Pendalaman Alkitab Kitab KEJADIAN

 

Jumat, 23 September 2016

 

Pdt. Paulus Budiono

 

Shalom.

Saya terkesan dengan lagu-lagu yang kita nyanyikan, lagu ke empat mengatakan ‘Allah  begitu baik bagiku.’ dan lagu ke tiga ‘Jangan kamu kuatir.’ Tidak perlu kuatir akan makan dan minum, serta pakaian. Kita seringkali menganggap kebaikan Tuhan sebatas yang bisa kita rasakan secara jasmani. Itu tidak salah karena Tuhan menciptakan langit dan bumi, agar manusia hidup di dalamnya dan menikmati berkat kebaikan Allah. Selanjutnya lagu ini mengatakan ‘Ibadahku dibaharui.’ Kita mengatakan bahwa Allah begitu baik dikaitkan dengan ibadah yang diubah, berarti pelayanan diubah. Jika dahulu pelayanan hanya karena tugas dan kewajiban, setelah diubah karena kebaikan Allah, kita beribadah dan melayani bukan lagi karena tugas dan kewajiban, tetapi karena Tuhan baik. Kita tidak kuatir akan makan dan minum. Anak STTIA tidak kuatir, jika mereka makan nasi dan kangkung, apakah bisa mengatakan Allah baik bagiku? Ataukah masih menuntut makan daging, berarti tidak mengatakan bahwa Allah itu baik? Lagu-lagu itu mengingatkan pelayanan saya sebagai seorang pengkhotbah di PA ini, apakah monoton, lama-kelamaan saya bosan, sehingga ketika saya mengatakan, ‘Allah begitu baik bagiku.’ saya omong kosong karena Tuhan mengetahui saya mengatakan asal saja, asal membuka Alkitab, asal memenuhi kewajiban.  

Yusuf seorang muda yang dicintai bapaknya. Padanya dikenakan pakaian istimewa yang sangat indah, mendapat makanan enak tetapi dibenci oleh kakak-kakaknya. Dia baru berumur 17 tahun, belum pernah meninggalkan orangtuanya, tiba-tiba harus berpisah dan Yakub berpikir bahwa Yusuf telah mati. Bagaimana jika kita ada dalam kondisi seperti Yusuf? Kita membaca,

Kejadian 37:25-27 Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.

Alkitab ini adalah firman Allah, jika kita sudah membaca kitab Kejadian 1 – 37, yang untung adalah Saudara karena Saudara dicintai Tuhan, seperti dikatakan dalam kitab Maleakhi.

Maleakhi 3:16-18 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya." Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

Saudara harus membaca sendiri firman Allah, sebab jika nanti ada masalah kita bisa mengatasi karena Roh Kudus yang akan menolong melalui firman yang telah kita baca dan simpan, karena firman itu roh, firman itu hidup, firman itu kekuatan, firman itu Tuhan sendiri. Kita kadang-kadang ada persoalan ini dan itu, tanpa sadar kita mengeluarkan uneg-uneg dengan kata-kata yang tidak cocok dengan firman Allah. Itu berarti kita tidak menghormati Tuhan. Jika kita menghormati Tuhan, kita akan menahan diri karena mengetahui bahwa setiap perkataan kita akan dicatat. Seperti pengadilan di dunia ini semua dicatat dan direkam, agar nanti jika mau menuduh atau membela ada buktinya. Apa yang mau kita bela di hadapan Tuhan? Siapa yang membela kita? Firman di dalam hati kita, itulah yang akan membela kita. Saya akan senang jika Tuhan berkata : ‘Aku mengenal Paulus Budiono. Jika Dia mengatakan tidak mengenal Paulus Budiono, meskipun telah melayani puluhan tahun, di dalam catatan-Nya tidak ada karena Paulus Budiono pembohong besar. Itu sebabnya saya tidak mau berbohong, saya ingin mengatakan yang benar karena saya mengetahui akhir perjalanan ini ke mana.

Kita membaca kisah Yusuf, ia dilempar ke dalam sumur kosong, tidak berair. Coba kita bayangkan, kakak-kakaknya makan, tetapi Yusuf tidak makan. Kakak-kakaknya memakai pakaian yang bagus, tetapi Yusuf kehilangan pakaian. Kakak-kakaknya minum, Yusuf kehausan. Iman Yusuf diuji, sementara kakak-kakaknya tanpa iman.

Ibrani 11:22 Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.

