Setia Pada Perkara Kecil, Perkara Besar Telah Menanti

 

Berawal dari memohon izin untuk mendirikan sekolah minggu di Kendangsari, Ibu Hana dan Ibu Silviati mendapat pesan dari Bpk. Pdt. In Yuwono (alm.) agar mereka mengutamakan kualitas bukan kuantitas dan setia kepada perkara kecil maka akan diberi perkara yang besar.

Berdirilah sekolah minggu Kendangsari pada tanggal 25 Februari 1979 dengan murid ber-jumlah 9 anak. Oleh kemurahan Tuhan, sekolah minggu ini sempat berkembang mencapai 350 murid.

setia-1

Setelah Sekolah Minggu berjalan 12 tahun, Ibu Hana mempunyai visi pelayanan keluar untuk melayani orang-orang miskin (prasejahtera). Visi ini disampaikan kepada murid-muridnya termasuk anak dari Ibu Silviati yang kemudian menyarankan ibunya agar rumahnya (Pondok Sedati Asri Blok E 3 Sidoarjo) digunakan untuk pelayanan tersebut. Ibu Silviati setuju dan pada tanggal 31 Desember 1991 Yayasan Pondok Kasih disahkan di depan notaris. Kegiatan dimulai dengan menampung satu orang lansia pada tanggal 3 Juni 1992.

setia-2

Karena Ibu Silviati bekerja di kantor yang mengelola perumahan Pondok Sedati Asri, beliau mengajak Ibu Hana menemui pimpinannya untuk negosiasi tanah (Blok D 1 – E 2) di seberang Pondok Kasih, menghasilkan persetujuan tanah tersebut dihibahkan kepada Yayasan Pondok Kasih pada tanggal 4 Januari 1993.

Tanggal 12 Mei 1993 tanah Blok D 1 – E 2 mulai di-bangun dan banyak sekali halangan serta rintangan harus dialami sehingga pelaksanaan pembangunan terhenti empat kali. Akhirnya bangunan tersebut selesai dalam waktu 4 tahun. Pada bulan April 1997 gedung tersebut sudah dapat dipergunakan untuk menampung anak-anak dan orang tua. Harus diakui tantangan demi tantangan menghadang, hanya oleh kemurahan dan perlindungan dari Tuhan panti dapat eksis dan beraktivitas sampai sekarang.

setia-3

Perkembangan selanjutnya, ibu dr. Cecilia (dokter pertama panti) berkunjung ke panti dan menyarankan rumah di depan panti (Blok FA 4 dan FA 5) dibeli. Oleh kemurahan Tuhan, tanggal 3 Juni 2010, rumah Blok FA 4 dan FA 5 menjadi milik Yayasan Pondok Kasih namun kondisinya sangat memprihatinkan dan perlu dibongkar.

Tanggal 12 Juli 2014 rumah tersebut dibongkar total dan selesai tanggal 29 September 2014. Ternyata kondisi bangunan tersebut tidak meme-nuhi syarat untuk ditempati sebab tidak meng-gunakan bahan-bahan yang sudah ditentukan. Meskipun 10 pilar dipasang untuk menyokong ba-ngunan tersebut, hasilnya tidak menolong sama sekali.

Sebagai penanggung jawab dari Pondok Kasih, ibu Silviati menjadi stres dan putus asa bagaimana ha-rus mempertanggungjawabkan kepada para dona-tor yang telah mendukung pembangunan ini. Beliau merasa bodoh dan ceroboh sehingga mudah tertipu. Dalam keadaan terjepit, Tuhan menunjukkan kasih-Nya melalui mukjizat.Tiba-tiba tanggal 2 Januari 2015, dua orang dari Jakarta menelepon beliau menanyakan tentang bangunan tersebut. Dengan berat hati beliau menjawab sejujurnya bahwa bangunan itu sangat rapuh. Mereka datang malam itu juga dan menyuruh membongkar total serta biaya ditanggung mereka. Pembangunan kembali dimulai tanggal 7 Februari 2015 dan tanggal 15 Juli 2015 kerangka bangunan telah selesai dipasang.

Di tengah-tengah menikmati mukjizat, ibu Silviati disadarkan melalui teguran Firman Tuhan di kebaktian Kaum Wanita (8 Oktober 2015) bahwa beliau tidak setia kepada Tuhan karena tidak lagi berfokus kepada-Nya. Dalam segala pekerjaan yang dilakukannya, beliau tidak lagi me-libatkan Tuhan berdampak sembrono dan tidak seserius seperti saat pembangunan panti pertama di Blok D 1 – E 2 yang berharap dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan tanpa menjalankan proposal atau mencari sumbangan.

setia-4

Bersyukur kepada Tuhan, beliau ditegur oleh Firman Tuhan yang tertulis di Galatia 5:19-21 agar tidak sia-sia melayani sebab beliau telah melayani tanpa mengenal waktu tetapi tetap hidup dalam sifat kedagingan seperti: mudah marah, geram, jengkel, salah paham, selalu menilai negatif akan orang lain dll. Jika sifat-sifat jelek semacam itu tetap dipertahankan, seseorang tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Beliau juga minta maaf kepada para donator yang telah berkurban untuk pembangunan FA 4 dan FA 5 karena beliau tidak dapat memper-tanggungjawabkan kepercayaan yang telah di-berikan kepadanya. Atas pengampunan yang telah diberikan, beliau mengucapkan banyak terima kasih namun beliau tetap memohon dukungan doa juga hendaknya saling me-nguatkan dan menasihati agar kita semua dapat melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan Nama Tuhan dipermuliakan. Amin. (Ibu Silviati)