Pendalaman Alkitab Kitab KEJADIAN

Jumat, 26 Agustus 2016

Pdt. Paulus Budiono

 

            Shalom.

Satu pertanyaan bagi yang menyanyikan ‘Dengan segenap hati. Dengan segenap jiwa. Dengan segenap kekuatan’? Apakah sepanjang hari tidak mengerjakan apa-apa, hanya menunggu waktu kebaktian, baru bisa segenap hati dan kekuatan. Jika separuh hari bekerja, apakah bisa segenap hati? Ada yang sepenuh hati bekerja mencari uang, mengajar, atau melakukan hal lain lalu beribadah dengan capek, sehingga ada yang meminta agar ibadah dibuat lebih santai. Bagaimana kita bisa dengan segenap hati beribadah, jika tubuh sudah lelah, bahkan hatipun lelah? Saya mengatakan ini karena sayapun demikian. Tuhan mengetahui dan mau menolong kita. Hati ini memang ingin segenap hati, kekuatan kitapun demikian, tetapi apabila kita sedang tidak sehat, apakah bisa dengan sepenuhnya? Lagu ini membuat kita merindukan dan memohon untuk dimampukan beribadah dengan segenap hati. Mungkin kita membaca Alkitab dengan segenap, tetapi tidak bisa segenap hati untuk menelaah. Kita kadang tidak tertarik dengan suatu kisah, sehingga hati kita bercabang ke tempat lain. Tuhan mengetahui semuanya.

Dua minggu yang lalu kita dikejutkan dengan satu kisah yang disisipkan dalam kitab Kejadian. Allah menginginkan benih yang merupakan gambar bayang lahirnya Kristus, yang menjadi pokok keselamatan. Jika kita perhatikan, kisah Yusuf tidak ada hubungan dengan garis keturunan yang Tuhan inginkan karena Yusuf bukan anak sulung, sekalipun dari ibu Rachel, dia adalah anak pertama dan adiknya Benyamin yang terakhir. Tetapi mengapa kisah ini mengunci  kitab Kejadian? Ada apa dengan Yusuf? Dalam kitab Keluaran kita melihat bahwa Yusuf hanya salah satu keturunan Yakub. Bahkan nama Yusuf tersingkirkan, diganti dua nama Manasye dan Efraim, yang semakin menonjol adalah Yehuda, yang baru kita dengar Jumat dua minggu lalu. Kisah Yusuf cukup panjang, mulai pasal 37 dilanjutkan pasal 39 sampai 50 semua berkisah tentang Yusuf. Sepertinya ada persaingan dengan nenek moyangnya, Abraham. Abraham muncul pada akhir pasal 11. Lalu dimulailah panggilan Allah kepada Abram pada pasal 12 dan diakhiri pada pasal 25. Jadi kurang lebih sama. Sementara kisah Ishak dan Yakub tidak terlalu banyak.

Setelah Yusuf meninggal, dilanjutkan dengan kisah keturunan Yakub. Kurang lebih selama 400 tahun tidak ada suara Allah, tidak ada suara nabi, sampai setelah kitab Keluaran diceritakan tentang jeritan keluarga Yakub karena penderitaan, muncullah Musa. Saya mengajak Saudara untuk mempelajari  riwayat hidup Yusuf. Tuhan menginginkan peristiwa dari Yusuf  dimasukkan secara khusus, agar kita bisa melihat betapa luar biasanya rencana Allah. Kita terkadang mengangaap Allah itu monoton, seolah Allah tidak bisa diubah lagi. Jika sudah satu dua tiga, maka seterusnya satu dua tiga. Kadang susunan tersebut benar, tetapi terkadang juga tidak karena Allah itu hidup. Sesuatu yang hidup jangan diubah menjadi mati. Sesuatu yang mati akan membuat kita juga ikut mati perasaan, gairah dan segalanya, sehingga ibadah hanya rutinitas dan tidak ada suatu perkembangan. Semoga kisah Yusuf ini akan menggairahkan kehidupan kita.

Kejadian 37:1-2 Adapun Yakub, ia diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan. Inilah riwayat keturunan Yakub, Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun jadi masih muda biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya.