Ini menujukkan iman Yusuf pada akhir hidupnya, di mana imannya betul-betul nyata. Saya mempunyai keyakinan bahwa imannya dimulai karena mendengar kisah nyata dari ayahnya, Yakub. Hendaknya kita suka membaca semua tokoh-tokoh itu, agar iman kita menjadi lengkap. Maksud saya ialah Yesus memimpin kita dari iman-Nya yang sempurna. Kita tidak melewati jalan mulus, akan menghadapi banyak masalah. Bagaimana iman kita? Mampukah iman kita seperti Habel dengan mempersembahkan kurban dan tanda darah? Bagaimana jika dihadapkan seperti zaman Henokh? Apakah hanya mengetahui cara mempersembahkan kurban, tetapi tidak terbiasa berjalan bersama orang dan lebih suka sendirian? Karena selama 300 tahun Henokh berjalan bersama dengan Tuhan. Tuhan menyelidiki, menilai, serta menyatakan pada pasal 11 bahwa Dia sudah mendapatkan bukti, Henokh berkenan.

Jika iman kita tidak bertambah sampai pada kisah Yusuf yang sekarang sedang kita bahas, kita harus koreksi. Perhatikan kedua tokoh Yakub dan Yusuf imannya sampai pada saat di negara lain, bukan di negara sendiri. Imannya Yakub merindukan, tidak mau dikubur di Mesir dan meminta agar jenasahnya dibawa untuk dikubur di Kanaan. Bagaimana iman kita saat di luar, di tengah-tengah orang yang tidak percaya, menentang, membenci Kristen? Ke mana arah tujuan iman kita? Jika di gereja sendiri iman untuk kesembuhan, saya katakan amin, iman untuk membuktikan Tuhan  menjanjikan memberkati kita, amin.

Yusuf dan Yakub di negeri orang, dan Tuhan sudah nubuatkan kepada Abraham, bahwa nanti keturunanmu akan berada di bawah jajahan negara lain 400 tahun. Dapat dibayangkan apa yang dipikirkan Yakub, apakah Yusuf apakah Yudha apakah Ruben apakah Naftali apakah 12 anak saya betul betul beriman? Tidak tahu. Atau mungkin Yakub tahu dan yakin karena sudah diceritakan secara oral maka dia pesankan bahwa suatu hari kalian akan keluar, imannya  menunjukkan pada yang akan datang sementara di Mesir penuh dengan berkat yang luar biasa. Yusuf sebagai perdana mentri seumur hidup tidak kekurangan apapun, nikahnya diberkati, keududukannya tinggi. Firaun tidak mungkin berbuat apa apa karena dia sangat tergantung dan percaya pada Yusuf. Iman kita harus terus bertambah, bagaimana bertambahnya? Tidak cukup duduk di gereja, baca Alkitab di rumah atau di mana saja, kadang kita anggap Alkitab tidak terlalu penting, andai orang Kristen mencintai Alkitab seperti dia mencintai handphonenya betapa indahnya, kita sudah di tengah jalan, lupa Hp, kembali pulang, jika orang Kristen bisa seperti itu terhadap Alkitab, amat indahnya.

Alkitab sekarang sudah beda, ada dalam handphone, tetapi berapa banyak yang kita baca,  amini, dan berapa banyak juga iman kita bertumbuh? Suatu waktu kita akan berada seperti Yusuf, bukan lagi di Kanaan dipelukan ayahnya, tidak lagi mendengar kebencian kakak-kakaknya, semuanya berubah total, Yusuf tidak bisa bahasa Mesir, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kurang lebih 13 tahun, ia sudah fasih berbahasa Mesir, tetapi imannya bukan di Mesir,  imannya akan perkara di atas. Seringkali jika kita pindah ke lain kota, iman kita juga ikut di sana,  menjadi Kristen bunglon, di sini yes amin, di sana yes amin.

