YESUS ORANG NAZARET

 

Pdt. Paulus Budiono

Sabtu, Lemah Putro, 31 Desember 2016

 

 

 

Shalom,

 

Saat ini kita berada pada jam-jam mengakhiri tahun 2016 untuk segera memasuki tahun 2017. Tentu banyak pemikiran dan rencana ada dalam benak kita untuk introspeksi apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2016 dan resolusi yang hendak kita terapkan di tahun 2017. Atas Imanuel/penyertaan Tuhan, kita mampu melalui tahun 2016 dengan sukacita karena keberhasilan maupun stres sebab tantangan dan ujian yang dihadapi, bagaimana dengan tahun 2017 yang siap di depan mata? Sanggupkah kita berjalan sendiri tanpa penyertaan dan perlindungan dari-Nya? Namun harus diingat, bagaimana dua orang dapat berjalan bersama-sama bila mereka belum berjanji (Am. 3:3)? Demikian pula hubungan kita dengan Tuhan, sudahkah kita berjalan bersama Dia (seperti Henokh bergaul dengan-Nya 300 tahun; Kej. 5:22) bila kita tidak/belum mengenal-Nya dengan baik?

 

Selain terkenal dengan sebutan Juru Selamat, Imanuel, Pria mempelai Surga dll., Yesus juga disebut Orang Nazaret seperti tertulis dalam Matius 2:19-23, “Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati." Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.”

 

 

Faktanya, kita jarang membicarakan sebutan Yesus Orang Nazaret. Untuk itu kita mempelajari lebih jauh peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan Nazaret, antara lain:

 

Kata ‘Nazaret’ ditemukan hanya dalam Kitab Perjanjian Baru. Nama ini baru muncul ketika Malaikat Gabriel diutus Allah pergi ke kota di Galilea bernama Nazaret menemui seorang perawan desa yang lugu dan sederhana, Maria namanya untuk memberitahukan bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang bayi yang harus dinamai Yesus (Luk. 1:26-31).

 

Ternyata Nazaret tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, menurut catatan waktu itu dihuni oleh ± 500 orang saja. Namun dengan kehadiran Yesus, Nazaret disebut ± 29 kali di Alkitab dan nama Maria menjadi tenar.

 

Implikasi: kita, bangsa kafir, tanpa Kristus tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia (Ef. 2:11-12) tetapi oleh pengurbanan Yesus disalib, kita dimasukkan dan menjadi keluarga Allah (ay. 19).

 

Maria yang mengandung janin Yesus tinggal di Nazaret hingga tiba saat hendak melahirkan Maria dan Yusuf mencari penginapan dan melahirkan di kandang ternak di Betlehem seperti telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya bahwa dari Betlehem akan muncul Pemimpin yang menggembalakan umat Israel (Mat. 2:6; Mi.5:1) sekaligus Juru Selamat (Mat. 2:21). 

 

Bagaimanapun juga, saat masih kecil, Yesus dalam asuhan orang tua-Nya tidak/belum dapat menggembalakan umat-Nya. Sebaliknya, Ia justru perlu digembalakan oleh orang tuanya. Itu sebabnya jangan kita merayakan Natal dengan menyembah Yesus dalam posisi anak-anak yang menerima (bukan memberikan) persembahan dari orang Majus.

 

Perhatikan, tutur kata, sikap dan perbuatan kita mencerminkan seberapa jauh pengenalan kita akan Yesus orang Nazaret – masih dalam taraf anak-anak atau sudah menginjak dewasa rohani. Contoh: Rasul Paulus mengeluhkan kondisi rohani jemaat Korintus karena mereka belum dewasa dalam Kristus, terbukti dengan adanya iri hati dan perselisihan di antara mereka yang menunjukkan mereka tetap manusia duniawi tanpa ada pertumbuhan dalam kehidupan rohani (1 Kor. 3:1-4). Berbeda dengan pengalaman dirinya, Rasul Paulus meninggalkan sifat kanak-kanaknya (dalam perkataan, perasaan, dan pikiran) setelah menjadi dewasa (1 Kor. 13:11). Ilustrasi: seorang anak (di bawah umur) yang melakukan tindakan kriminal tidak dapat dijebloskan ke penjara umum sebab kejiwaannya masih labil mudah terbawa perasaan dan pikiran serta perkataannya tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan.

 

Anak Yesus sempat dilarikan ke Mesir menghindari pembunuhan massal yang dilakukan terhadap anak-anak berumur dua tahun ke bawah atas perintah Raja Herodes (Mat. 2:13-16). Setelah Herodes mati, Yusuf membawa istri dan Anak Yesus kembali ke tanah Israel ke daerah Galilea dan menetap di Nazaret. Di sanalah Ia dibesarkan untuk menggenapi nubuatan nabi-nabi bahwa Ia akan disebut Orang Nazaret (Mat. 2:23). Yesus bertambah besar dan menjadi kuat penuh hikmat serta kasih karunia Allah ada pada-Nya sehingga Ia makin dikasihi Allah dan manusia (Luk. 2:40, 52).