Penumpangan berarti ayah Yakub, yaitu Ishak tidak memiliki tempat di Kanaan, juga ayah Ishak, yaitu Abraham sebagai seorang penumpangan saja. Padahal Tuhan menjanjikan untuk memberikan Kanaan. Masih janji kosong kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Di sini diulangi oleh Musa, dengan tuntunan Roh Kudus untuk menyatakan tentang nenek moyangnya, Yakub. Yakub adalah kakeknya karena Musa adalah keturunan Lewi dan Lewi adalah anak Yakub. Musa seolah-olah mengejek Yakub kakeknya yang menurut janji Allah akan mendapat tanah Kanaan, tetapi masih tinggal di penumpangan ayahnya. Ini indah sekali dan ditulis untuk diperhatikan. Iman, itulah salah satu yang ada pada Yakub dan juga nanti pada Yusuf. Jika kita membaca kitab Ibrani, setelah iman Yakub memberkati kedua anak Yusuf, maka dikatakan, “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya...” Hampir sama dengan ayahnya, Yakub. Dia bukan memberkati, tetapi mengatakan bahwa mereka nantinya akan kembali ke tanah Kanaan, di mana waktu itu mereka berada di Mesir. Jadi ada suatu bukti bahwa Yusuf juga memiliki iman. Iman di tempat yang bukan miliknya.

Jika kita perhatikan tulisan ini, “Inilah riwayat keturunan Yakub...” sampai akhir tidak banyak menyinggung tentang keturunan Yakub. Hanya nubuatan yang disampaikan oleh Yakub,  tetapi justru yang ditekankan ialah Yusuf, sungguh aneh. Ruben tidak dibicarakan lagi, juga Lewi, Naftali, semua tidak disebutkan, hanya Yusuf. Bagi saya ini adalah sesuatu yang pasti mengandung maksud Tuhan karena Alkitab ini bukan rekayasa manusia, tetapi adalah gerakan Roh Kudus, di mana Tuhan menguasai Musa untuk menceritakannya.

Pada masa itu Musa belum lahir, tetapi ia menuliskan kisah tentang Yusuf ini. Yusuf  adalah seorang yang lain dari yang lain, ayahnya pernah mengatakan Yusuf diberkati karena dia sangat berbeda dari saudara saudaranya. Kita akan membaca kisah Yusuf secara global agar  bisa mendapatkan gambaran tentang pribadi Yusuf, waktu Yakub bernubuat tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang :

Kejadian 49:22 - 24 Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel,

Kejadian 49:26 Berkat ayahmu melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya.

Ada suatu perbedaan yang mencolok sekali, seperti jika Yusuf berjalan ke kiri, sebelas saudaranya termasuk adiknya yang paling kecil mengambil jalan yang lain, sama sekali berbeda. Pada Yusuf tidak terdapat cacat cela, mulai pasal 37, pada waktu Yusuf berumur 17 tahun, dia sudah membuktikan tidak kompromi dengan kejahatan saudara saudaranya. Yusuf belajar menggembalakan domba bersama saudara-saudaranya, Yusuf tidak terlibat dalam kejahatan, Tuhan memilih dan menyiapkan dia untuk dipakai menyelamatkan seluruh kerajaan Mesir dan keluarganya, keluarga orangtuanya dan juga semua orang Kanaan.

Tuhan memilih Yusuf yang tanpa cacat cela, Tuhan tidak memilih Yehuda yang memiliki  riwayat buruk, Tuhan tidak memilih Ruben karena ia sudah mengotori tempat tidur ayahnya. Di sini Tuhan menunjukkan bahwa ada sosok Yusuf yang akan menjadi bayangan dari seorang yang juga lahir tanpa cacat cela, itulah Yesus. Kita akan melihat persamaannya, bahwa Yusuf  merupakan gambar bayang untuk keselamatan yang mengglobal, menjadi penyelamat bagi negara Mesir khususnya dan juga orangtuanya yang di Kanaan dan semuanya. Ini ada persamaannya dan mengandung suatu makna bahwa dia tidak ada cacat cela sejak dari lahir, tidak ada ayat mengatakan dia menipu atau berkelahi atau nakal, kita membaca :

