Tuhan Turut Bekerja Dalam Perkara Yang Kecil Sekalipun

 

Pada tanggal 26-31 Agustus lalu saya menghadiri sebuah seminar international di Kroasia. Untuk mengikuti seminar ini peserta harus mengikuti seleksi makalah beberapa bulan sebelumnya. Saya tahu Tuhan tidak akan memberikan semua berkat-Nya secara instan. Untuk itu saya berusaha memenuhi kriteria makalah untuk seminar tersebut dan akhirnya makalah saya lolos seleksi.

Ketika sampai di tempat tujuan seminar, saya tidak melihat orang Asia lain selain saya. Hal ini membuat saya gemetar dan grogi bukan main. Saya merasa paling bodoh dalam segala aspek baik keilmuan maupun bahasa. Sekalipun sudah terbiasa menghadapi banyak orang, saya kali itu minder luar biasa. Namun kemudian ada satu penghiburan karena datang peserta dari Jepang dan China serta Filipina, minimal ada kesamaan psikologis sesama Asia. Bagaimanapun juga penghiburan ini tidak banyak menolong terkait dengan kemampuan otak saya dalam mengimbangi kemampuan ilmuwan-ilmuwan dari pelbagai negara. Presentasi saya dijadwalkan di hari terakhir rangkaian seminar berarti selama itu pula saya gemetar dan takut bukan main. Saya berdoa mohon kekuatan dan berusaha memperbaiki presentasi dan terus berlatih.

Saya benar-benar dikuatkan dan merasakan penyertaan Tuhan melalui doa dan pembacaan ayat-ayat yang muncul sebagai renungan harian melalui program Alkitab di HP saya. Perasaan nyaman dan lembut tetapi kuat memenuhi hati saya hingga malam sebelum jadwal presentasi. Saya merasa segar disertai kekuatan luar biasa tanpa ada rasa takut dan gemetar menghadapi orang-orang pintar tersebut. Ketika bangun besok paginya, saya merasakan kekuatan baru – tidak berkeringat dingin dan gemetar. Saya sangat penasaran kira-kira ayat apa yang akan saya terima untuk hari itu? Saya yakin tidak ada suatu kebetulan terkait dengan janji Allah. Hari itu saya sangat bahagia karena ayat yang menjadi hadiah saya terdapat di 1 Korintus 3:16, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Saya serasa diingatkan dengan lagu Sekolah Minggu “Kalau Allah di pihak kita, siapa lawan kita? Ketakutan?” Ayat itu sungguh sangat berarti bagi saya dan saya tidak ingin meminta lebih kepada Tuhan. Keberanian menghadapi orang-orang pintar sudahlah cukup.

Ketika giliran saya dipanggil untuk maju, saya mempresentasikan makalah saya dengan tenang sampai selesai kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Lega sekali hati saya dan saya benar-benar sangat berterima kasih kepada Tuhan.

Tanpa diduga, seusai sesi pertama presiden dari organisasi ilmiah penyelenggara seminar menghampiri saya dan menyatakan apresiasi tinggi atas pemikiran yang saya sampaikan dalam presentasi. Beliau sangat tertarik dengan apa yang saya sampaikan dan bersedia untuk berkolaborasi dengan saya. Segera saya berpikir “hadiah apa lagi ini ya Tuhan?” Ketika saya memunguti Firman dari HP setiap pagi, itu sudah merupakan hadiah luar biasa karena sekalipun hanya satu ayat tetapi sungguh menguatkan. Ternyata, Tuhan masih menambahkan hadiah ekstra. Tidak hanya itu, beberapa saat kemudian datang seorang professor terkenal dari Amerika yang juga menyatakan hal sama dengan professor sebelumnya. Saya cuma merenung beginilah cara Tuhan bekerja. Kalau tingkap langit sudah dibuka tidak ada yang dapat menutupnya. Jujur, bukan pujian yang ingin saya sharing-kan di sini tetapi jalan Tuhan menolong saya – bukan berkat-Nya yang saya tonjolkan tetapi cara Tuhan mengajar saya. Yakinlah bahwa Tuhan akan memampukan siapa pun yang berseru kepada-Nya dan ini telah saya buktikan. Saya tidak berminat menjadi yang nomor satu tetapi saya hanya meminta sesuai yang Tuhan rencanakan untuk saya karena saya tahu Tuhan tidak akan merancang keburukan untuk hidup saya.

Pengalaman ini mungkin biasa dan termasuk perkara kecil dalam kehidupan tetapi saya justru dikuatkan dan diyakinkan oleh hal-hal kecil seperti ini karena ini membuktikan bahwa Tuhan turut bekerja dalam hal sekecil apa pun dalam kehidupan saya. Amin. (Toetik K)