Kita harus belajar dari Yusuf, kondisi Yusuf berubah total, kita harus punya iman apabila  berada di daerah yang asing, apakah iman kita juga ikut asing? Tidak lagi menaruh perhatian di  mana Tuhan, waktu di gereja bisa amin, puji Tuhan, berdoa bisa menangis, tetapi waktu di luar, dipekerjaan, dipergaulan tiba-tiba berubah tidak ada imannya, tidak bisa berdoa, tidak bisa bersaksi, hilang arah tujuannya. Tidak demikian dengan Yusuf, karena dari kecil Yusuf sudah dididik dengan baik. Ini merupakan satu dorongan untuk anak STTIA, semester pertama sampai nanti semester delapan, ketika kalian dipanggil Tuhan ke tempat yang masih asing, sudahkah kalian mempunyai persiapan? Jangan berkata : saya tidak cocok di sana, tidak mengerti bahasanya, saya pulang saja, lebih suka di daerah saya. Yusuf menerima apa adanya, ia betul betul belajar bukan sebagai siswa tetapi sebagai budak. Saya tidak tahu bagaimana Yusuf belajar bahasa Mesir, mungkin dia dengar dan terus mencoba berbicara dari hari ke hari. Saudaranya boleh menyakiti Yusuf tetapi iman Yusuf tidak terusik oleh kelakuan saudara-saudaranya.

Kejadian 39:1-6 Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.

Kondisi Yusuf sekarang berbeda 180 derajat, tetapi imannya tetap sama, bahkan   bertambah. Kita bisa melihat, tutur kata seseorang itu menunjukkan ia beriman atau tidak, tutur kata kita menunjukkan kita sedang dalam iman kepada Tuhan atau tidak. Jabatan pendeta atau penatua bukan merupakan tolok ukur dari beriman.

Secara global saya membawa saudara melihat posisi Yusuf yang pertama sebagai anak, kurang lebih 17 tahun di rumah Yakub, disayangi, dididik oleh ayah yang beriman, kemudian umur 17 tahun sampai 30 tahun dalam kondisi sangat direndahkan oleh saudara-saudaranya yaitu dijual menjadi budak, bahkan sampai nanti ia dimasukkan dalam tahanan Raja Firaun, mendapat tuduhan kesalahan yang paling keji. Selanjutnya Tuhan mengangkatnya mulai usia 30 tahun sampai 110 tahun, kira kira 80 tahun dia menjadi pucuk pimpinan, sebagai perdana mentri. Kita melihat Yesus adalah anak Allah tetapi Dia merelakan diri menjadi hamba dan mati, itu sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, mengaruniakan nama di atas segala nama sehingga semua mulut mengaku semua lutut bertelut mengaku dia adalah Tuhan, Kristus.

Ada persamaan antara Yusuf dan Yesus tetapi ini sekadar beberapa kasus yang bisa menjadi gambar bayang Yesus tetapi tidak semuanya, itu sebabnya kita harus hati-hati, jangan sampai kita mengambil Yusuf menjadi suatu patokan rohani, saya katakan keliru, sebab walaupun Yusuf sebagai anak lalu dijual, kemudian menjadi hamba tanda kematian, diangkat dengan jabatan tinggi merupakan suatu kebangkitan mulai umur 30 tahun sampai akhir hidupnya, tidak bisa disamakan dengan Yesus. Seringkali kita anggap inilah pengajaran  mempelai yang melalui suasana kematian kebangkitan dan kemuliaan, lalu kita tuntut kemuliaan itu, dan jika kita merasa sebagai hamba Tuhan yang sudah mulai dimuliakan, disanjung, kita bersaksi dahulu saya di desa, suasana kematian, Tuhan memindahkan saya ke kota, itulah awal kebangkitan, sekarang saya di ibukota saya dipermuliakan, saya katakan,’rang ini sesat’. Kita tidak boleh berpikir seperti itu, kita mau ikut Yesus yang merendahkan diri, bangkit dan dimuliakan. Dimuliakan di mana? di surga bukan di bumi! Setelah Yesus bangkit, Dia naik ke surga, kita belum sampai surga tetapi sudah keliru menafsirkan pengajaran mempelai, pengajaran Tabernakel ini yaitu mengejar yang fisik.

Jika hamba Tuhan seperti saya ini pasti banyak orang berkata luar biasa, dulu di Sorong, kemudian di Medan sekarang di Surabaya, kebangkitan dan kemuliaan, tidak demikian. Jangan melihat saya kemudian saudara katakan saya ingin seperti Paulus Budiono, sekarang saya masih di desa saya harus berdoa sungguh-sungguh supaya dipindahkan dari desa ke kota. Yesus lahir di kampung Betlehem, dibesarkan di dusun Nazaret, kemudian Dia mati di luar ibukota dan dikubur dalam kuburan milik orang lain. Seringkali hamba Tuhan jika di desa merasa beda, besarkan Tuhan di tempat saudara melayani jangan berkata aku di desa, aku tidak punya mobil seperti Paulus Budiono, tidak boleh seperti itu. Tuhan saya dan Tuhan saudara sama, jadi jangan katakan aku hamba Tuhan di desa, kita harus bersyukur.