Ibrani 7:24 - 26 Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,

Saya ambil suatu perbandingan, Yusuf sebagai bayangan kehidupan Yesus yang tanpa cacat cela, bahkan jauh melebihi Yusuf. Yusuf menceritakan kejahatan saudaranya dan karena dia menerima pakaian yang indah dari ayahnya maka muncul ketidakpuasan dari saudara-saudaranya sehingga mereka sangat membenci Yusuf. Yesus juga begitu, Dia lahir tanpa cacat cela, hidup dalam pelayanan, juga dibenci oleh saudara saudaranya, oleh keluarga Yahudi. Dalam kitab Yohanes dikatakan Dia datang tetapi umat-Nya tidak menerima-Nya, keluarga-Nya menolak, mirip dengan kehidupan Yusuf.

Kita tahu Yusuf sangat dicintai ayahnya, Yesus juga dicintai Bapa-Nya. Selanjutnya Yakub mempercayakan Yusuf untuk menengok saudara saudaranya yang sedang menggembalakan di hutan, dia pergi dan tidak kembali karena dijual. Yesus datang ke dalam dunia, Dia menyampaikan Firman, tidak disukai, yang menuju pada penderitaan dan salib. Waktu Yusuf bermimpi, semakin mengungkapkan mimpi, semakin membuat saudaranya tidak senang, sehingga Yusuf dijual dan mengalami suatu kondisi yang merosot, dari anak kesayangan Yakub, menjadi budak, Yesus dari anak yang dicintai Bapa, Dia turun menjadi hamba, budak, Filipi 2 menyatakan itu ada persamaannya. Kondisi Yusuf semakin merosot hingga puncaknya ia masuk penjara. Yesus juga demikian, Dia dituduh sampai akhirnya mengalami penyaliban. Yakub merasa Yusuf sudah mati, Yesus benar-benar mati di kayu salib.

Selanjutnya dalam kehendak Tuhan Yusuf dikeluarkan dari penjara dan diangkat  menjadi perdana mentri dan dia tidak pernah turun jabatan lagi, selamanya tetap menjadi perdana mentri sampai meninggal umur 110 tahun. Yesus direndahkan sampai titik nol, titik terendah, Dia mati dan bangkit, kemudian diangkat oleh Allah menjadi Tuhan dan Kristus, menjadi Raja segala raja, selama-lamanya Dia tidak pernah lagi turun, tidak pernah lagi menjadi manusia, Dia sudah bangkit dalam kemuliaan.

            Kita melihat bahwa kisah Yusuf merupakan sejarah bangsa Israel yang mempunyai satu bayangan keselamatan, yang di kemudian hari mereka akan sangat menderita dan mengeluh. Yusuf mengatakan bahwa suatu waktu Allah akan membawa mereka kembali ke tanah Kanaan. Yesus juga berkata kepada murid-muridNya, “Aku pergi untuk menyediakan tempat di sana.” Yusuf mengatakan, “di Mesir nanti pada waktunya, Allah akan membawa kamu keluar dari Mesir kembali ke Kanaan.” Jadi ada suatu gambar bayang yang begitu indah yang seringkali kita lupakan. Mengapa Tuhan harus menceritakan ini dalam kitab Kejadian? Karena Tuhan ingin kita melihat Perjanjian Lama dan semua tokoh-tokoh yang pernah ada, terutama dalam kitab Kejadian. Kita menemukan bayangan tentang Yesus yang akan datang. Jika kita tidak mau mendalami, memahami kitab Kejadian dan merasa bersyukur dengan tokoh Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf dan sebagainya, nanti kita tidak akan bergairah untuk menelusuri kitab Keluaran dan kitab-kitab yang lain.

