I’LL BE HOME FOR CHRISTMAS

 

Minggu, Tong Hai Ballroom, 25 Desember 2016

Pdt. Paulus budiono

 

Shalom,

 

Menjelang liburan Natal, petugas-petugas departemen perhubungan paling sibuk mengatur arus lalu lintas darat, laut dan udara dengan menambah jumlah armada alat transportasi juga jam keberangkatan bagi ratusan ribu bahkan jutaan travelers baik yang hendak bepergian maupun mudik untuk merayakan Natal bersama keluarga. Amat disayangkan bila orang Kristen beribadah setahun sekali hanya di hari Natal!

 

Ternyata perjalanan mudik juga dialami oleh pasangan suami istri muda, Yusuf-Maria, sebagai keharusan seperti tertulis dalam Lukas 2:1-7, “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem – karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud – supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

 

Tampak suatu perjalanan yang tidak lazim! Umumnya, travelers yang mudik (= pulang kampung) membawa aneka ragam oleh-oleh untuk dibagikan kepada seluruh keluarga di rumah namun pasangan muda Yusuf-Maria sepertinya tidak tahu diri. Mengapa? Mereka pulang akan menyusahkan orang banyak karena Maria dalam kondisi hamil tua yang seharusnya tidak boleh mengadakan perjalanan jauh untuk menghindari kelahiran prematur di tengah jalan. Bagaimanapun juga, mereka harus mudik menempuh perjalanan jauh (± 150 km 4-7 hari perjalanan naik keledai) untuk sensus penduduk atas perintah Kaisar Agustus.

 

Introspeksi: pernahkah kita memikirkan penderitaan Yusuf dan Maria yang dipilih Tuhan untuk melahirkan bayi Yesus yang akhirnya menggemparkan dunia sampai hari ini? Parahnya, mereka bukan dari keluarga kaya meskipun Yusuf berasal dari keturunan Raja Daud, buktinya bayi Yesus lahir di palungan di kandang ternak karena tidak ada penginapan maupun sanak saudara mau menampung mereka (Luk. 2:7).

 

Semua ini mereka lakukan demi memenuhi tuntutan pemerintah namun tanpa disadari di baliknya ada rencana Allah yang sangat kuat. Jujur, kita sering mengeluh dan menyalahkan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah padahal semua terjadi seizin Tuhan. Terbukti bayi Yesus lahir tepat waktu dan tepat tempat (dalam rencana Allah); dapat dibayangkan jika Yusuf dan Maria tidak hidup takut akan Tuhan dengan menjaga kesucian juga menyerah tidak bersedia mematuhi perintah Kaisar Agustus! Demi janji keselamatan manusia sejagat raya dari zaman ke zaman, Yusuf-Maria bersatu hati merelakan diri menjadi orang tua dari janin Yesus dengan segala risiko menghadapi reaksi dari masyarakat setempat. Maria tahu siapa yang dikandungnya juga Yusuf tidak ragu-ragu berkeyakinan bahwa benih yang dikandung (calon) istrinya adalah benih Ilahi.

 

Aplikasi: alangkah indahnya bila kehidupan muda-mudi mengasihi Tuhan, mereka akan menjaga kesucian dalam pergaulan! Jangan luntang-lantung berduaan karena cinta buta lalu bertindak ‘kebablasan’! Hendaknya kita tidak gampang mengomel kepada suami/istri, pendeta bahkan pemerintah jika kita tidak puas terhadap sesuatu atau terhadap policy yang dikeluarkan.

 

Memang awalnya Maria bingung dan tidak dapat memercayai berita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel sebab dia belum bersuami namun Gabriel meyakinkan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:34, 37). Maria kemudian merespons positif dan memosisikan diri sebagai hamba Tuhan yang menuruti perkataan-Nya (ay. 38). Perhatikan, Roh Kudus akan memberikan pengertian dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Contoh: Yusuf, orang tulus hati (dikaios = righteous = benar), hampir bertindak tidak benar yaitu bermaksud menceraikan Maria diam-diam; untung dia mendengarkan nasihat malaikat Tuhan melalui mimpi untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istri sebab bayi yang dikandung adalah dari Roh kudus (Mat. 1:20). Hati Yusuf diliputi damai setelah mengerti kebenaran Firman Allah dan tidak cepat menyalahkan orang lain (yang tidak salah).

 

Implikasi: jangan heran saat mendengarkan Firman Tuhan, kita tidak dapat langsung mengerti! Namun jangan serta merta menolaknya sebab kuasa Allah sanggup membuka tabir ketidak-pengertian kita. Jangan pula bertindak seperti anak muda sekarang, dengan teknologi canggih malah mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diketahui (mengakses film pornografi dll.) berakibat banyaknya kejatuhan.

 

Perlu diketahui, bayi Yesus yang dikandung oleh Maria adalah manusia sempurna juga anak Allah yang mahatinggi (Luk. 1:31-32); dengan kata lain Yesus adalah 100% manusia sekaligus 100% Allah.