 

Aplikasi: kita harus yakin bahwa apa yang diberitakan oleh Firman Allah pasti digenapi dan semua terjadi dalam otoritas-Nya. 

 

Ketika berumur 12 tahun, Yesus diajak orang tuanya dari Nazaret menuju Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paskah (Luk. 2:41-42). Tidak seperti orang tua-Nya yang pergi ke Bait Allah tiap tahun sebagai suatu kebiasaan (tidak ada perubahan), remaja Yesus yang disertai Allah makin tumbuh rohani-Nya. Buktinya? Ia gemar tinggal di Bait Allah dan berdialog dengan alim ulama (ay. 46) bahkan mengatakan kepada orang tua-Nya (jasmani) bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya (ay. 49).

 

Aplikasi: hendaknya kita beribadah (ke gereja) bukan sekadar kebiasaan/tradisi tetapi hati kita terpaut dengan rumah Allah sehingga Firman-Nya tumbuh dalam hidup kita, ditandai dengan sukacita datang ke gereja (secara fisik) sebagai kebutuhan untuk mengenal Dia lebih dalam. Dampaknya, kita makin disukai Allah dan sesama.

 

Menginjak dewasa masuk dalam pelayanan, Yesus membutuhkan murid-murid untuk mendampingi-Nya.

 

Dia memanggil Filipus untuk ikut dengan-Nya kemudian Filipus bertemu temannya, Natanael, dan memberitahukan bahwa dia telah menemukan Yesus, anak Yusuf dari Nazaret, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi (Yoh. 1:43-45). Apa reaksi Natanael? Dengan jujur dia menjawab, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (ay. 46) Untungnya, Natanael mau diajak bertemu Yesus dan Ia memuji Natanael sebagai orang Israel sejati dan tidak ada kepalsuan di dalamnya (ay. 47). Hal ini meruntuhkan keraguannya, Natanael langsung percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Raja orang Israel (ay. 49).

 

Aplikasi: perkataan/Firman Yesus yang penuh wibawa mampu mengubah hati orang yang keras tetapi jujur. Dunia saat ini membutuhkan Firman yang dapat mengubah hati, bukan Firman berupa ‘susu’ manis untuk anak-anak (bnd. Ibr. 5:12-14) berakibat mudahnya diombang-ambingkan oleh pelbagai angin pengajaran palsu (Ef. 4:14). 

 

Sayangnya, pengikutan Filipus kepada Gurunya selama ± 3½ tahun tidak menjamin dia mengenal Yesus sepenuhnya. Ketika Yesus menenangkan para murid untuk tidak gelisah saat Ia pergi menyediakan tempat bagi mereka, Filipus tidak mengenal Bapa dan meminta Yesus menunjukkan Bapa kepadanya (Yoh. 14:1-11).

 

Di lain kesempatan, saat Yesus mengajar orang-orang di rumah ibadat di tempat asalnya, Nazaret, mereka takjub akan hikmat dan kuasa-Nya mengadakan mukjizat tetapi menolak Dia karena mereka mengenal ayah-Nya, tukang kayu Yusuf, ibu-Nya, Maria, juga saudara-saudara-Nya (Mat. 13:54-57). Baik Yesus maupun orang-orang di tempat ibadah tersebut sama-sama tumbuh di Nazaret juga sama-sama beribadah tetapi pertumbuhan rohaninya jauh berbeda; mereka masih fokus melihat kemanusiaan Yesus kemudian mengabaikan-Nya.

 

Introspeksi: sejauh mana pengenalan kita kepada Yesus orang Nazaret ini? Apakah kita hanya takjub dengan mukjizat-mukjizat (kesembuhan, berkat jasmani dll.) yang terjadi tetapi mengabaikan Firman kebenaran (untuk menajamkan kerohanian kita) yang keluar dari si Pembuat mukjizat?

 

Sebelum Yesus masuk dalam penderitaan disalib, nama Nazaret tidak begitu dikenal. Namun kepala imam, ahli Taurat dan orang Farisi yang tidak mau mengakui Yesus sebagai Anak Allah dan Mesias menangkap-Nya dan membawa-Nya ke hadapan Pilatus. Akhirnya diputuskan Yesus disalib sekalipun tidak ditemukan kesalahan apa pun pada-Nya. Pilatus menyuruh memasang tulisan dalam tiga bahasa (Ibrani, Latin dan Yunani) berbunyi “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” di atas kayu salib. Tulisan ini diprotes oleh orang-orang Yahudi tetapi Pilatus cukup tegas dan tidak mau mengganti tulisan tersebut (Yoh. 19:19-22). Ingat, kita harus patuh pada pemerintah yang ditetapkan oleh Allah (Rom. 13:1-2).

