Rayakan Paskah Dan Roti Tidak Beragi

(Mat. 26:17; Kel. 12:2-15)

Lemah Putro, Jumat Agung, 18 April 2014

Pdt. Paulus Budiono

 

Shalom,

Menjelang kematian Yesus (PB), murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” (Mat. 26:17)

Alkitab mencatat dengan sangat jelas dan tidak pernah berubah bahwa perayaan hari raya Paskah dilangsungkan bersamaan dengan hari raya Roti Tidak Beragi. Namun, jujur, di hari Paskah umumnya kita lebih berfokus pada peristiwa Paskah tanpa menyinggung hari raya roti tak beragi padahal keduanya tidak dapat dipisahkan – merupakan satu paket.

Apa perintah TUHAN terhadap bangsa Israel berkaitan dengan Paskah (PL)? "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang… Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada waktu senjaDagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN… Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi dari hari pertama sampai hari ketujuh orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.” (Kel. 12:2-4, 6, 8, 11, 15)

Kita tahu bahwa bangsa Israel sampai hari ini masih merayakan hari Paskah disertai Roti Tidak Beragi tiap tahun (± 3500 tahun) sejak nenek moyang mereka keluar dari Mesir hanya secara seremonial tanpa mengalami keubahan atau memahami makna Paskah sesungguhnya. Apakah kita, gereja Tuhan, yang ‘mengambil’ hari raya Paskahnya bangsa Israel dan merayakannya juga mengalami suasana sama? Semarak tetapi hambar – sebatas seremonial – atau kita semakin tergairah dan hati dipenuhi ucapan syukur yang meluap-luap saat merayakan “PASKAH” khususnya hari ini? 

Bagaimana dengan bangsa Israel? Memang tak pernah tebersit sebelumnya dalam pikiran bangsa Israel bagaimana Allah akan menolong mereka keluar dari perbudakan Mesir. Apa respons mereka terhadap perintah Allah melalui Musa untuk merayakan Paskah? 

  • Mereka serius melakukan perintah Allah dengan makan seekor anak domba tak bercacat cela berumur satu tahun demi keselamatan seluruh keluarga. Bagi yang berjumlah sedikit, mereka harus mengajak tetangga dekatnya untuk menghabiskan domba yang disembelih. Di samping itu, mereka harus membubuhkan darah anak domba yang tersembelih pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas agar luput dari maut – tetap hidup – karena ada tanda darah (Kel. 12:13) dan tidak boleh keluar rumah sampai pagi (ay. 21-22). 

Ternyata Paskah menentukan mati-hidup bangsa Israel waktu itu. Bila mereka berada di dalam rumah yang ditandai dengan darah anak domba, mereka akan hidup; di luar itu mereka terancam mati. Melihat konsekuensi yang berat ini, mereka pasti berusaha mencari dan mengajak seluruh anggota keluarga untuk tetap berada di dalam rumah agar selamat.

Introspeksi: sudahkah kita peduli dengan keselamatan anak, saudara dan orang tua kita di dalam Yesus Kristus? Bila seluruh anggota keluarga di dalam rumah tangga kita menerima Yesus – Anak Domba Paskah yang tersembelih (1 Kor. 5:7b) – rumah tangga kita akan selamat dan hidup. Oleh sebab itu jangan bersukacita dengan keselamatan diri sendiri dan memberi kebebasan bagi anggota keluarga mencari kegiatan di luar Tuhan yang tampak memberi ‘kehidupan’ namun berakhir dengan kebinasaan! Misal: anak-anak kita yang sudah dewasa diberi kebebasan menentukan jalan hidupnya sendiri berakibat mereka dikuasai oleh pengetahuan dan filosofi dunia tanpa ada rasa takut kepada Tuhan. Perlu diketahui setelah manusia jatuh ke dalam dosa, mereka berusaha mencari Allah menurut versinya sendiri sehingga terjadilah penyembahan animisme, dinamisme dll. padahal keselamatan diperoleh semata-mata hanya di dalam Yesus Kristus (Kis. 4:12; Ef. 2:8-10) dan ini murni inisiatif Allah. Juga, anak adalah pusaka Tuhan (Maz. 127:3) yang tetap perlu pengawasan dari orang tua sekalipun mereka telah mandiri. 

