan bahkan ada tanda-tanda menduka citakan Roh Kudus dengan tanpa sadar mengeluarkan kata-kata kotor, melemahkan iman orang lain, keluarga, dan lain sebagainya. Kita membaca :

Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

‘Di mana perlu’ itu artinya luas, jika di gereja saudara pasti tidak berani berbicara kotor untuk memaki-maki orang lain, di sini dikatakan, di mana perlu, Yusuf diperlukan dipenjara, Yusuf di perlukan di ladang Potifar, Yusuf diperlukan di rumah tangga Potifar, Yusuf diperlukan di pemerintahan Mesir, Yusuf diperlukan oleh keluarga besar Yakub, dan bahkan yang lain-lainnya. Kita bisa melihat pada waktu itu hanya mengandalkan hati nurani, tidak mengerti ketebusan, tidak mengerti adanya Yesus yang kemudian lahir dari keturunan orangtuanya Yakub dan seterusnya. Dia bisa berkata yang bijaksana dan begitu tepat oleh karena Roh Allah dan hati nuraninya ada kontak. Di dalam Perjanjian Baru kita lebih jelas melihat, Yesus telah berkorban untuk kita dan kita terima pengampunan-Nya, pelepasan-Nya, penebusan-Nya. Roh Kudus diberikan, dimeteraikan kepada kita, kita dibaptis oleh Roh Kudus, dipenuhi oleh Roh Kudus dan Roh Kudus itu Allah sendiri yang ingin tinggal bersama kita untuk membimbing kita, memberikan kita hikmat, untuk membawa kita masuk ke dalam seluruh kebenaran-Nya.

Firman Allah itu adalah hikmat, tetapi jika kita tidak membaca secara keseluruhan, hanya ambil sini ambil sana, seringkali akan keliru dalam penafsiran. Pada waktu-waktu yang lalu beruntung Tuhan berkemurahan dalam kebodohan saya, mencintai sidang jemaat di Irian maupun di Medan, jika saya meneliti kembali, saya mohon ampun pada Tuhan. Tuhan memakai Yusuf tidak hanya 17 tahun di rumahnya, yang masih dalam kondisi baik dan mudah sebab selalu bertemu kakak-kakaknya, ayahnya, ibunya dan ibu-ibu yang lainnya, sudah biasa, lebih mudah untuk bertutur kata. Kita di gereja selalu bertemu para penatua, staf STTIA, full timer, biasanya lebih mudah untuk mengendalikan diri, tetapi jika di luar apalagi dalam kondisi Yusuf menjadi budak, bagaimana sikap kita? Saya menerima berkat dari Tuhan dalam perenungan ini, supaya kita belajar di mana perlu, ini harus selalu diingat. Yusuf 17 tahun berada di rumah, 83 tahun di luar rumah, putus hubungan dengan ayah dan kakak-kakaknya, bahkan selama 80 tahun lebih ayahnya menganggap dia sudah mati.

Saya ingin tekankan di dalam hati saya dan saudara supaya pada waktu membaca kitab Kejadian kita bersyukur ada Roh Kudus yang adalah Roh Allah. Dari awal Kejadian Roh Allah melayang-layang di samudera raya kemudian Allah berfirman jadilah terang maka muncullah terang itulah hari pertama dan seterusnya, dari semula Roh Kudus sudah bekerja sehingga membuat segala sesuatu yang tidak berbentuk, kelam, gelap, menakutkan mejadi baik. Jika kita mengerti ini betapa luar biasanya hari ini, Gereja Tuhan mendapat janji dari Yesus, barang siapa mencintai Aku, dia akan menuruti perkataan-Ku, maka Aku akan meminta Bapa untuk memberikan Roh Penolong parakletos. Kita syukuri itu, kita terima Roh Kudus bukan otomatis bisa berbahasa baik baik, kecuali bahasa lidah.