 

Kita mempelajari lebih lanjut perjalanan jauh yang dilakukan oleh Yusuf-Maria berkaitan dengan kelahiran putra mereka, antara lain:

 

Tiba di Betlehem dan melahirkan bayi Yesus di palungan, tempat makanan binatang, tanpa sambutan dari sanak famili maupun teman. Tak seorang pun menyediakan rumah bagi-Nya, Ia rela dilahirkan di tempat seadanya dan dalam kondisi sangat sederhana (hanya dibalut kain lampin untuk menghangatkan tubuh) tanpa bantuan siapa pun. Sebagai manusia, bayi Yesus tidak luput dari ancaman penderitaan bahkan pembunuhan yang diluncurkan oleh Herodes. Sesungguhnya, kelahiran-Nya telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya, tertulis di Mikha 5:1 bahwa dari Bethelem terkecil di antara kaum-kaum Yehuda akan bangkit Seorang yang akan memerintah Israel.

 

Implikasi: manusia boleh tidak peduli akan keadaan kita tetapi Tuhan merancang langkah-langkah kehidupan kita dan tidak akan memadamkan harapan kita. Apa pun yang terjadi tidak akan keluar dari garis Firman Allah! Itu sebabnya percayai Alkitab seutuhnya yang mengisahkan perbuatan-perbuatan besar dari Yesus (Yoh. 21:24-25) tanpa perlu mencari info tambahan di luar Alkitab yang dapat menyesatkan.

 

Hebatnya, sekalipun lahir di tempat tidak terkenal sama sekali, hal ini tidak mengurangi fungsi dan status kedudukan Yesus sebagai Juru Selamat dunia yang diberitakan malaikat kepada para gembala (Luk. 2:9-11). Mengapa diperlukan Juru Selamat? Manusia berdosa perlu keselamatan dari kematian kekal yang dapat dilakukan hanya oleh Yesus (Kis. 4:12).

 

Para gembala pergi ke Betlehem (tanpa membawa persembahan) dan berhasil menjumpai Maria dan Yusuf serta bayi Yesus kemudian mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan malaikat tentang Anak itu (Luk. 2:15-17).

 

Implikasi: hamba-hamba Tuhan membawa ‘mulut’ untuk memberitakan Firman Tuhan tanpa perlu mengurangi atau menambahkan ayat-ayat yang telah tertera dalam Alkitab (bnd. Why. 22:18-19). Selain itu, perlu adanya komunikasi antarhamba Tuhan untuk bertukar pikiran agar terhindar dari keputusan subjektif yang dapat salah.

 

Menginjak masa batita, Yesus tinggal di rumah di Betlehem dan mendapat kunjungan dari rombongan orang Majus yang berhasil tiba di sana melalui petunjuk bintang (Mat. 2:9-11). Memang mereka mengetahui kelahiran Yesus tetapi waktunya tidak tepat sebab jarak jauh yang harus ditempuh. Mereka mendapat penjelasan dari Raja Herodes yang diberitahu oleh para ahli Taurat dan imam-imam kepala yang sangat hafal Alkitab Perjanjian Lama (ay. 4-8).

 

Sebenarnya orang Majus ini tidak mengenal Tuhan namun ‘otak’ mereka dapat menerima Yesus sebagai Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan dan hati mereka terbuka untuk sujud menyembah Anak Yesus disertai pemberian persembahan emas, kemenyan dan mur (Mat. 2:11). Sebaliknya, para gembala yang tidak berpendidikan tinggi juga dapat menerima “Kabar baik’ tentang Yesus sebagai Juru Selamat. Terbukti, Firman keselamatan dibutuhkan dan dapat diterima oleh orang pandai, kaya atau orang bodoh dan miskin.

 

Aplikasi: kita yang sudah diselamatkan patut (bukan terpaksa) memberi hidup kita menjadi persembahan hidup bagi Allah (Rom. 12:1) bukan bangga telah mampu memberikan persembahan materiil untuk pembangunan gereja tanpa rela memberikan diri suka menyembah Dia. Ingat, otak kita diciptakan oleh Allah; jangan sok sombong dan sok hebat sebab Alkitab tertutup bagi orang sombong tetapi terbuka bagi mereka yang membuka hati seperti telah dialami Saulus, ahli Farisi hebat di bawah didikan mahaguru Gamaliel (Kis. 22:3; Flp. 3:5-6) yang awalnya antiYesus tetapi berubah total setelah bertemu Tuhan dan bertobat (Kis. 9:1-19). Jelas, orang yang bertemu Yesus berubah menjadi rendah hati (Kis. 1:7-8; 1 Tim. 1:15) sementara bagi mereka yang tidak ketemu Yesus, gereja hanyalah agama.

 

Melalui mimpi, orang Majus diperingatkan untuk tidak menghadap Herodes, melalui mimpi pula Yusuf  diperingatkan untuk bergegas membawa istri dan anaknya ke Mesir dan tinggal di sana sebab Herodes berniat membunuh Anak Yesus (Mat. 2:12-13).