Yusuf bisa memuliakan Tuhan dengan kesucian hidupnya di rumah ayahnya, juga waktu ia di Mesir dengan status budak, Tuhan tetap menyertai. Mau pilih yang mana? menjadi budak yang disertai Tuhan atau bos yang tidak disukai Tuhan? Saya memilih menjadi hamba karena Yesus menghambakan diri dan disertai oleh Bapa Surgawi. Yesus katakan,“Aku tidak sendiri tetapi Bapa-Ku ada bersama dengan Aku.” Musa yang menulis ini, dia pasti merasa Tuhan sangat luar biasa dan dia akan sangat berterimakasih kepada Tuhan yang menyertai Yusuf. Dikatakan bahwa Musa adalah cucunya. Musa menulis tentang Yusuf, Tuhan mengatakan,“tulis bahwa Aku menyertai Yusuf.”Rasanya bangga,“Kakek saya disertai Tuhan,” padahal Tuhan tidak berbicara kepadanya, tetapi orang lain bisa melihat. Yusuf tidak berbuat apa-apa, dia tidak berbicara pada Potifar bahwa dia orang Ibrani, orang Kristen, orang percaya, tidak! Dia hanya bekerja saja.

Yakub pasti bercerita kepada Yusuf, “Saat aku tinggal pada mertuaku, Laban, aku bekerja saja dan Tuhan memberkati pekerjaanku, semua kambing domba yang lahir belang-belang adalah milikku.Mengapa demikian? Tuhan memberitahuku dalam mimpi,  pakai ini dan waktu hamil anaknya belang-belang. Kerja saja! Laban suka merubah upah untuk Yakub dan berkata, “aku melihat bahwa Tuhan menyertaimu, kamu tidak banyak bicara tetapi hanya kerja.” Hasil kerjanya itu membuktikan seseorang disertai Tuhan atau tidak.

            Alkitab menulis bahwa orang Mesir tidak suka orang Ibrani. Waktu Yakub sekeluarga pindah ke Mesir, Yusuf yang tahu situasinya karena sekian lama dia berada di rumah Potifar dan diberkati, maka dia katakan kepada ayah dan saudara-saudaranya, jika Raja Firaun bertanya, katakan bahwa kamu turun-temurun sebagai penggembala domba dan kambing, karena orang Mesir tidak suka pekerjaan menggembalakan domba, itu tercantum dalam Alkitab. Yusuf tahu orang Mesir membenci orang Ibrani tetapi Yusuf menjadi berkat bagi orang Mesir. Jika kita disertai Tuhan, walaupun ada orang yang membenci kita, kita justru menjadi berkat buat dia, kita jujur apa yang kita kerjakan.

            Kita ini seorang yang digembalakan dan seorang anak Tuhan, tidak perlu menggunakan trik sini trik sana. Yusuf pasrah tanpa pamrih, dia dijual tetapi Tuhan yang menuntun, sebab dia mempunyai iman, jangan kita pasrah tetapi dibaliknya ada pamrih. Di rumah Yusuf sudah terbiasa jujur dan tegas, dengar-dengaran dan tidak bersaing dengan kakak-kakaknya. Jangan sampai jika kita punya beberapa anak, membuat anak-anak terjadi persaingan. Kita harus mendidik mereka (kata firman Allah) dengan firman dan pengajaran, Efesus merupakan kunci keberhasilan dari seorang ayah. Yusuf rendah hati, ia diberkati Tuhan. Jangan kita menjadi hamba Tuhan yang rendah hati tetapi di dalamnya ada pamrih. Mari belajar dari Yusuf yamg baru berumur 17 tahun, belum dewasa tetapi imannya dewasa. Seringkali kita yang sudah tua tetapi justru imannya belum dewasa, kita masih kuat dengan budaya, kebiasaan dan kebanggaan diri. Yusuf tidak pernah memikirkan itu.