Perhatikan, mereka yang berada di luar rumah (tidak ada tanda darah domba Paskah) berakibat kematian anak sulung (Kel. 14:29). Kata ‘sulung’ menyatakan buah nikah pertama dalam keperkasaan (seorang laki-laki). Kalau buah nikah pertama bermasalah, masalah ini akan merembet menjadi masalah lebih besar. Bukankah bangsa Israel merupakan anak sulung Allah (Kel. 4:22) yang bermasalah sebab tidak percaya kepada Yesus sebagai Mesias bahkan berusaha membunuh-Nya? Untuk itu Yesus – Anak Domba Allah – rela menderita mati di luar pintu gerbang (Ibr. 13:12-13) demi keselamatan seluruh umat manusia – bukan Yahudi saja tetapi seluruh bangsa di dunia (Yoh. 11:47-53). Dengan demikian, kematian Yesus menyelamatkan dan mempersatukan seluruh umat Yahudi dan bangsa kafir (Ef. 2:11-17). Anehnya, imam besar Kayafas yang jahat dipakai Tuhan untuk menubuatkan tentang kematian satu orang demi keselamatan seluruh bangsa (Yoh. 18:14). Jadi, jangan heran Tuhan dapat memakai orang yang tidak bertobat untuk bernubuat tetapi orang itu sendiri belum tentu selamat. Waspada, jangan bernubuat sementara kita suka berbuat dosa; juga para hamba Tuhan dapat bernubuat menyampaikan Firman Tuhan sekaligus menipu jemaat. 

Masih berkaitan dengan Paskah, Yesus tidak hanya mati tetapi Dia juga bangkit dari antara orang mati dan telah melenyapkan kuasa maut (Ibr. 2:14-15) sehingga iman/kepercayaan kita tidak sia-sia sebab kita memiliki jaminan kehidupan untuk dipersekutukan dengan Dia dan menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya (1 Kor. 15:12-23). 

  • Selain menyembelih anak domba, bangsa Israel harus merayakan hari roti tak beragi dalam waktu bersamaan. Bedanya, mereka merayakan hari raya roti tak beragi selama tujuh hari sementara Paskah hanya dilakukan satu kali pada malam itu. Dapat dibayangkan mereka pasti sibuk membersihkan semua makanan di rumah yang mengandung ragi!  

Allah mengingatkan bangsa Israel untuk tidak keluar dari pintu rumah sampai pagi sebab Ia akan melewati pintu dan membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumah menulahi mereka jika ditemukan adanya makanan beragi di dalam rumah tersebut (Kel. 12:15,19-20).

Jelas sekarang, selain ada tanda darah anak domba, di dalam rumah juga harus benar-benar bersih dari ragi. Kita patut mengagungkan Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya bagi keselamatan kita (Paskah) dan inisiatif keselamatan ini datangnya dari Allah tetapi kita tidak boleh lupa (dengan pengertian dan kerelaan) membuang ‘ragi’ di dalam rumah tangga kita agar seluruh keluarga ada kehidupan yang ditandai dengan kegiatan penuh kesukaan, aman dan damai.  

Bangsa Israel keluar dari Mesir oleh sebab adanya tanda darah di pintu-pintu rumahnya dan mereka tetap makan roti tak beragi selama enam hari perjalanan (Kel. 12:31,34,39). Apa artinya bagi kita sekarang, anak domba Paskah dimakan hanya sekali sementara roti tak beragi dimakan selama tujuh hari? Keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus terjadi satu kali untuk selamanya (Ibr. 7:27; 10:10-18) tetapi keselamatan harus berlanjut dengan hidup dalam kemurnian dan kebenaran Allah dengan membuang ragi keburukan dan kejahatan (1 Kor. 5:7-8).  

Apa kejelekan dari ragi? Ragi – zat yang mengandung ragi; fermen; beragi – berbuih atau memuai karena ragi (KBBI). Ragi – sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan (1 Kor. 5:6; Gal. 5:9). Suatu makanan yang diberi/dicampur dengan ragi akan berubah menjadi lain (rusak) tidak lagi seperti aslinya. Contoh: jika adonan roti diberi ragi (dikhamiri) akan menjadi empuk dan mudah terurai/terlepas satu sama lain; jauh berbeda dengan roti tak beragi yang bersifat keras menyatu dan sulit dipecahkan/dipisahkan.

Dalam perjamuan malam terakhir menjelang kematian-Nya, Yesus mengambil roti tak beragi, mengucap syukur kemudian memecah-mecahkannya lalu memberikan kepada murid-murid-Nya sambil berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” (Mat. 26:26) Saat itu mereka belum mengerti tetapi dengan lewatnya waktu setelah Yesus naik ke Surga mereka, terlebih lagi Rasul Paulus, paham bahwa Yesus mati satu kali tetapi Roti hidup-Nya berlanjut terus sampai sekarang dalam kehidupan kita – bangsa kafir (1 Kor. 5:6-8). 

Introspeksi: mengapa sering terjadi orang Kristen yang sudah menerima Yesus mengalami kering/kematian rohani? Mungkinkah ada ‘ragi’ yang belum dibuang? Apakah kita cukup bersyukur karena darah-Nya menyucikan hati nurani kita (Ibr. 9:14) tetapi kemudian mandeg karena kita tidak rela membuang ragi Herodes (kehidupan nikah yang tidak beres dan pembunuh – Mrk. 8:15; Mat. 14:3-5) serta ragi orang Farisi dan Saduki (pengajaran tidak sehat dan kemunafikan — Mat. 16:6,11-12; Luk. 12:1)? Hati-hati dengan ‘ragi ajakan’ untuk tidak lagi menuruti kebenaran (Gal. 5:7-10)! 