 

Tampak perkataan orang Majus dan Herodes mirip yaitu ‘mau datang untuk menyembah Dia’ (Mat. 2:2,8) tetapi hati berbicara lain. Orang Majus berhati jujur dan tulus menyembah Yesus sementara hati Herodes dipenuhi iri hati dan nafsu untuk membunuh Yesus bukan ingin menyembah Dia.

 

Aplikasi: bila hati tulus (bukan pura-pura) dan suka menyembah Tuhan, pikiran akan diubahkan dan dibimbing oleh-Nya agar terhindar dari tipu muslihat orang jahat. Kenyataannya, kita masuk gereja dan menyembah Tuhan tetapi keluar gereja tanpa ada keubahan karena kita tidak sungguh-sungguh mempersembahkan tubuh, jiwa dan roh kita kepada-Nya. Bukankah Allah menciptakan pikiran kita? Ia juga mampu mengeraskan atau melembutkan hati seseorang. 

 

Yusuf (bukan Maria) sebagai kepala rumah tangga berhak memutuskan untuk membawa istri dan anaknya ke Mesir sekalipun jaraknya sangat jauh (± 690 km) demi keselamatan anak Yesus karena terjadi pembunuhan massal di Betlehem dan sekitarnya bagi anak-anak berumur dua tahun ke bawah atas perintah Herodes (Mat. 2:16). Pasti kepindahan mereka dari Betlehem ke Mesir tidaklah mudah, membawa anak batita dalam perjalanan jauh ada kerepotannya sendiri belum lagi mereka harus melewati penjagaan ketat dari serdadu-serdadu Herodes yang ditugaskan untuk membunuh anak-anak sebaya Yesus. Seandainya Yesus terbunuh, keselamatan kita akan hilang namun rancangan Allah tidak pernah gagal dan keselamatan itu berlaku sampai sekarang.

 

Tidak disebutkan berapa lama Yesus tinggal di Mesir tetapi sampai Herodes mati baru Yusuf diperintahkan untuk membawa Anak Yesus dan ibu-Nya untuk kembali ke tanah Israel (Mat. 2:19-20). Yusuf taat akan perintah Tuhan tetapi dia tetap waspada terhadap Arkhelaus pengganti Herodes, ayahnya (ay. 22). Bukankah pepatah mengatakan “like father, like son” ? Kita tahu Iblis adalah pembunuh manusia sejak semula dan bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Itu sebabnya Yesus tidak segan-segan menegur orang Yahudi, “Iblislah yang menjadi bapamu…” karena mereka melayani tidak dengan hati jujur serta tidak percaya akan perkataan Yesus (ay. 45). Juga Rasul Paulus menegur Elimas, tukang sihir dan nabi palsu, “Hai anak iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan…” (Kis. 13:8-10)

 

Aplikasi: cintai Firman Allah dan selidiki dengan sungguh-sungguh agar tidak ada pikiran-pikiran jahat yang siap menghancurkan keselamatan yang kita miliki! Kita boleh kehilangan harta dan kedudukan tetapi jangan pernah melepaskan keselamatan kekal. Tak dapat disangkal, meskipun sudah menerima Yesus dan rohani kita bertumbuh, kita masih dapat dilanda perasaan takut menghadapi kejahatan. Untuk itu serahkan segala kekhawatiran kepada-Nya maka Ia memberikan pertolongan seperti telah dialami oleh Yusuf sekeluarga.

 

Ketika Yusuf diperintahkan kembali ke tanah Israel, dia memutuskan untuk tinggal di Nazaret (Mat. 2:23) dan Yesus tumbuh besar di sana, di tempat yang tidak diperhitungkan orang sama sekali.

 

Implikasi: kadang Firman Tuhan mengajak kita untuk berpikir; jadi, jangan menelan mentah-mentah setiap perkataan pendeta. Sangat berbahaya jika ucapan pendeta dijadikan ‘fatwa’! Ingat, tempat besar dan terkenal bukan menjadi ukuran untuk memperoleh keselamatan, yang terutama ialah hati kita terbuka untuk Yesus di mana pun kita berada dan otak/pikiran kita dikendalikan oleh Roh Kudus.

 

Sekarang kita juga dalam perjalanan ‘mudik’ menuju kota Daud itulah Sion (2 Sam. 5:7) dan Yerusalem Baru disebut pula Sion. Masihkah kita taat akan perintah Firman Tuhan agar terhindar dari ancaman ‘pembunuhan’ dari si Iblis yang gencar meluncurkan tipu muslihatnya? Tetaplah waspada akan segala gerak gerik si jahat, persembahkan hidup kita kepada-Nya dan biarkah pikiran kita dikendalikan oleh Roh Kudus maka kita kelak tiba ‘di rumah Yerusalem Baru’ penuh sukacita untuk berkumpul kembali bersama Dia selamanya. Amin.