            Betapapun Yakub mempunyai masa lalu yang sangat jelek tetapi Tuhan sanggup merubahnya. Dia mulai dengar-dengaran, kita sudah tahu ceritanya, saya hanya mengulangi, supaya kita bisa melihat hubungan antara orangtua dan anak. Anak jadi baik karena orang tua lebih dulu sungguh-sungguh. Ini dilihat oleh Tuhan. Kita harus menunjukkan iman yang diukur oleh Tuhan, bukan oleh gereja, dosen ataupun pendeta. Yusuf begitu taat, suatu waktu ketika  ayahnya menyuruh mencari kakak-kakaknya yang sedang menggembalakan kambing domba sebab tidak ada kabar dari anak-anaknya. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak dengar-dengaran, diberi tugas untuk menggembalakan namun mereka tidak memberi tahu di mana mereka gembalakan. Harusnya beritahu ke mana dan jam berapa pulang? Jangan fulltimer meminta izin keluar kemudian tidak kembali.

            Waktu almarhum Om Yuwono masih ada, beliau menugaskan,“Saya mau kamu mewakili saya untuk peresmian suatu gereja, berangkat dan langsung pulang!”Sampai di sana setelah semuanya selesai, Pendeta Hans Tangka, yang adalah guru saya juga, bersama beberapa hamba Tuhan lain berkata,“Sun tidak usah pulang, ini sudah sore” Saya katakan, “tidak boleh, saya harus pulang nanti dimarahi,” Jawab Om Hans,Sudahlah nanti saya telponkan Pak De, saya katakan Sun tinggal di sini satu malam” meskipun dipaksa-paksa, saya tidak mau. Saya tidak mengerti, setelah sampai di Surabaya saya baru tahu bahwa guru-guru ini sedang menguji apakah Paulus Budiono taat atau tidak kepada atasan. Memang tidak apa-apa seandainya tinggal bermalam tetapi perintahnya pergi dan langsung pulang. Bisa saja saya beralasan sudah malam, ketakutan, tidak ada bis tetapi itu bukan alasan untuk membenarkan tidak pulang karena saya menerima perintah pergi langsung pulang.

            Di situ saya belajar, apakah sudah sempurna? Belum, masih banyak kekurangan. Yakub percaya kepada Yusuf untuk mencari kakak-kakaknya, yang sudah berpindah tempat penggembalaannya yaitu ke Dotan. Yusuf bingung, Alkitab mengatakan dia tersesat, untung ada orang yang memberitahunya. Seharusnya jika hendak pindah memberitahu dahulu kepada orangtua, bukan suka-sukanya sendiri, orang yang beriman itu tertib. Yusuf mencari setengah mati, mungkin dia tidak tahu di mana Dotan. Jika kita suka pindah semaunya sendiri dan melayani tugas dengan tidak jujur, nanti akan menimbulkan kesepakatan yang tidak baik tentang Yusuf, tentang iman. Jangan merusak iman kita karena tidak taat kepada atasan.

            Saya kembali kepada kisah Yusuf. Pada masa itu kedudukan Potifar sudah tinggi, ia melihat dan mengawasi, yang berarti seorang majikan tidak sekadar punya uang untuk membeli budak tetapi juga menghargai kerja seorang budak. Kita mau belajar, jika mempunyai pegawai, kita tidak hanya mempunyai wewenang sebagai majikan tetapi harus melihat dan mengawasi budak kita lebih jauh. Potifar melihat anak muda ini lain dengan hamba-hambanya yang lain. Ia orang asing, tidak banyak bicara, tetapi kerjanya baik. Alkitab menunjukkan Potifar bisa melihat Tuhan dalam pekerjaan, tingkah laku dari Yusuf. Orang lain akan melihat kita adalah seorang Kristen dari tingkah laku, tutur kata, tanggungjawab. Firman Allah mengatakan Potifar menjadi tahu kaitan Yusuf dengan Tuhan, bukan sekadar pintarnya kerja, beres semua. Ini luar biasa. Orang kafir, orang Mesir, bisa mengkaitkan dengan Tuhan.

Kejadian 39:3 -4 “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.

Kepada Yusuf diberikan kuasa secara bertahap. Apabila sudah diberkati, jangan cepat-cepat bangga, kita seringkali begitu, tidak sesuai Firman Tuhan. Orang lain yang melihat keberhasilan Yusuf mengkaitkan dengan campur tangan dari Tuhan, ini luar biasa. Dengan iman kita melakukan semuanya dan Tuhan membuat kita berhasil, jangan lupa semua dari Tuhan, sehingga ketrampilan yang kita miliki, kita berikan untuk pekerjaan, untuk rumah tuan saya. Saya menjadi hamba, saya kerjakan dengan tulus ikhlas, dengan skill yang saya terima, semua itu dari Tuhan. Kita tidak ada pamrih dan tidak ada sesuatu yang kita inginkan.

