Yesus Bangkit Untuk Pembenaran Kita

 

Minggu, Lemah Putro, 16 April, 2017

Pdt. Paulus Budiono

 

Shalom,

Perayaan Paskah – kebangkitan Yesus – tidak dapat dilepaskan dari salib kematian-Nya. Apa makna salib Kristus bagi kita, apakah berupa simbol salib yang tergantung di leher, dipasang di bumbungan gedung gereja, di depan pintu kamar untuk mengusir setan dll. bahkan kemudian diberhalakan? Tak jarang benda salib tersebut diturunkan dan dibakar karena fanatisme agama tertentu. Atau salib sudah tidak relevan sekarang?

Apa kata Alkitab tentang kematian dan kebangkitan Yesus? Roma 4:25 menuliskan, “yaitu Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

Pada ibadah Jumat Agung, kita membahas Yesus diserahkan/disalibkan karena pelanggaran kita. Sebenarnya pelanggaran ini berawal dari pelanggaran yang dilaku-kan oleh nenek moyang kita, Adam dan Hawa, yang lebih mendengarkan rayuan si ular (Kej. 3:1-6) ketimbang perintah Allah berakibat mereka dihukum mati (Kej. 2:17).

Siapakah Yesus itu? Yesus adalah Manusia (keturunan Daud) yang dilahirkan oleh perawan Maria (Mat. 1:1,21) dan mati tersiksa disalib tetapi bangkit karena Dia adalah Anak Allah (Rm. 1:1-4). Dengan kata lain, Yesus adalah Manusia sekaligus Anak Allah.

Allah telah memutuskan pelanggaran akan perintah-Nya berakibat kematian dan Rasul Paulus menegaskan upah dosa adalah maut (Rm. 6:23a). Hanya Yesus, satu-satunya Juru Selamat yang dapat membebaskan kita dari hukuman maut melalui kematian-Nya disalib. Jadi, kita dibenarkan bukan hasil perbuatan kita tetapi karena iman kepada-Nya (Rm. 4:5-6).

Sebagai pengikut Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya juga menjadi pengalaman kematian dan kebangkitan kita seperti tertulis dalam Roma 6:4-8, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.

Ternyata Baptisan Air bermakna kita mati dikuburkan bersama Kristus dan mengalami kebangkitan bersama-Nya untuk hidup dalam pembaruan.

Bagaimana dengan kematian kita (yang sudah diselamatkan) juga kematian penjahat tersalib di sebelah Yesus yang bertobat? Kita bersama orang-orang percaya yang telah mendahului kita akan dibangkitkan ketika Ia datang sementara mereka yang masih hidup diubahkan (1 Tes. 4:15-17) dan sama-sama masuk dalam kerajaan seribu tahun. Berbeda dengan mereka yang tidak bertobat, mereka akan dibangkitkan dan berdiri di depan takhta putih siap menerima hukuman kekal dalam lautan api (Why. 20:11-15).

Dikatakan kita dibaptis dalam kematian serupa dengan Kristus, apa kesamaannya? Kita mempelajari apa yang terjadi ketika Yesus disalib menghadapi kematian-Nya dan ‘kematian’ apa yang kita hadapi. Ada tujuh perkataan yang diucapkan-Nya, yaitu:

1. “Ya Bapa, ampunilah mereka…” (Luk. 23:34)

Kita tahu Yesus mati bukan karena pelanggaran dosa tetapi Ia mati untuk orang-orang berdosa. Ia mengampuni dosa pelanggaran kita karena kasih-Nya.

Yesus telah memberikan teladan sempurna, kita juga harus dapat mengampuni orang lain yang menyakiti kita dan menguburkan segala kepahitan hati, dendam, kebencian dll. sehingga apa yang ada dalam hati ialah keinginan untuk meng-ampuni orang lain.

2. “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Luk. 23:43)

Dapat dibayangkan betapa sukacitanya hidup di dalam Firdaus yang dijanjikan Yesus kepada penjahat yang bertobat!

Yesus juga memberikan jaminan kepada mereka yang sudah dibaptis (menguburkan semua dosa) untuk menikmati sukacita Surgawi bersama-Nya sekarang juga. 

 

3. “…Ibu, inilah anakmu! (Yoh. 19:26)

Penjahat (yang bertobat) melihat dan mendengar Yesus (dalam kondisi tubuh begitu lemah) masih memikirkan keadaan ibu-Nya (janda) sepeninggal Dia dan ‘menitipkannya’ kepada murid-Nya.

Dengan menguburkan sifat-sifat manusia lama (dalam Baptisan Air), orang muda dapat menghormati orang tua terlebih kepada para janda yang hidup sendirian sehingga terjadi persekutuan indah antara generasi tua dan generasi muda. Kenyataannya, banyak orang muda menelantarkan orang tua dengan alasan kesibukan, tidak cocok dengan mertua, dsb. kemudian dikirim ke panti jompo. 

4. “Eloi, Eloi, lama sabakhtani yang berarti Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk. 15:34)

Yesus dan Allah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan namun dalam posisi-Nya sebagai manusia, Yesus sedih luar biasa karena merasa sendirian dan begitu jauh dari Bapa-Nya.