Orang berbahasa lidah ada 3 hal :

  1. Pada Kisah Rasul 2, berbagai-bagai bahasa. Ada seorang pendeta Protestan, di rumah dia berdoa untuk saudaranya yang trouble maker sedang sakit, saudaranya itu selalu menjadi ganjalan buat pendeta ini. Saat dia berdoa, dia menjadi bingung dan bertanya, mengapa saya berbicara seperti bahasa Mandarin, cukup lama dia berdoa dalam bahasa roh, dia menerima Roh Kudus, setelah itu dia pergi untuk mendoakan, Tuhan sembuhkan. Itu baik, berbagai bahasa untuk menyatakan kebesaran Allah. Jadi Roh Kudus pertama tama membuka mulut saya dan saudara untuk menceritakan kebesaran Allah, bukan bahasa lidah menjadikan kita sombong, “Kamu tidak bisa bahasa lidah, kamu belum terima Roh Kudus, aku sudah, maka hanya yang bisa bahasa lidah boleh melayani, tidak demikian! Yusuf tidak berbahasa lidah tetapi Tuhan pakai luar biasa, apakah berbahasa lidah itu salah? tidak, saya tetap berbahasa lidah tetapi saya tidak boleh sembarangan berbicara.
  2. Terima Roh Kudus artinya bisa berbahasa untuk memuji, suka menyanyi memuliakan Tuhan, bibir mulutnya tidak ada lagi sumpah serapah, omelan dan menjelekkan orang lain, karena ada Roh Kudus yang mengendalikan lidahnya untuk memuliakan Tuhan.
  3. Waktu Jemaat Efesus dipenuhi Roh Kudus mereka berbahasa lidah dan bernubuat. Bernubuat itu menghibur, membangun dan memberikan nasehat. Tuhan ingin memakai bibir kita seperti Yusuf, waktu membaca ini saya sangat bersyukur, kita membaca :

Efesus 4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

Roh Kudus untuk kita menantikan Tuhan datang, jika sampai orang ada Roh Kudus tetapi tidak pernah berbicara Tuhan akan datang, tidak pernah sungguh-sungguh, saya khawatir itu bukan Roh Kudus tetapi roh yng lain, karena Roh Kudus tidak mungkin tidak menggerakkan hati kita untuk menantikan Yesus datang kembali karena Roh Kudus memuliakan Yesus. Yesus sendiri yakin bahwa Roh Kudus memuliakan Aku, dalam injil Yohanes pasal 14 dan 16, dikatakan supaya semua kebencian, kejahatan dibuang dalam kaitan kurban Kristus. Yang pertama jangan mendukacitakan Roh Kudus, yang kedua jangan memadamkan Roh Kudus. Kita membaca :

1 Tesalonika 5:15-19 Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Janganlah padamkan Roh.

Yusuf tidak dendam pada saudaranya, selanjutnya jangan mendukacitakan, itu dari perkataan, jangan memadamkan roh itu dari hati. Saya pernah alami karena itu saya berterima kasih jika masih bisa membaca ini, jika Tuhan tidak sayang saya mungkin saya sudah menghujat Roh Kudus, celaka itu, teruskan membaca :

1 Tesalonika 5 :20-23 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Jika Roh Kudus memenuhkan dan memimpin kita, maka kata-kata kita pasti baik. Kita mau untuk terus belajar, saya harus katakan bahwa saya masih kurang, karena saya banyak terganggu perasaan. Siapa yang bisa mengendalikan perasaan saya? Roh Kudus! Dan jangan meremehkan nubuatan, berarti firman Allah. Roh Kudus, firman Allah dan Allah Bapa akan menyempurnakan tubuh, roh dan jiwa kita.

Seringkali kita berbicara tentang kesempurnaan tetapi tidak menghargai Allah Tritunggal. Seberapa banyak saya memendam dan memadamkan gerakan Roh Kudus? Hanya saya sendiri yang tahu, istri sayapun tidak tahu. Saya harus mencocokkan dengan firman Allah, karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan firman Allah. Jika saya memadamkan sesuatu yang tertulis di dalam Alkitab untuk saya lakukan tetapi tidak saya lakukan, maka itu pertanda saya sedang memadamkan Roh Kudus. Jika saya sudah memadamkan Roh Kudus maka setiap nubuatan firman Allah akan saya abaikan. Jika itu terjadi maka ayat lebih lanjut tidak menjadi bagian saya, karena Allah yang setia akan menyucikan dan menguduskan dengan sempurna roh jiwa dan tubuh saya - itu tidak terjadi.