Yusuf tidak mengomel, saya sudah bekerja lama tetapi gaji tidak naik. Tidak perlu kita minta. Tuhan akan gerakkan hati atasan untuk melihat. Setelah sekian lama, Yusuf mulai belajar bercocok tanam karena awalnya Yusuf adalah seorang gembala, ia belajar bercocok tanam di rumah Potifar. Akhirnya dia berhasil. Justru itu membuat Potifar lebih yakin. Saya tidak tahu berapa lama, mungkin satu tahun, dua tahun, tiga tahun, statusnya tetap hamba. Tetapi dari tahun demi tahun semakin membuat Potifar yakin. Sudah berapa lama kita melayani pekerjaan Tuhan? sebagai fulltimer? Apakah perkerjaan yang Tuhan percayakan itu semakin baik, semakin berkembang, atau semakin rusak? Ini harus diperhatikan. Pengerja-pengerja mesti belajar. Jika sepeda motor rusak apakah bisa diperbaiki? Kita harus membuat yang rusak menjadi baik. Tetapi ada juga yang awalnya suatu barang diberikan dalam kondisi baik, tidak sampai satu bulan rusak. Orang yang beriman seharusnya tidak boleh gagal karena dia beriman kepada Tuhan, maka dengan iman engkau percaya, dengan iman engkau minta, pasti dapat. Kita  beriman, apa yang saya kerjakan pasti berhasil dengan baik. Yusuf mengatur semua milik Potifar, baik rumah dan lainnya, ia bekerja tanpa pamrih. Dia juga dapat dipercaya baik di ladang maupun di rumah, sebab Yusuf punya Tuhan.

Tuhan ijinkan suatu waktu dia sebut nama Tuhan. Ada kalanya tidak perlu sebut Tuhan, tidak perlu sebut aku orang Kristen, aku pendeta, tetapi kali ini Yusuf harus mengatakan : bagaimana aku berani melakukan perbuatan zinah dan kemudian menghujat Tuhan. Ini persoalan nikah, persoalan seksual, harus tegas. Hubungan suami istri itu sah, mulia, suci, nikmat, tetapi perzinahan itu berdosa. Yusuf digoda oleh istrinya Potifar. Dunia sekarang ini memang begitu, banyak istri-istri kelayapan. Koreksi untuk kita semua, supaya nikah yang sudah diberkati ini, jangan lengah. Persoalan makanan ada kaitannya dengan nikah. Kata Rasul Paulus aku boleh berbuat semuanya tetapi tidak semuanya berguna. Aku boleh makan apa saja tetapi tidak semua berguna. Tubuh ini bukan untuk percabulan. Zaman Yusuf tidak ada hukum Taurat. Yusuf  digoda oleh istri Potifar. Dia bisa lepas tanggungjawab, tetapi Yusuf mempunyai sikap, bukan menghindar. Dalam penyelidikan kesehatan, setua apapaun laki-laki masih mempunyai hasrat, wanita juga ada tetapi sangat berkurang. Jangan berkata sudah tua, jangan kecilkan soal seks.

Kejadian 39:7-9  Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"

Yusuf berkata, “Sebab engkau istrinya”. Iman itu menjaga kesucian tetap sama, dulu sekarang sampai selamanya walaupun keadaan sekarang berbeda, bukan zamannya 2000 tahun yang lalu, laki-laki duduk di sini, perempuan di sana. Iman yang sesungguhnya harus dapat berkata tegas, kamu bukan istriku.  

Kejadian 39:9 “bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"

Yusuf katakan, “Berdosa kepada Allah. Rasul Paulus berkata semua dosa dibuat di luar tubuh, tetapi percabulan langsung terkena pada tubuh. Yusuf muda punya kesaksian awal, itu harus dipegang, iman yang senantiasa kita pegang. Tidak hanya ayat 9 yang berkata saya tidak boleh berzinah, tetapi hari berikutnya perempuan ini tidak tinggal diam, artinya hawa nafsu itu tidak bisa dibendung. Masuk gereja, Tuhan ampuni, saya mau sungguh-sungguh, setelah itu muncul lagi, berkali-kali ditolak muncul lagi.  

Kejadian 39:10-12 Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.  Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpuun tidak ada di rumah. Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.

