Didikan Tuhan Mengandung Kasih

 

Di awal tahun 2007 saya berniat meninggalkan ibadah doa dengan alasan mengantarkan anak latihan renang sementara doa dapat dilakukan di rumah. Saya sendiri berolah raga renang dan suatu saat seusai renang saya berbilas di kamar mandi ketika saya tiba-tiba terpeleset dan badan terbanting dengan posisi miring bahu kanan menopang badan. Tangan saya begitu sakit setiap kali digerakkan dan baru sembuh setahun kemudian. Saat itu saya tidak sadar bahwa Tuhan sudah mulai ‘menyentil’ saya.

benny lunardiSekitar bulan Mei-Juni 2007 ada suara teguran Tuhan di hati tentang absen saya di ibadah doa melalui kesaksian istri Bpk. Yusak Pundiono sebelum meninggal yang mana Ibu Ella selalu mendengarkan lagu rohani dari CD dan lagu favoritnya terulang-ulang terus sampai mening-galnya. Hal tersebut saya saksikan kepada teman yang terkagum-kagum mendengarnya. Bahkan saya mengatakan, “Janganlah meremehkan ibadah karena kuasa Tuhan itu nyata.” Persis saat itu suara di hati mengingatkan kalau saya sendiri telah meninggalkan ibadah doa. Sayangnya, saya mengabaikan suara peringatan tersebut karena ‘godaan’ melalui teman menawari saya untuk menjualkan barang kimia yang agak langka di pasaran. Segera saya menawarkan ke teman lain dan tidak sampai satu minggu barang sudah terkirim ke Jakarta. Saya menunggu sampai bulan September pembayaran belum dikirim dan ternyata pembeli tidak mampu membayar karena terkena masalah pribadi sampai dipecat dari tempat kerjanya. Saya benar-benar shocked karena saya harus menanggung pembayaran seluruhnya dan semua hasil kerja bertahun-tahun habis seketika. Saya mengeluh kepada Tuhan, “Mengapa semua ini terjadi?” Kembali nada suara Tuhan di hati, “Karena kamu meninggalkan ibadah doa.” Saya minta ampun kepada Tuhan dan berjanji tidak akan meninggalkan ibadah kecuali sakit atau dinas pekerjaan yang berbenturan dengan jam ibadah.

Ujian bersifat didikan tidak berhenti di situ, pada pertengahan bulan September, kembali saya terkena masalah karena kesalahan instruksi dari kantor pusat di Jakarta, menyebabkan saya menjual barang yang tidak boleh dijual ke pedagang sehingga kantor berurusan dengan kepolisian dan gudang tempat saya bekerja dicekal polisi dan tidak boleh mengeluarkan barang sampai akhir Oktober. Sebagai konsekuensinya, saya dipanggil ke kantor pusat Jakarta untuk disidang. Saya benar-benar stres karena dalam waktu bersamaan saya harus mengangsur pembayaran barang sampai tahun 2009.

Akhir bulan September, saya disidang di Jakarta dihadiri oleh pemilik perusahaan, IGM dan beberapa manager juga kepala cabang Surabaya. Saya sudah pasrah sepenuhnya kepada Tuhan dan membayangkan akan dimarahi dan dicaci-maki oleh mereka. Namun ternyata perkiraan saya meleset jauh karena saya hanya ditanyai mengenai kronologi kejadiannya dan oleh kemurahan Tuhan saya dapat menerangkan dengan baik sesuai dengan bukti-bukti kalau ada kesalahan informasi di pusat. Seusai makan siang saya pikir sidang akan dilanjutkan tetapi dianggap sudah selesai. Saya jadi terbengong-terbengong karena penyertaan Tuhan begitu nyata bagi orang yang sudah mengaku salah dan minta ampun kepada-Nya. Ia akan membela dan tidak mempermalukan anak-Nya yang bertobat. Selesai istirahat siang, saya dan kepala cabang Surabaya diajak ke kantor pengacara untuk mendampingi panggilan Polda Surabaya. Saya pulang ke Surabaya pada hari Jumat dan yang luar biasa pada hari Minggu saya beribadah dengan istri dan Firman Tuhan yang disampaikan oleh gembala, Bpk. Paulus Budiono, persis mengenai masalah yang saya hadapi padahal saya tidak menceritakan masalah saya kepada bapak gembala karena saya tahu beban beliau sudah sangat berat. Dalam perjalanan pulang saya berbincang-bincang dengan istri, “Aneh ya, kok sepertinya bapak gembala mengetahui masalah kita padahal kita tidak bercerita kepada siapa pun! Firman yang disampaikan sudah menyelesaikan problem kita.”

Memang masalah telah selesai atas pertolongan Tuhan Yesus Kristus tetapi efek dari kebodohan saya yang meninggalkan ibadah doa, saya harus menepati janji membayar utang secara angsuran sampai tahun 2009. Kembali Tuhan mengizinkan saya mengalami kesulitan untuk mencicil, sampai tahun 2010 saya belum lunas membayar utang tetapi saya tidak lagi panik atau stres karena pengalaman pertolongan Tuhan sudah dinyatakan. Saya menjual hampir semua simpanan perhiasan hadiah nikah yang didapat dari orang tua dan famili yang tersisa hanyalah sepasang cincin pernikahan, satu liontin pertunangan, satu gelang dan beberapa perhiasan kecil yang cukup untuk hidup satu bulan kalau dijual.

Solusi dari Tuhan memang di luar pikiran kita! Tiba-tiba ada teman menawari saya pekerjaan kantor untuk istri saya tetapi tidak saya menanggapi dengan serius sebab jauh sebelum ‘musibah’ ini saya pernah mendorong istri untuk bekerja tetapi dia tidak bersedia. Ketika kami sekeluarga lagi makan bersama, saya bercerita tentang teman yang menawari kerjaan kantor untuk istri saya. Jawaban istri saya benar-benar di luar dugaan, dia langsung menyetujui demi masa depan anak-anak.

Peristiwa ‘didikan’ Tuhan ini membawa kebaikan terutama bagi saya karena saya bisa hidup berserah kepada kehendak Tuhan juga lebih dapat menikmati hidup dan bersyukur senantiasa kepada-Nya. Selain itu kami sekeluarga dapat menghargai ibadah dan oleh kemurahan-Nya saya lunas membayar barang yang ‘dimakan’ teman pada akhir bulan Juni 2014.

Melalui kesaksian ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menolong saya melalui didikan-Nya juga kepada bapak dan ibu gembala Paulus Budiono yang menggembalakan kami dan Firman Tuhan yang disampaikan sudah memberi kekuatan bagi kami sekeluarga. Saya juga berterima kasih kepada Bpk. Pendeta Draha (melayani renungan di kantor) yang banyak membantu doa dan tak ketinggalan saya berterima kasih kepada istri dan tiga anak saya yang telah ikut menanggung hajaran Tuhan karena kesalahan saya. Kiranya segala kepujian dan hormat hanya bagi Tuhan Yesus Kristus, Mempelai Pria Surga. Amin. (Benny Lunardi)