Saya boleh gembar-gembor di sini sebagai gembala tetapi jangan sampai terjadi saat Tuhan datang, Dia berkata,“Saya tidak kenal kamu.” Bagaimana Tuhan bisa mengenal saya jika hati saya tidak ada Roh Kudus yang menjadi kesaksian? Roh Kudus sudah dipadamkan dan didukacitakan, bahkan mungkin sudah menghujat, mengerikan sekali. Waktu saya mengatakan,“Ya Abba Ya Bapa” dalam Roma 8, maka Roh Kudus dalam hati saya mengatakan,“benar ini anakmu!” Syukur! Jika orang lain tidak mengakui tidak apa-apa, orang lain tidak senang tidak apa-apa, yang penting Roh Kudus mengatakan,“benar ini anakmu!” Itu sebabnya waktu saya merenungkan ini saya berkata,“Tuhan terima kasih” saya dan istri harus belajar lebih banyak lagi. Bagaimana kita bisa mencintai Tuhan sementara kita tidak mau melakukan firman Allah secara utuh? Kadang-kadang kita masih banyak lubang-lubang, itu kebiasaan kita,Ini cocok dengan budaya saya maka saya klaim ini firman Allah, amin!, jika tidak cocok, maka ini budaya dia bukan budaya saya.” Karena itu saya berterima kasih, masih diberi kesempatan untuk belajar bersama istri dan kita sekalian - tentang Yusuf yang ada Roh Allah, sehingga di dalam umur hidupnya ini, betul-betul disertai Tuhan.

Siapa yang membuat Yusuf takut akan Allah, sehingga mempunyai kata-kata bijaksana dan tegas terhadap istri Potifar? karena ada Roh Allah, sehingga dia mempunyai satu sikap hati nurani yang mengatakan,“taat dan tunduk kepada orang tua” ini sangat penting sekali! Mengapa Yakub sangat mencintai Yusuf? Saya sudah mengatakan kepada saudara, bahwa dalam diri Yusuf hampir tidak ada kesalahan (ini manusiawinya saya), Yusuf jujur, tidak mendukacitakan Roh Kudus. Apa yang dilihatnya, kejahatan kakak-kakaknya ia ceritakan semuanya. Bandingkan satu Yusuf dengan 10 kakaknya, tidak ada satupun yang beres : Ruben, Simeon, Lewi, Yudha, Sebulon, Naftali dan seterusnya, hanya Yusuf yang benar karena Yusuf ada Roh Kudus dan kitapun ada Roh Kudus. Jika dahulu hanya laki-laki pada umumnya, sampaipun pada zaman Taurat, Musa saja yang ada Roh Allah. Kemudian Allah memberikan Roh-Nya kepadaYusak, hanya nabi, imam dan raja yang diurapi, tetapi pada zaman gereja, kita harus sangat berterima kasih tetapi jangan sampai melecehkan Roh Kudus karena menggampangkan kurban Kristus. Zaman gereja Tuhan 120 orang di kamar loteng, semua penuh Roh Kudus, kemudian kita aliran Pantekosta senang mengejar Roh Kudus, lama-kelamaan kepenuhan itu menjadi kebiasaan.

MengapaYusuf bisa mengatakan,“Aku tidak boleh berbuat jahat ini, aku tidak mungkin berdosa kepada Allah” Siapa yang mengajarkan dia? Saya hanya menemukan setelah kitab Kejadian, dalam hukum Taurat tidak boleh berzinah, tidak boleh menghampiri istri orang lain, tidak boleh mengganggu suami orang lain dan seterusnya. Sampai Perjanjian Barupun kita dididik sedemikian rupa, maka satu perkara yang saya pikirkan, mengapa dia bisa menolak? Dia masih muda, budak belian, seorang pendatang, tinggal berbuat kemudian lari, selesai. Jawabnya adalah karena dalam hatinya ada Roh Kudus. Tentu hati nuraninya bekerja sama dengan Roh Allah. Jangan mendukacitakan dan memadamkan Roh Kudus. Jika kita membaca kitab Kejadian saja, sulit untuk menemukan mengapa Yusuf bisa menolak. Dalam Amsal, Mazmur ada nasihat buat kita sekalian,“takut kepada Allah adalah permulaan hikmat dan masih banyak ayat yang lain, ayat-ayat referensi membuat kita terkagum.