            Ada nyanyian mengatakan, “Aku lebih baik menderita oleh sebab kebenaran. Konsekuensi dari iman dalam menghadapi persoalan seks, persoalan daging dan persoalan kesucian adalah ‘sakit’. Rasul Petrus berkata jikalau daging ini sudah mengalami ‘sakit’, maka kita akan terlepas dari dosa apapun juga. Seringkali yang membuat kita jatuh adalah karena kita tidak mau ‘sakit’, baik menyangkut persoalan seks, uang, kedudukan atau apa saja. Jika Tuhan katakan, “Itu bukan milikmu,” terserah kita, kita mau atau tidak. Itu sakit. Akhirnya Yusuf lari, sakitnya di penjara karena kebenaran. Itu indah sekali. Tuhan atur sedemikian rupa sampai isteri Potifar tidak lagi mampu menggoda Yusuf karena Yusuf berada di penjara.

Jika kita mau lepas dari godaan seks, godaan daging, kita harus mau sakit. Di dalam nikah yang sah, Tuhan memberikan berkat, “Beranakcuculah!” Itu berarti suatu hubungan intim yang sudah dirancangkan Allah. Jangan asal berbicara bahwa seks itu jahat, najis. Itu semua akan menimbulkan doktrin yang salah. Rasul Paulus mengatakan, “Ada ajaran sesat yang melarang orang kawin.” Itu sudah ada pada zaman 2000 tahun yang lalu. Saya ulangi, hubungan seks bukan dengan suami, atau bukan dengan isteri, itu tidak boleh. Jika memang waktunya tiba, nikahlah dengan baik! Itu kata firman Allah. Istri Potifar mungkin karena kebutuhan seksnya tidak terpuaskan, sehingga ia melakukan hal yang jahat itu. Homo juga begitu, bahkan hingga menimbulkan insiden pembunuhan.  

Yusuf lari, pakaiannya dilepaskan sehingga menjadi bukti bagi isteri Potifar. Dia bercerita kepada semua hambanya dan melapor kepada suaminya bahwa ia akan diperkosa oleh Yusuf dengan bukti baju Yusuf di tangannya. Amsal mengatakan biasanya orang yang bicara lebih dulu itu yang dianggap lebih benar. Tetapi selanjutnya jika ada orang lain yang berbicara, akan terlihat mana yang benar, mana yang salah. Tetapi di sini tidak ada yang lain, semua hambanya tunduk kepada nyonyanya. Potifar juga terpengaruh dan memasukkan Yusuf ke dalam tahanan paling berat yang melawan undang-undang Mesir. Yusuf menderita tetapi Tuhan menyertai.

Kejadian 39:19-20 Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.

Jika memang harus menderita karena kebenaran, itulah konsekuensinya. Seringkali kita menggunakan cara sendiri, “Saya tidak berbuat salah, mengapa terjadi begini?”  Sepertinya jika kita berbuat baik, tidak selingkuh, harusnya saya begini, begitu. Kadang kita terlalu banyak memakai pikiran kita. Kita harus terus belajar. Yusuf tidak mengomel, tidak berontak dengan kondisi sebagai hamba. Dia tidak berkutik walaupun tidak salah, jika tuannya mau pecat dia, mau memukul dia, dia terima saja, karena yang berhak adalah majikannya.

Pada ayat 21 mengatakan “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.” Melimpahkan berarti lebih tambah kasih karunia Allah. Luar biasa! Jika awalnya Tuhan menyertai dengan berkat-berkat jasmani-Nya, sekarang Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih karunia kepadanya dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Ini tidak masuk akal. Sangat jelas di berita acara tertulis : hendak memperkosa isteri saya. Tetapi itulah penyertaan Tuhan.

Dahulu pakaian kebesarannya yang begitu indah dirampas oleh saudara-saudaranya, sekarang pakaian budakpun menjadi bukti kesalahan Yusuf. Sekarang Yusuf mengenakan pakaian narapidana padahal dia tidak bersalah. Jangan kita suka membela diri kemudian berpikir Tuhan pasti turut campur tangan, kejadiannya tidak demikian, tetapi Tuhan melimpahkan kasih setia-Nya kepada Yusuf dengan membuatnya menjadi kesayangan kepala penjara. Sama seperti Paulus dan Silas juga menjadi kesayangan kepala penjara. Setelah kepala penjara bertobat, malam itu Paulus dan Silas dibersihkan tubuhnya, diobati dan diberi makan yang enak. Yusuf pun demikian sehingga ia menjadi kesayangan kepala penjara.