Introspeksi: pernahkah kita merasa sedih tak terkatakan ketika kita tidak ada kontak/hubungan dengan Tuhan saat kita malas berdoa, tidak membaca Alkitab juga tidak suka beribadah kepada-Nya? Atau kita tidak merasa ‘kehilangan’ sama sekali dan semua berjalan normal seperti biasanya? Waspada, jangan sampai kematian (fisik) menjadi perpisahan kita selama-lamanya dengan Allah karena konsekuensi hukuman kekal dalam lautan api (Why. 20:11-15). Bila kita tidak hidup serumah dengan orang tua lalu merasa kangen kepada mereka, kita masih dapat menghubungi mereka via HP, Skype dll. tetapi alangkah mengerikan bila hubungan kita dengan Allah terputus sama sekali. Tidak ada yang dapat mengem-balikan hubungan terputus itu kecuali pribadi Yesus. Saat ini masih ada kesem-patan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, jangan terlambat sebab kematian di luar Tuhan Yesus amatlah mengerikan dan berlangsung selamanya.

5. “…Aku haus! (Yoh. 19:28)

Dalam posisi-Nya sebagai Manusia, Yesus sangat menderita (fisik) dan mengalami kondisi makin lemah menjelang akhir hidup-Nya.

Tak dapat disangkal, kita juga mengalami penderitaan jasmani saat mengalami ‘kematian’ menguburkan sifat-sifat manusia lama. Misal: kita diejek karena diang-gap ‘berbeda’ tidak mau ikut-ikutan mengumbar hawa nafsu; kita tetap menderita miskin, hidup pas-pasan sementara yang lain hidup bergelimang kemewahan karena korupsi dst.

6. “…sudah selesai. (Yoh. 19:30)

Setelah meminum anggur asam, Yesus berkata,”Sudah selesai.” Artinya, Dia sudah menuntaskan pekerjaan yang diperintahkan Bapa-Nya.

Hendaknya kita tuntas (tidak setengah-setengah) dalam menguburkan/mematikan manusia lama kita sesuai dengan perintah Tuhan.

7. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (My spirit). (Luk. 23:46)

Di saat akhir hidup-Nya, Yesus menyebut Bapa, bukan lagi Allah, menunjukkan posisi sebenarnya yaitu kesatuan Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus.

Hendaknya kesatuan tubuh, jiwa dan roh kita serahkan kepada Tuhan karena Dia memberikan jaminan kuat atas keselamatan kita. Contoh: sebelum mengembuskan napas terakhir, Stefanus yang dirajam batu menyerahkan rohnya kepada Tuhan Yesus (Kis. 7:59).

Bagaimana kebangkitan kita (dari Baptisan Air) sama seperti Dia telah dibangkitkan dari antara orang mati?

Kebangkitan Yesus disambut sukacita luar biasa oleh Maria Magdalena dan Maria lain yang menjumpai-Nya. Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyem-bah Dia (Mat. 28:6-9). Yesus terlebih dahulu menyapa mereka dengan kata “Salam (shalom = damai sejahtera)” (Mat. 28:5-10).

Yesus juga mengucapkan ‘shalom’ kepada:

  • Murid-murid-Nya (tanpa Tomas) yang ketakutan dan berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci. Mereka yang awalnya tidak percaya menjadi bersuka-cita ketika melihat Yesus (Yoh. 20:19-20). Yesus mengulangi kata ‘shalom’ kepada mereka untuk tugas pengutusan (ay. 21).
  • Murid-murid dan Tomas (yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus kecuali jika dia telah mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku pada tangan-Nya) ada bersama mereka.

Hendaknya kata ‘shalom’ ada pada bibir mulut mereka yang sudah dibangkitkan bersama Yesus, bukan kata-kata penuh penghakiman dan menyalahkan kepada mereka yang belum/tidak percaya kepada-Nya atau terhadap mereka yang lemah iman, frustrasi karena persoalan nikah, rumah tangga, pekerjaan dll.

Aplikasi: kita yang sudah dibangkitkan bersama Kristus hendaknya memiliki empati dan peduli terhadap mereka yang undur dari iman, dekati dan ajak mereka dengan kata-kata mengandung damai dan menyejukkan agar mereka kembali berbalik kepada Tuhan. Kenyataannya, damai sejahtera makin jarang ditemui, buktinya gereja satu menyerang gereja lainnya, pendeta mengolok pendeta lain dst.

Perhatikan, kematian dan kebangkitan harus menjadi kesatuan dalam menantikan kedatangan Tuhan. Yesus telah menderita bagi kita dan meninggalkan jejak-Nya agar kita mengikutinya (1 Ptr. 2:21).

Jejak apa yang menjadi teladan bagi kita? Tidak ada kata-kata penuh tipu, tidak gampang membalas ketika dicaci maki, tidak mengancam saat menderita tetapi me-nyerahkan semua kepada Dia yang menghakimi dengan adil (ay. 22-23). Yesus mem-berikan pengampunan atas dosa dan pelanggaran kita supaya kita hidup untuk kebenaran dan kembali kepada Gembala dan Pemelihara jiwa kita (ay. 24-25).

Marilah kita memanfaatkan kematian dan kebangkitan Yesus dengan menguburkan/mematikan sifat-sifat lama yang jahat dan najis dengan menaati Firman-Nya untuk bangkit bersama-Nya dalam pembaruan hidup yang berkenan kepada-Nya sampai Ia datang kembali menjemput kita dan menjadikan kita milik-Nya selama-lamanya. Amin.