Seringkali kita mengatakan dalam 1 Yohanes, “Roh yang di dalam kita ini lebih besar daripada roh yang di luar. Saya mengucapkan lebih besar, tetapi di dalam hati saya Roh Kudus menjadi kecil. Tanpa kita sadari roh dan daging saya lebih besar, sehingga selalu memadamkan dan mendukacitakan Roh Kudus. Seringkali kita mudah memberi nasehat,“jangan takut, roh di dalam dirimu, Roh Allah lebih besar,” tetapi seberapa besar hati ini tidak puas, segala macam masuk, ilmu pengetahuan menemukan otak manusia hanya digunakan beberapa persen (sangat sedikit) dan jika digunakan semuanya maka manusia bisa menjadi luar biasa dan memang Allah itu luar biasa, tetapi yang sedikit dipakai manusia ini malah untuk yang jelek. Itu sebabnya saya mau belajar,“Tuhan ampuni saya.”

Jika kita mengatakan bahwa Allah itu mahabesar, bagaimana hati kita? diisi apa? Bisakah diisi keragu-raguan, kebencian, hal-hal yang negatif? Tidak! Allah itu luar biasa besarnya, hati kita bisa diisi dengan Allah yang tanpa batas. Rasul Paulus sedikit menyesal dan menegur Jemaat Korintus, hati kami besar untuk kamu tetapi hati kamu sangat sempit untuk firman Allah. Marilah timbal balik, kami selalu membuka hati seluas-luasnya, tetapi kamu juga harus seperti itu, menerima nasihat kami. Jika kita menyerahkan sepenuh hati, jiwa dan roh kita, maka konsekuensinya kedagingan kita dipotong, bukan hanya hawa nafsu seks, jika kita menurut maunya Roh Kudus maka harga diri kita juga harus berani kita korbankan. Yusuf lari meninggalkan pakaian budaknya, dan itu dipegang oleh istri Potifar. Jika dia tidak memiliki Tuhan, dia bisa membuka pakaian dan terjun dalam hawa nafsu, bermain kotor dalam rumah tangga Potifar. Tetapi dia menolak seksual, akibatnya dia harus rela kehilangan reputasinya.

Di dunia dewasa ini, jarang ada orang tidak mempertahankan kedudukan, apalagi dia disegani dan dipercayakan semuanya oleh Potifar, bahkan Yusuf berani mengatakan kebenaran kepada istri Potifar. Ini perlu, anak-anak muda harus berani menentang dosa dan berani untuk mengatakan “tidak!” Sekali kamu bermain dengan dosa maka dua kali kamu akan terseret, tiga kali tenggelam dan keempat kali mati, belajarlah seperti Yusuf. Kata Rasul Paulus, hukum dan peraturan diperlukan untuk orang yang suka melanggar, tetapi bagi kita yang tidak suka melanggar, peraturan bertumpuk selangit, tidak masalah. Kita membaca kelanjutannya :

Kejadian 40: 1-8 Sesudah semuanya itu terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu, maka murkalah Firaun kepada kedua pegawai istananya, kepala juru minuman dan kepala juru roti itu. Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung. Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlah mereka ditahan beberapa waktu lamanya. Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya--baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu--masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri. Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?" Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya." Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku."

Di sini posisi Yusuf sudah berpindah dari anak yang dicintai menjadi budak yang dijual, lalu diterima Potifar, kondisinya sudah enak, tetapi dituduh melakukan pelecehan seksual karena ada bukti pakaiannya ditinggalkan, Yusuf tidak bisa membantah, Potifar memasukkan dia ke penjara, tempat para tawanan raja. Di sinilah kita melihat Tuhan beserta Yusuf dalam kondisi yang sangat tidak enak, tetapi anehnya ia menjadi kesayangan kepala penjara, sungguh tidak masuk di akal.