Aplikasi: Alkitab harus menjadi tolok ukur seumur hidup kita. Alkitab ini ineransi/tanpa salah dan jangan kita mencari-cari kesalahan di dalamnya karena kita tidak akan pernah menemukannya. Untuk dapat menghindari pengajaran-pengajaran sesat, kita harus mengenal betul pengajaran murni yang terdapat dalam Alkitab. Jangan pula mudah percaya dan dijadikan pegangan hidup (doktrin) apa yang dikatakan oleh pendeta (sekalipun senior) melebihi tulisan-tulisan di dalam Alkitab artinya kita harus recheck dengan apa kata Firman Tuhan dalam Alkitab! Orang Yahudi sampai saat ini memiliki Perjanjian Lama namun mereka lebih memercayai kitab Talmut yang berisi penjelasan/penjabaran PL dari guru-guru mereka daripada Alkitab itu sendiri. 

Untuk menjadi adonan (roti) yang kudus (tidak beragi), kita harus menyatu dengan roti sulung yang kudus — Dialah Yesus — Roti Hidup yang telah turun dari Surga; juga sebagai pokok anggur dan kita carang-carangnya (Rom. 11:16 bnd. Yoh. 15:1-3). Karena Yesus kudus (1 Yoh. 3:3), kita pun dikuduskan oleh-Nya dan Firman Allah sebagai roti sulung yang kudus siap menguduskan kita (Yoh. 17:17). Masalahnya, apakah kita masih mempertahankan ragi lama saat ‘dioven’? Contoh: jika suami-istri ada masalah lalu ke gereja dan ditegur Firman Tuhan untuk membuang ‘ragi kedongkolan’ tetapi suami/istri tetap mempertahankan ‘raginya’; akibatnya, begitu keluar gereja kondisi mereka semakin runyam merembet mengkhamirkan seluruh adonan berdampak pada anak-anak dst. Juga kalau antara hamba Tuhan dan penatua ada ‘ragi’ iri hati, mereka membuat khamir seluruh jemaat berakibat tidak adanya kesatuan antara satu sama lain. 

Sesungguhnya ‘ragi’ kejahatan dan kenajisan bersumber dari dalam diri manusia (Mrk. 7:21-23) meskipun faktor eksternal karena pergaulan atau lingkungan juga ikut mempengaruhi. Persoalannya, semua tergantung pada diri sendiri apakah kita ada kemauan keras untuk membuang ‘ragi’ yang lengket dan bersifat merongrong/merusak tersebut. Ternyata orang-orang Kristen di Korintus masih mempertahankan ‘ragi’ lama berakibat timbulnya banyak kasus asusila (anak menikahi ibu tiri) dan kejahatan (iri hati, blok-blokan, benci dll.) padahal mereka telah diselamatkan dan dilahirkan dari Injil oleh Rasul Paulus. Apakah ini berarti Rasul Paulus gagal dalam pelayanannya? Tidak. Memang Yesus telah menyucikan dosa mereka/kita, tetapi kita masih hidup dalam daging (tabiat manusia) selama kita masih hidup di dunia!

Kalau begitu bagaimana kita mempertahankan hidup agar tidak ‘beragi’? Apakah ini berarti kita tidak boleh bergaul dengan orang dunia yang hidup dalam percabulan, korupsi dsb.? Tentu kita tidak bisa menghindari mereka dengan hidup eksklusif/terpisah selama kita masih hidup di dunia yang penuh dengan orang-orang durhaka namun yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam suratnya di 1 Korintus 5:9-13 ialah kita tidak boleh bergaul dengan orang yang menyebut dirinya saudara dan berada di dalam jemaat – pendeta, gembala, penatua, majelis, saudara seiman – tetapi berkelakuan cabul, kikir, suka memfitnah, menipu, menyembah berhala dll. Sebaliknya, jangan pula berbangga jika kita tidak mempraktikkan perbuatan semacam itu karena tidak ada seorang pun mampu menyucikan dirinya sendiri tanpa ‘kurban Paskah’ maupun ‘roti tak beragi’ itulah kuasa kurban Kristus, Firman Allah dan Roh Kudus. Karena itu kita harus sadar dan bertekad membuang segala bentuk ‘ragi’ yang masih tersembunyi dalam diri kita serta menjauhi segala bentuk ‘ragi’ pengajaran dan ajakan dari luar yang dapat mengkhamiri seluruh hidup kita yang tadinya sudah dikuduskan.

Mulailah merayakan Paskah bermakna yang mana kita keluar dari perhambaan dosa oleh sebab darah Kristus dilanjutkan dengan membuang segala ‘ragi’ lama yang ada di dalam kehidupan kita sehingga kita mengalami kelepasan total untuk dapat bersekutu dan menjadi milik Tuhan selama-lamanya. Amin.