            Ada seorang ibu, sewaktu dia mengenal Tuhan, mencoba menyelidiki apakah betul Yesus yang dikenalnya dalam Perjanjian Baru ada dalam Perjanjian Lama. Dia benar-benar menyelidiki karena dia mencintai firman Allah. Ini yang mendorong kita, terutama hamba-hamba Tuhan untuk mau membaca lagi dan menemukan Yesus dalam Perjanjian Lama - khususnya dalam kitab Kejadian karena kitab Kejadian merupakan permulaan segala-galanya. Jika kita kehilangan pribadi Yesus dalam bayangan di kitab Kejadian, kita akan kehilangan sosok Yesus di dalam kitab Keluaran dan seterusnya. Tetapi jika kita menemukan sosok dan bayangan-Nya, ini akan mendorong dan menggairahkan kita untuk mencintai kitab-kitab yang lain. Ibu ini bukan pendeta, tetapi dia menyelidiki dan sangat terpesona, dia begitu mencintai Tuhan. Dia memeriksa dan menulis sebuah buku, dia mengatakan bahwa Alkitab ini adalah gambaran Kristus.

27 kitab Perjanjian Baru dari Matius sampai Wahyu penuh dengan nama Yesus, tetapi di dalam 39 kitab Perjanjian Lama, hampir tidak ada. Kita melihat kitab Kejadian dikunci dengan riwayat Yusuf karena Tuhan ingin kita mengetahui bahwa di dalam tokoh-tokoh yang sebelumnya, kita akan menemukan bayangan Yesus, sehingga jika kita membaca Alkitab terutama Perjanjian Lama, kita hendaknya menemukan Kristus. Dulu saya pernah mengatakan ini dan kita juga mencobanya, tetapi lama kelamaan lupa, hanya membaca untuk menemukan manfaat dari  ayat-ayat itu. Jika ada ayat yang tidak saya mengerti dan tidak menjadi berkat buat saya – saya abaikan. Tetapi terimakasih, waktu kami coba membaca, kami diingatkan kembali, jika orang lain yang bukan hamba Tuhan dapat menemukan Yesus di dalam setiap kitab Perjanjian Lama, mengapa kita hamba-hamba Tuhan tidak suka membaca Alkitab secara serius dan menemukan bayangan Yesus di dalamnya, khususnya kitab Kejadian.

            Saya mengajak mundur ke Yakub, ayah Yusuf, yang mengalami peristiwa bertemu Yesus dalam suatu mimpi. Waktu melarikan diri, di tengah perjalanan Yakub bermalam dengan berbantalkan batu. Dia melihat tangga sampai di langit. Yakub mengatakan, Inilah rumah Allah, pintu gerbang sorga.” Apa hubungannya waktu kita membaca kitab Kejadian dengan Yesus dan tentang tangga ini? Yakub melihat Allah di atas tangga dan berkata, “Akulah Allah kakekmu, nenekmu juga ayahmu, Aku akan memberkatimu”. Waktu Yakub bangun reaksinya adalah ketakutan bahwa ini adalah rumah Allah, pintu gerbang surga. Jadi seolah-olah tangga ini menghubungkan manusia Yakub yang di bawah bisa sampai ke Allah yang ada di Surga.

Jika kita tidak mengenal Yesus atau tidak suka membaca Perjanjian Baru maka tidak ada hubungan dan kita akan cuek saja. Tetapi pada waktu kita membaca Yohanes 1 dengan teliti, luar biasa bahwa sesungguhnya pada malam waktu Yakub bermimpi, yang berbicara itu adalah Yesus, karena Allah Tritungal, kita membaca :

Yohanes 1 : 47 – 51 Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."  Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

Tangga itu Anak Manusia, siapakah dia? Itulah Yesus. Jadi pada waktu itu Allah telah muncul dalam mimpi Yakub, Dia telah ada. Yesus juga mengatakan, “sebelum Abraham lahir, Aku sudah ada.” Orang Yahudi tidak percaya, mereka mau memukul dan menangkap Yesus, karena mereka tidak mengerti kaitannya Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Kita tidak bisa mengenal Yesus tanpa Perjanjian Lama. Jangan berkata, Saya kenal Yesus tetapi tidak mau membaca Perjanjian Lama.” Dia tidak akan betul-betul mengerti apa maksud Allah menjadi manusia. Ini salah satu kaitan bait Allah dan suatu ibadah.

