Pertolongan Tuhan bagi keluarga Budiarto dan Naniek Yuliani

 

522 kesaksian

Shalom,

Kami berterima kasih telah mendapat pertolongan Tuhan. Operasi otak yang dialami istri saya, Lanny Ong, telah berhasil.

Seharusnya operasi dilaksanakan 6 bulan lalu tetapi kami terbentur biaya operasi yang besar mencapai Rp. 140 juta belum termasuk biaya obat dll. Jika melalui BPJS, hanya biaya operasi yang gratis tetapi untuk alat-alat dan obat-obat impor harus beli sendiri (¬Ī Rp. 60 juta). Dokter menyarankan agar segera dilakukan tindakan operasi karena penundaan dapat mengakibatkan tekanan pada cairan otak bertambah kuat sehingga otak mengalami pengecilan berakibat penderita bisa mengalami gangguan kejiwaan.

Tanggal 8 Juni 2015 operasi dilaksanakan sementara biaya yang terkumpul saat itu baru Rp. 15 juta itupun dari partisipasi teman-teman sekolah SMA dan bantuan dari Bpk/Ibu Gembala, Bpk/Ibu Yusuf Wibisono, bantuan dari Sdri. Christin yang mengkoordinasi bantuan dana. Sebetulnya teman sekelas menjanjikan Rp. 25 juta tetapi gagal dikarenakan beliau dipanggil Tuhan. Bapak Harianto dan Sdr. Wen Jin juga turut berkurban tetapi dana yang terkumpul belum mencukupi biaya operasi.

Operasi yang seharusnya memakan waktu 2 jam mundur menjadi 3 jam dan harus masuk ICU untuk pemulihan kesadaran, tekanan darah 230 selama 6 jam. Istri saya kritis 2 kali mengalami kejang-kejang. Akhirnya pukul 07:00, tekanan darah turun menjadi 174 dan dokter memperbolehkan istri saya dipindahkan ke ruang perawatan serta berpesan agar selalu dijaga karena dikhawatirkan tekanan darahnya naik lagi.

Pascaoperasi istri saya mengalami halusinasi dengan menjerit ketakutan melihat banyak ulat sebesar jari tangan di gorden. Dokter memutuskan untuk memberikan obat penenang kepadanya.

Hari Kamis keadaan istri saya membaik dan dokter mengizinkannya pulang dengan syarat biaya operasi dll. sudah dilunasi semua. Ternyata masih kekurangan Rp. 36 juta dan anak saya mendapat pinjaman Rp. 5 juta. Dengan terpaksa istri tetap tinggal di rumah sakit hari itu.

Hari Jumat, adik saya mendapatkan pinjaman Rp. 40 juta namun harus bayar bunga utang dengan maksimum pembayaran 3 bulan. Saya tidak ada pilihan selain menyetujuinya.

Sempat terpikir untuk menggunakan mobil kerja anak saya (milik atasannya) untuk jaminan pelunasan biaya rumah sakit tetapi saya membatalkannya karena ini merupakan perbuatan melanggar hukum.

Istri saya sering menangis bahkan tidak bisa tidur melihat kondisi keuangan keluarga. Saya mengajak dia berdoa kepada Tuhan dan berkat Tuhan turun, seorang ibu menelepon saya memberitahu ada donatur, Mrs. X, yang berkurban sebesar Rp. 20 juta.

Saya dulu berjualan mesin mie tetapi harta habis ludes ditipu oleh orang Tiongkok sampai saya diusir dari rumah yang saya jaminkan ke bank dan saya kontrak rumah sederhana. Di masa-masa krisis makan sehari hanya sekali, tiba-tiba Bpk. Frans (di Australia sekarang) mengirim sembako yang memang saya butuhkan.

Tuhan memang mahatahu dan mahaadil, berkali-kali saya mendapat berkat dari Tuhan dan Ia selalu menjawab permohonan saya meskipun dalam keadaan krisis keuangan seperti saat ini karena sudah 2 tahun pensiun. Yang tak kalah membuat hati terharu, adik pembantu saya menangis memberikan uang Rp. 200 ribu untuk membantu saya padahal gajinya hanya Rp. 600 ribu dengan tanggungan 2 anak. Saya hanya bisa berdoa, ‚ÄúTolonglah dia Tuhan.‚ÄĚ

Sekarang istri saya dalam proses pemulihan dan saya yakin Tuhan menolongnya untuk segera dapat beribadah kembali di Lemah Putro.

Kami benar-benar hanya dapat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus dan juga kepada semua yang telah menolong kami baik dalam doa maupun finansial. Kami tak mampu membalasnya, kiranya Tuhan sendiri membalas berlipat ganda. Amin.

 

Na Kiong Bun (Budiarto) dan Ong Lanny (Naniek Yuliani)