            Saudara dan saya akan menjadi kesayangan siapapun juga bahkan sampai pada masyarakat yang terendah, pendosa dan yang akan dihukum. Yusuf berperan besar di dalam penjara, tidak ada satupun pekerjaan yang tidak dikerjakan oleh Yusuf, semua dipercayakan kepada Yusuf. Saya ingin berdoa, “Tuhan tolong berikan Yusuf-Yusuf di rumah kita, di rumah tangga orang yang tidak percaya Tuhan, di penjara, di tengah perkara-perkara politik, kriminalitas, penyuapan dan korupsi.” Diperlukan orang-orang seperti Yusuf yang bisa menolong. Kita harus mendoakan keadaan di Indonesia, kejahatan terus meningkat, narkoba jalan terus bahkan sudah di dalam penjara masih melakukan bisnis narkoba, jika di situ ada Yusuf, maka hal itu tidak akan terjadi, walaupun Yusuf narapidana. Paulus juga narapidana, semua mengalami kuasa Tuhan yang luar biasa. Sesungguhnya Potifar adalah seorang yang pintar, dia tidak percaya cerita isterinya. Dia tidak percaya Yusuf berbuat seperti itu, tetapi mengapa dia sesaat bisa terpengaruh? Banyak orang yang menyaksikan kebohongan isterinya itu, “Saya tahu... saya tahu... saya tahu sendiri! Itu buktinya.” Saya membuktikan pada Saudara bahwa sesungguhnya Potifar mengetahui Yusuf tidak bersalah.

Kejadian 40:1-4a Sesudah semuanya itu terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu, maka murkalah Firaun kepada kedua pegawai istananya, kepala juru minuman dan kepala juru roti itu. Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung. Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka.

Di rumah kepala pengawal raja, siapa dia? Potifar. Seandainya Potifar benar percaya Yusuf pecundang yang mau memperkosa isterinya, mengapa dia mempercayakan dua pegawai raja yang salah itu untuk dipimpin, dibina, dituntun dan dilayani oleh Yusuf? Dari kisah ini, kita bisa belajar agar tidak cepat-cepat mengatakan ya atau tidak. Kita perlu periksa dengan baik agar tidak salah langkah. Nanti di situlah mulainya Tuhan berkarya. Di luar perkiraan Yusuf, di luar perkiraan Musa bahkan juga di luar perkiraan kita. Semuanya ini Allah yang mengatur. Allah yang membiarkan semua itu terjadi untuk rencana-Nya yang besar.

Iman Saudara dan iman saya mungkin akan menghadapi banyak gejolak, tetapi iman kita adalah iman kepada firman Allah, maka semua yang terjadi dalam hidup kita bukan tanpa maksud Tuhan yang indah. Seringkali kita mengatakan pada kebaktian penghiburan, rencana Tuhan indah tetapi kita tidak mendalami maksud Tuhan yang indah sehingga hanya sampai pada persoalan yang sudah lewat yaitu kematian. Bagi kita yang masih hidup, apakah kita yakin bahwa masalah-masalah yang tidak kita inginkan namun terjadi seperti difitnah, diejek, diboikot dan ditolak, dikerjakan oleh Tuhan untuk mencapai suatu klimaks kesempurnaan?

Mazmur 105:16-19 Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya.

            Kita masih sampai pada waktu Yusuf masuk ke dalam penjara, masih ada waktu. Berapa tahun? Saya tidak tahu. Berapa tahun kita harus alami penderitaan? mengalami gejolak jiwa yang mungkin tidak dapat kita terima dengan baik, “Mengapa ini terjadi Tuhan?  Ayat ini  sungguh indah bahwa Allah tidak pernah salah sedetik pun yang merugikan saya dan Saudara.

Mazmur 105 : 19 – 20 sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya.

Kondisi tersebut diatur oleh Tuhan. Jika kita mengerti hal ini, mari belajar untuk saling mendorong, “Jangan lupa datang PA.” Apapun juga kita belajar memprioritaskan Tuhan karena Tuhan mempunyai rencana yang kekal. Jika kita mengikuti kehendak Tuhan, maka Tuhan yang mengatur. Saya berterimakasih pada Tuhan jika membaca ini, jangan ada pamrih sedikitpun dalam diri saya. Saya harus katakan pada Saudara bahwa kita harus rela untuk tunduk.

Amin.