Saat itu Yakub begitu gemetar, tetapi Yohanes, Nataniel yang tadinya mengejek, menjadi  percaya maka dia bertumbuh, muncul ungkapan-ungkapan yang lebih besar tentang Yesus. Yesus mengatakan, “Akulah jalan, Akulah kebenaran dan Akulah kehidupan.” Itu akan membuat kita sangat tergairah - ini tentang Yakub. Saudara bisa membaca lagi kisah Yakub dan lain-lainnya, di situ akan muncul bayangan Yesus dalam kehidupan Yakub.

            Kita mundur lagi, apa yang terjadi dalam kisah Ishak? Sekilas Ishak gambar Yesus, karena Abraham menyerahkan anak tunggal yang paling dicintainya - maka Allah mengasihi isi dunia dan memberikan Putra tunggal-Nya yaitu Yesus yang sangat dikasihi-Nya.

            Coba kita bandingkan, mengapa Allah menyuruh Abraham untuk menyerahkan anaknya, ada kemiripan dengan Yohanes 3:16, kita melihat bayangan pada Ishak, tetapi Yesus adalah wujud yang sebenarnya, akan membuat kita sangat berterimakasih. Namun bayangan perlu kita ketahui supaya dengan melihat bayangan yang ada kita sudah tertarik, apalagi  kita lihat wujud yang sesungguhnya. Ini maksudnya waktu kita melihat Perjanjian Lama, ini bayangan, tetapi waktu kita melihat Perjanjian Baru, ini wujudnya, luar biasa, kita sangat berterimakasih. Kita membaca waktu Ishak dikorbankan.

Kejadian 22:7 - 13 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"  Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

Bisa melihat bayangan? Pasal 22 Allah mengatakan “Bawa anak tunggalmu yang sangat kaukasihi, Ishak, ke Muria. Di situ akan Kutunjukkan tempat di mana kau korbankan Ishak untuk Aku. Abraham tidak meleset tetapi Allah yang meleset, sepertinya tidak konsisten. Kita melihat andaikata Ishak betul-betul dibunuh, Yesus tidak bisa lahir lewat keturunan secara hukum. Mengapa ada pengganti domba jantan? Domba jantan itulah Yesus. Ishak juga bayangan Yesus. Kadang tanpa sadar kita khotbah Ishak itulah gambar Yesus, dikorbankan. Padahal Ishak tidak dibunuh, domba jantan dibunuh, tetapi Yesus dibunuh. Allah tetap  konsisten, Allah mempunyai cara, bukan Ishak, tetapi domba jantan. Karena itu Yesus disebutkan domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia. Jika kita masuk dalam kondisi Abraham dan Ishak pada waktu itu tanpa domba jantan yang Tuhan sediakan, bagaimana perasaan kita? Walaupun Abraham percaya nanti anaknya Ishak akan bangkit, disebutkan dalam Ibrani. Karena itu setelah lewat beberapa waktu, terungkap iman Abraham.

Di sini kita bisa melihat betapa Allah sangat mengenal hati manusia. Tetapi manusia tidak  tahu hati Allah waktu memberikan Putra tunggal-Nya betul-betul mati, supaya kita digairahkan kembali arti menghormati korban Kristus, arti menghormati darahNya. Jika kita tahu ini, kita tidak akan sembarangan dalam mengambil perjamuan Tuhan. Karena kita tahu pada zaman dahulu sudah ada bayangan yang diberikan sehingga kita bisa melihat bahwa Ishak hanyalah bayangan, termasuk domba jantan juga bayangan dari Anak Domba Allah yang disembelih.

Kita bisa masuk dalam Perjanjian Baru waktu Yesus disembelih sehingga kita tidak bermain-main dalam persoalan bayangan ini karena wujudnya adalah Yesus sendiri yang nyata. Pada waktu itu pribadi Sang Putra ada di situ melihat semua yang sedang terjadi. Kita bisa melihat bagaimana Abraham muncul. Ada ayat mengatakan, “Sebelum Abraham lahir Aku sudah ada. Di manakah Dia? Di manakah Yesus? Di manakah bayangan Yesus? Kita bisa melihat kembali dalam Kitab Kejadian bahwa sesungguhnya Yesus, Dia sudah ada pada awal permulaan, Dia sudah ada dalam penciptaan dan Dia ada di situ untuk mengawali penciptaan-Nya. Itu sebabnya Injil Yohanes mengatakan pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama dengan Allah, dan Firman itu Allah.