            Semua orang tahu Yusuf, seorang Ibrani yang mencoba menggagahi istri Potifar. Sekarang kita banyak melihat orang tidak tahu ceritanya sudah komentar. Kita harus belajar jangan cepat komentar jika tidak dicocokkan dengan Firman Allah. Bahkan Firman Allahpun jangan cepat komentar, menafsir jika saudara tidak suka membaca seluruhnya. Yang dibutuhkan hati nurani dengan Allah. Hati nurani akan berbicara. Orang yang takut akan Tuhan begitu tenang. Waktu dijual, awalnya dia memamg menangis, dalam Kitab Mazmur menuliskan dia berteriak, tetapi waktu dia digiring, tangannya diborgol, diseret dari Dotan sampai di Mesir. Saudara bayangkan secara fisik betapa menderitanya Yusuf. Tetapi semakin menderita fisik, bukan berarti mentalnya juga ikut menderita. Seringkali kita menderita fisik, mental kita ikut menderita, kemudian kita emosi. Yusuf tidak.

Setibanya di Mesir, dia dipekerjakan oleh Potifar, dan langsung disenangi. Kehidupan yang ada Roh Kudus, seharusnya disenangi oleh semua orang. Ini menjadi tanda, tetapi disenangi yang dimaksud jangan sampai melanggar kesucian. Dengan lain kata jika kita disenangi oleh majikan, oleh perusahaan, jangan main-main, terutama dalam kesucian, dalam pekerjaan. Tuhan menyertai Yusuf sehingga semua pekerjaannya berhasil. Ini bukti otentik yang tidak bisa dibantah. Jika mengaku ada Roh Kudus, tetapi kerjanya setengah-setengah, tidak pernah baik, seperti jemaat Sardis dari pendetanya sampai jemaatnya kerja buat Tuhan, tetapi Tuhan katakan pekerjaanmu tidak ada yang beres. Saya juga tertempelak dan minta ampun. Pekerjaan ini belum selesai, yang lain lagi, akhirnya membuat saya stress, Roh Kudus berduka cita, Firman Allah kita tutup, emosi yang muncul, roh aku, roh saya, muncul egonya.Yusuf menjadi teladan buat kita.

Tuhan menyertai Yusuf di dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah. Biasanya orang tidak suka bertemu dengan seseorang yang sedang kesusahan, mungkin dia nanti minta ini, itu, hutang, Roh Kudus menerima apa adanya. Yusuf tidak mencari tempat tinggal yang enak, ia tahu posisinya sebagai hamba, dia bekerja dengan senang hati, menyenangkan tuannya. Efesus 6, hai hamba-hamba hormatilah tuanmu yang di dunia ini dan bekerjalah kepada tuanmu seperti kepada Tuhan Yesus. Ayat ini tidak ada pada zaman Yusuf, tetapi Yusuf bisa menjadi contoh yang baik dengan posisi sebagai hamba tetapi dia disenangi. Lain halnya dengan istri Potifar. Dia suka kepada Yusuf, sebab ketampanan Yusuf sementara Potifar menyenangi Yusuf karena bertanggung jawab akan pekerjaannya sehingga berhasil dengan baik. Di luar baik, di dalam baik, jangan di gereja baik, gembala baik, ibu gembala bagus, cantik, di luar jelek.

Rasul Paulus mengatakan aku bebas tetapi demi pekerjaan Tuhan, aku menghambakan diri, menjadi hamba bagi semua orang. Anak-anak STTIA adalah calon-calon hamba Tuhan. Apabila sudah menjadi hamba Tuhan tetap bekerja, buktikan jika saya adalah hamba Tuhan. Memang kita bukan hamba manusia, kita dibebaskan oleh Tuhan tetapi kita harus rela menjadi hamba yang bisa menyelamatkan orang lain. Itulah yang namanya hamba Tuhan. Jangan mentang-mentang hamba Tuhan, ditambah dengan predikat senior, menjadi berbangga diri, ingatlah namanya hamba adalah hamba. Jika dahulu kita hamba dosa, sekarang hamba kebenaran. Kebenaran itu membuktikan kepada orang lain bahwa saya melakukan yang benar.