 

Tiba saatnya Yesus mengakui bahwa Ia adalah Raja dan untuk itu Ia lahir dan datang ke dunia ini untuk memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh. 18:37). Mendengar hal ini, Pilatus bertanya kepada-Nya apa kebenaran itu.

 

Aplikasi: seorang pemimpin harus memiliki pendirian kuat untuk tidak mudah dipengaruhi atau diintervensi oleh siapa pun seperti telah dicontohkan oleh Rasul Paulus yang tidak bertindak serampangan dalam merencanakan sesuatu terutama mengenai Yesus Kristus Anak Allah (bnd. 2 Kor. 1:17-20). Waspada, jangan mudah mengubah pengakuan kita akan Yesus Kristus hanya karena tekanan seseorang atau massa.

 

Lain halnya dengan Petrus yang belum bersikap dewasa, dengan sombong dia mengatakan kepada Gurunya bahwa murid-murid lain boleh tergoncang imannya tetapi dia tidak (Mrk. 14:29). Namun apa yang terjadi kemudian? Dia menyangkal Gurunya ketika ditanya oleh seorang hamba perempuan imam besar, “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” (Mrk. 14:67)

 

Jauh berbeda dengan sikap Yesus orang Nazaret yang menunjukkan kedewasaan penuh saat pengambilan keputusan untuk mati tersalib.

 

Benarkah Petrus tidak mengenal Yesus? Petrus menyangkal Yesus orang Nazaret yang akan disalib untuk kelamatan manusia berdosa. Bagaimanapun juga Petrus mendapat kasih karunia Tuhan, dia menangis sedih menyesali diri teringat akan perkataan Yesus (Mrk. 14:72).

 

Implikasi: bila kita kurang mengenal Yesus dengan benar, kita akan menyangkal Dia saat terdesak. Sebaliknya, bila kita mengenal Yesus, kita juga mengenal salib-Nya sebab Ia berfungsi sebagai Juru Selamat.

 

Waktu hari raya Pentakosta, 50 hari setelah kebangkitan Yesus, Petrus dipenuhi Roh Kudus meskipun dia pernah menyangkal Yesus sebab Tuhan tahu isi hatinya yaitu dia mengasihi Yesus tetapi dagingnya lemah (Mat. 26:40-41). Sangat kontras setelah Petrus dipenuhi Roh Kudus, dia memberitakan Firman Tuhan dengan berani (Kis. 4:31). Bersama Yohanes dia ke Bait Allah dan bertemu pengemis lumpuh di dekat Pintu Gerbang Indah yang minta sedekah. Dengan lantang Petrus mengatakan, “Emas dan perak tidak ada padaku tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:1-6) Terbukti Nama Yesus orang Nazaret memiliki kuasa menyembuhkan orang lumpuh itu (ay. 7-8).

 

Oleh sebab keberaniannya, Petrus dan Yohanes ditangkap dan disidang tetapi apa yang dikatakannya di hadapan pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat? “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua… ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dama Nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan tetapi telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.” (Kis. 4:5-10).

 

Pengalaman nyata juga dialami oleh Saulus, pembenci Yesus dan pengikut-pengikut-Nya yang berubah total setelah bertemu Yesus orang Nazaret yang dianiayanya dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 22:5-8). Kali ini Yesus sendiri (bukan disebut oleh orang lain) mengakui, Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kau aniaya itu.”

 

Yesus tidak malu mengaku berasal dari Nazaret yang tidak dikenal oleh banyak orang. Namun Dia adalah Allah, Juru Selamat, Raja dan Gembala Agung. Yesus orang Nazaret mampu mengubah kehidupan Saulus yang akhirnya dipakai Tuhan menjadi pemberita Injil bagi bangsa kafir dan menanggung banyak penderitaan karena Nama-Nya (Kis. 9:15-16).

 

Mengapa Yesus dibesarkan di Nazaret? Nazaret di daerah Galilea merupakan tempat orang kafir yang tidak dipedulikan orang namun karena ada Yesus di dalamnya, berlakulah kasih karunia-Nya. Itu sebabnya jangan kita, pengikut Yesus, takut diejek menyandang nama kaum Nasrani. Ingat, keselamatan tidak dapat dibeli oleh siapa pun kecuali di dalam Dia (= Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Jangan lupa, Yesus Juru Selamat dan Mempelai Pria Surga berasal dari Nazaret. Oleh sebab itu jangan kecil hati memasuki tahun 2017, manusia boleh mengacuhkan kita tetapi selama Yesus orang Nazaret, Roh Kudus dan Allah Bapa (Allah Tritunggal) ada dalam kita, keselamatan dan penyertaan dijamin oleh-Nya untuk satu kali kelak hidup bersama-Nya di dalam kekekalan di Yerusalem Baru. Amin.