Yohanes 1: 1 – 3 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Segala sesuatu dijadikan oleh Firman. Pada mulanya Allah menjadikan langit dan bumi. Seolah olah kita tidak mendengar ada Firman. Tetapi setelah itu berfirmanlah Allah, jadilah terang. Maka seterusnya Allah berfirman. Allah Tritunggal sudah ada di situ. Jika kita membaca Perjanjian Baru, kita mengeenal Yesus adalah Firman, maka otomatis kita akan mencintai Kitab Kejadian 1 : 1.

Kejadian 1:1  Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Yohanes 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 

Firman itu adalah Allah. Dia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Firman bersama dengan Allah dan Firman itu Allah. Allah saya rubah menjadi Firman karena Firman itulah Allah maka pada mulanya Firman menciptakan langit dan bumi. Dengan lain kata jika kita cinta Yesus, kita cinta kitab Kejadian. Kita tertarik Kejadian 1:1 - 31. Dikatakan semua Allah melihat, Firman  melihat apa yang diciptakan-Nya itu semuanya sangat baik. Itu sebabnya saya sendiri didorong, kita banyak  kekurangan, kelemahan tetapi kami merasakan perlu mencintai Alkitab, ini sungguh penting sekali.

Itu sebabnya saya katakan jika kita mempercayai Yohanes 1:1 : Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, bagi Dia. Kita melihat langit dan bumi ciptaan Firman. Betapa luar biasanya Firman ini, tetapi jangan lupa Firman itu pada mulanya menciptakan yang tidak ada menjadi ada. Yang kelam kabut, kosong menjadi berisi dan begitu indah, oleh karena Yesus. Jika kita membaca kitab Kejadian pasal 1-50 di dalamnya penuh dengan bayangan-bayangan Yesus. Saya mau belajar melihat ciptaan Allah itu baik. Kalau tidak baik karena kondisi dunia, saya masih tetap percaya jika Dia berfirman, yang rusak menjadi baik. Itu akan mengurangi stress, ketidaksenangan dalam hidup ini. Jika mendengar sesuatu yang tidak baik, dulu saya stress, marah, tetapi Firman, Yesus, Dia bersabda jadilah tenang, betul-betul tenang, jadilah tahir, betul-betul tahir. Untuk apa? Supaya yang stress tidak stress lagi, yang terpisah karena dosa disatukan kembali hanya oleh Firman itu berkata. (Kejadian pasal 1).

Firman itu adalah pribadi Yesus, Firman itu menjadi manusia, kata Yohanes 1:14, apakah Dia ada dalam keluarga Abraham, Ishak dan Yakub? Dalam Kejadian 5, kita membaca :

Kejadian 5:1-3 Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama "Manusia" kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.

            Set ada setelah Habel mati setelah Kain diusir, ditulis kembali oleh Musa pada Kejadian 5, Kain tidak termasuk urutan, tidak dipercaya lagi untuk memberi keturunan dari Adam, karena sudah diusir. Tetapi Alkitab mencatat Set menggantikan Habel berarti Habel ini sangat penting, menjadi suatu urutan keturunan. Apakah Yesus ada di dalamnya? Apakah kita dapat menemukan bayangan Yesus di dalam silsilah ini? Kita membaca :

Lukas 3:23 Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli,

 Judulnya silsilah Yesus. Perhatikan, mulai garis keturunan yang ditarik ke bawah, Dia termasuk keturunan siapa? Apakah Yesus adalah keturunan Yusuf?