Kita melihat Yusuf di penjara, dituduh, sangat tidak enak posisinya, tetapi Tuhan menyertainya. Saya yakin Potifar tahu persis Yusuf tidak bersalah. Secara hukum waktu itu Yusuf boleh langsung dipancung karena kesalahannya dengan bukti pakaiannya tertinggal. Mengapa Potifar masih memasukkan dia ke penjara dan tidak langsung memancungnya? Karena Potifar melihat Allah menyertai Yusuf walau ia mendengar pengaduan istrinya, mungkin pegawainya bahwa Yusuf bersalah. Potifar tidak bisa mengelak. Dia harus percaya istrinya meskipun istrinya bohong. Jika seseorang sudah kecewa masalah seks, dia bisa berbuat yang lebih jahat, jangan main-main soal seks. Waktu adik Salomo jatuh cinta kepada adiknya sendiri, maka adiknya diperkosa. Setelah diperkosa langsung timbul rasa benci luar biasa. Selanjutnya penyertaan Tuhan membuktikan Yusuf tidak bersalah. Ini penting. Jika saudara dan saya dicerca, difitnah, buka hati kepada Tuhan, Tuhan yang tahu persis.

Yusuf digiring dari Dotan sampai ke Mesir ke rumah Potifar untuk dipekerjakan, lebih lanjut dimasukkan penjara. Tuhan beserta ketika di puncak dan di lembah sehingga selalu ada keberhasilan di manapun ia berada. Tidak ada tempat yang tidak berhasil jikalau Tuhan beserta, Yusuf menjadi contoh buat kita, dia bisa tinggal di rumah bapanya dengan hidup dalam kebenaran. Diapun bisa berhasil saat berada di rumah Potifar, sampai di penjarapun Yusuf disukai kepala penjara. Jika kita sebagai hamba suka mengomel, pastilah tidak ada orang yang sayang kita, Tuhan pun tidak senang. Jika siswa siswi STTIA selalu menggerutu masalah makanan, berarti tidak senang kepada Tuhan yang memberi makanan. Roh Kudus ada dalam hati Yusuf, sehingga mungkin secara fisik dia menderita tetapi hatinya senang membuat segala pekerjaannya begitu indah.

Saya tekankan malam hari ini, adalah tutur kata Yusuf dari mulanya menceritakan kejelekan abangnya bukan dibuat-buat, ia sudah tahu resikonya jika menyampaikan kebenaran itu. Waktu di penjara, banyak narapidana lain dengan beragam karakter. Yusuf dihadapkan dengan dua teman sesama narapidana yaitu juru roti dan juru minuman yang keduanya bermimpi. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa firman Tuhan tidak boleh dikurangi atau ditambah. Juru roti dan juru minuman menceritakan mimpi masing-masing kepada Yusuf. Mimpi memang dari Tuhan tetapi bisa juga mimpi karena banyak pikiran. Kata Pengkhotbah : orang banyak mimpi, banyak pemikirannya. Introspeksi apa yang kita pikirkan waktu pagi hari, itu kata firman Tuhan.

Mimpi juru minuman : Terlihat ada tiga tangkai berarti tiga hari. Nanti engkau akan dikeluarkan dari penjara dan dikembalikan pada posisi semula, kamu akan membawa piala untuk memberikan minuman anggur kesukaan raja. Yusuf tambahkan, “Jika keadaanmu baik, ingatlah saya.” Tetapi dilupakan selama dua tahun. Selanjutnya mimpi juru roti : ada tiga bakul roti, yang paling atas untuk raja Firaun, tiba-tiba burung datang, memakan habis roti untuk raja itu. Yusuf harus ambil ketegasan untuk berkata ya di atas ya, tidak di atas tidak, walaupun itu akan menyakiti temannya, juru roti itu. Yusuf mengartikan : sama, 3 bakul adalah tiga hari, engkau juga akan dibawa keluar dan kepalamu dipenggal kemudian akan digantung. Persis tiga hari, raja berulang tahun, juru minuman dikembalikan posisinya dan juru roti dipancung tepat seperti mimpi yang diartikan Yusuf.

Firman Tuhan selalu mengandung dua hal : hidup atau mati. Bukankah Allah berkata kepada Musa, “Katakan kepada bangsa Israel, perkataan-Ku ini adalah hidup atau mati kalian.” Firman Tuhan tidak boleh dipermainkan juga tidak perlu ditakuti. Kita harus menyampaikan firman Tuhan yang benar. Yusuf mempunyai perasaan sungkan tetapi dia sudah biasa untuk jujur, maka dia menyampaikan dengan jujur apa adanya. Bayangkan, dua orang itu sama-sama teman sekerjanya. Satunya harus kehilangan nyawanya, betapa sedihnya juru roti itu, bagaimana pula perasaan Yusuf.