Lukas 3 : 31 – 33, 36 - 38  anak Melea, anak Mina, anak Matata, anak Natan, anak Daud, anak Isai, anak Obed, anak Boas, anak Salmon, anak Nahason, anak Aminadab, anak Admin, anak Arni, anak Hezron, anak Peres, anak Yehuda,..... anak Kenan, anak Arpakhsad, anak Sem, anak Nuh, anak Lamekh, anak Metusalah, anak Henokh, anak Yared, anak Mahalaleel, anak Kenan, anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

Yesus anak Yusuf, anak ini, anak ini sampai Yesus keturunan Daud. Terdapat nama Peres juga, Peres muncul dari hubungan Yehuda dengan anak menantunya sendiri tetapi ditulis dalam silsilah. Jika diteruskan Yesus adalah keturunan Sem, Henokh yang diangkat hidup-hidup, keturunan Adam. Yesus adalah Firman; adalah Allah. Sebenarnya waktu Set lahir, Firman itu ada. Waktu Nuh lahir, Firman itu ada sampai pada Yusuf, Yesus ada. Jadi, Yesus bukan baru ada 2000 tahun lalu. Setiap kali Natal, Yesus lahir di palungan. Dari dahulu sudah ada, ini yang mendorong saya dan Saudara untuk mencintai Alkitab yang adalah Firman yang dari awal Kejadian sebelum ditulis pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,  jauh sebelumnya sudah ada. Sangat tidak menyenangkan Tuhan jikalau kita tidak suka membaca Alkitab yang hanya 66 kitab. Mari kita mau belajar! Karena Firman itu tetap bersama. Alkitab ini bisa tercecer atau lenyap, tetapi Firman kekal selama-lamanya, itu yang perlu terukir dalam hati kita.

Firman itu begitu merendahkan diri sebagai keturunan manusia, sebagai keturunan Yusuf ditulis dengan cermat dan rapi oleh seorang dokter yang bernama Lukas yang mengetahui tentang kelahiran-Nya, dipersembahkan kepada yang mulia Theofilus, supaya bapa yang terhormat mempercayainya bahwa ini benar. Tulisannya yang kedua Kisah Rasul ditulis lagi untuk orang yang sama. Saya percaya dengan iman saya pasti bapak Theofilus yang terhormat sebagai seorang yang berkedudukan menerima dua gulungan tulisan dari Lukas, dia simpan akhirnya boleh menjadi bagian saya dan Saudara. Betapa kita senang dan berterimakasih  sekali.

 Kita tahu bahwa Yesus secara fisik itu ada silsilahnya. Bagaimana dengan Saudara dan saya keturunan siapa? Ada yang menjawab saya keturunan Cina, saya keturunan Batak. Orang Cina, Batak dari keturunan Sem, Sem adalah keturunan Nuh. Nuh adalah keturunan Set. Kita  adalah keturunan dari Adam. Jika Yesus juga disebut keturunan Adam, maka kita dan Yesus adalah saudara, ada hubungan yang erat sekali. Jika kita membaca kitab Kejadian, sungguh luar biasa, dari ayat per ayat Dia ada di dalamnya, tidak ada sesuatu yang bisa terjadi tanpa Dia. Semua yang terjadi adalah karena campur tangan Yesus yang adalah Firman.

 Kembali pada Yusuf, dia mengalami penderitaan yang sangat namun akhirnya dimuliakan untuk menyelamatkan keluarga dan bangsa kafir. Yesus juga setelah melewati penderitaan-Nya, Dia mengajak kita untuk menerima kemuliaan yang telah disediakan. Yusuf adalah gambar bayang Yesus, karena ada persamaannya, tetapi bukan berarti Yusuf itu Yesus! Bukan! Karena Yusuf menikah, Yesus tidak. Kita harus bisa melihat persamaan dan  perbedaannya. Ada yang mengatakan Abraham bayangan Allah Bapa, Ishak anak Allah, Yakub  Roh Kudus. Hati-hati, jangan asal comot! tetapi kita bisa melihat bayangan-bayangan Kristus   pada penyelamatan. Jika Tuhan ijinkan pada waktu mendatang, kita akan merenungkan khusus tentang Yusuf, tidak hanya mengambil filosofi yang baik dari kehidupan Yusuf tetapi kita akan belajar setiap pribadi dalam Alkitab ini ada kaitan dengan keselamatan. Jikalau tidak ada kaitan dengan keselamatan, maka semua kebaikan sekadar filosofi manusia. Alkitab mencerminkan keselamatan yang Yesus kerjakan, maka Alkitab ini menjadi hidup, firman Allah hidup. Dia firman menjadi manusia, menjadi pribadi Yesus, maka keselamatan ini mutlak, bagi kita semua.

Amin.