Kadang kita hamba Tuhan suka melihat orang. Jika menyiapkan firman Tuhan, tanya-tanya dulu, “Kira-kira jemaatmu bagaimana?” Lalu kita putar di sini, kita menyampaikan ayat firman Allah untuk jemaat yang modelnya begini. Saya katakan tidak ekstrim, bisa baik, bisa tidak baik. Kita mengatur firman Tuhan untuk menyenangkan telinga jemaat yang dikunjungi. Waktu saya membaca ini, kembali teringat Yusuf tidak mempunyai pedoman dari Alkitab, tetapi dia menyampaikan apa adanya. Dia tahu Tuhan yang mengungkapkan rahasia mimpi itu, maka dia sampaikan sesuai firman Tuhan. Saya katakan ini saya harus belajar banyak lagi.

Terus terang kita manusia, kadang takut berkata yang benar, sebab takut kehilangan teman sehingga mengurangi bobot firman Tuhan yang lurus. Tetapi firman Tuhan malam ini menolong saya. Waktu Yeremia diperintah Tuhan, “Katakan! Tuliskan! Sampaikan dan jangan kamu mengurangi atau menambahi firman-Ku!” Yeremia menyampaikannya dan ia langsung akan ditangkap untuk dibunuh. Itu pengalaman Yeremia. Beranikah kita seperti itu? Resikonya besar tetapi sebenarnya bukan hanya Yeremia yang mendapatkan nasehat ini, dalam kitab Ulangan dua kali Musa diperintah Allah, “Beritahukan kepada bangsa Israel apa yang telah Kusampaikan kepadamu jangan ditambah dan jangan dikurangi!” Dalam kitab Ulangan dua kali disebutkan, pasal 4 dan 12. Berarti lima kitab Musa menyebutkan firman Allah tidak boleh ditambah atau dikurangi. Dalam Amsal 30 mengatakan firman Tuhan itu suci, murni, jangan kamu menambah maupun mengurangi supaya jangan Tuhan marah dan kamu disebut pendusta.

Saya sharing dengan istri, “Ma, Ulangan mewakili lima kitab Musa tetapi kitab Ulangan mewakili seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama yang memberitahukan, “Jangan tambah! Jangan kurang! Jangan sampai Tuhan katakan engkau sebagai pendusta! Saya akan menjadi pendeta pendusta jika firman Allah, saya tambahkan perkataan, pesan, pandangan orang lain. Kitab Wahyu 22, “Siapa yang menambah perkataan kitab ini, maka malapetaka akan ditambahkan.” Pada akhir zaman ini, siapa yang menambah dan mengurangi maka malapetaka-malapetaka akan menimpa, kita tidak akan menjadi Mempelai Wanita Tuhan. Yusuf berkata jujur, memang tidak mudah tetapi kita harus belajar. Sebab kita ini hamba Tuhan, hanya hamba, tetapi dari hamba inilah Yusuf nanti diangkat menjadi perdana menteri.

Pada Jumat mendatang jika Tuhan izinkan, saya ajak Saudara menelusuri bagaimana Yusuf ketika harus berhadapan dengan raja Firaun. Malam ini penekanannya adalah bagaimana kita berkata yang benar saat menghadapi orang yang benar dan tidak benar. Tergantung apakah Roh Kudus yang menguasai kita atau daging kita, perasaan kita, sungkan kita dan lain sebagainya. Saat Yusuf dipengaruhi oleh firman Allah, ia tidak sentimen pada juru roti ataupun membela juru minuman. Yusuf berkata apa adanya, maka Tuhan melihat hati Yusuf dan mengangkatnya. Kita tidak perlu mencari kedudukan atau pangkat, cukup berkata jujur di hadapan Tuhan, maka pada waktunya engkau akan diangkat. Di manapun posisi Anda, bekerjalah sebagai hamba dengan senang hati! Di situ Tuhan akan menolong kita sehingga di tempat seperti apapun kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan memuji nama-Nya.

Amin.