Masuk Dalam Bilangan Oleh Salib Kristus

 

Minggu, Johor, 18 Juni , 2017

Pdm. Wahyu Widodo

 

 

Shalom,

Tak hentinya manusia berjerih payah dalam bekerja tanpa menghiraukan kese-lamatan dengan maksud agar taraf hidupnya menjadi lebih baik namun dapat dibayangkan betapa kecewanya dia ketika mendengar bahwa semua yang dikerjakannya sia-sia belaka!

Apa kata Pengkhotbah 1:1-3 mengenai kesia-siaan? “Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?”

Pembacaan ayat di atas dapat menimbulkan tanggapan berbeda-beda dari para pembaca yang memungkinkan munculnya perasaan pesimistis, keraguan, ataupun sinis. Namun bila kita membaca keseluruhan pasal 1 ini, kita mendapatkan penger-tian bagaimana sebenarnya menempuh hidup sejati. Pengkhotbah menyampaikan kata-kata hikmat yang harus kita dipelajari secara utuh.

Mengapa pengkhotbah mengatakan sia-sia – tidak dapat diperhitungkan sama sekali – meskipun manusia berusaha memperbesar dan menambah hikmat? Manusia bahkan disamakan dengan binatang, tidak ada lebihnya, jika berdiri sendiri tanpa bersandar kepada Allah, Penciptanya, seperti tertulis dalam Pengkhotbah 3:18-20, “Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: "Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang." Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang karena segala sesuatu adalah sia-sia. Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.”

Perhatikan, manusia diberi kebebasan penuh untuk melakukan segala sesuatu seke-hendak hatinya tetapi dengan kesadaran bahwa semua perbuatannya harus diper-tanggungjawabkan kepada Allah.

‘Kesia-siaan’ pada akhirnya menjadi materi ujian yang harus dihadapi manusia untuk meningkatkan pengenalannya kepada Allah, Sang Penciptanya. Itu sebabnya akhir kata dari kitab Pengkhobah dengan tegas menekankan agar manusia takut kepada Allah (Pkh. 12:13-14).

Karena setiap orang akan menerima hasil akhir dari segala perbuatannya, kita harus menang atas kesia-siaan. Siapa dapat menaklukkan kesia-siaan? Roma 8:20-24 menuliskan, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia yang telah menakluk-kannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan.”

Bila kita tidak menyadari adanya kesia-siaan, pertumbuhan iman dan pengharapan kita akan terhambat bahkan mati. Kesia-siaan yang terjadi oleh kehendak Dia bukan membuat kita pesimis, ragu-ragu atau menimbulkan perbantahan tetapi agar kita bertumbuh dewasa sesuai kodrat Ilahi yang telah dianugerahkan bersama Roh Kudus. Pengalaman ini sangat berharga bagi hidup kita sambil berjalan maju dalam kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, Putra-Nya, yang telah menebus kita dari kesia-siaan.

Waspada, orang-orang yang tidak mengenal Allah berpikiran sia-sia, pengertiannya gelap sebab jauh dari persekutuan dengan-Nya, hatinya bodoh dan degil juga perasaannya tumpul sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan segala macam kecemaran dengan serakah (Ef. 4:16-19).

Segala yang dikerjakan Yesus Kristus di atas Salib merupakan rencana Allah yang sangat besar untuk membangun Tubuh-Nya yaitu Jemaat yang telah ditebus/ diselamatkan dan dibebaskan dari kesia-siaan baik dalam perkataan maupun sikap dan perbuatan untuk menjadi bermanfaat bagi-Nya.

Kehidupan baru dalam Kristus merupakan anugerah terbesar bagi kita sehingga kita tidak lagi hidup menurut kemauan daging yang bersifat sementara dan sia-sia melainkan hidup dalam pimpinan Roh Kudus yang bersifat kekal (Gal. 5:16-19). Bukankah daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor. 15:50)? Dan Roh Kudus dimeteraikan bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus (Ef. 1:13).

Roh Kudus dengan kuasa-Nya berperan memberikan pengajaran, pertimbangan dalam kebenaran sesuai dengan ajaran yang telah disampaikan Yesus sedangkan Yesus mengajarkan ajaran dari Bapa yang harus diteruskan kepada semua murid-Nya hingga kesudahan alam. Ajaran Yesus berkuasa mengubahkan setiap kehidupan agar menjadi berarti dan berguna bagi mereka yang memerlukan keselamatan. Yesus telah mengerjakan keselamatan di atas salib untuk mempersatukan kembali manusia dengan Allah Bapa.

Apa doa Yesus kepada Bapa-Nya? Yohanes 17:7-12 menuliskan, “Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari pada-Mu dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa tetapi untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku dan Aku telah diper-muliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia tetapi mereka masih ada di dalam dunia dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.”

Kemenangan atas kesia-siaan menentukan orang masuk dalam bilangan Tuhan karena kehidupan seperti inilah yang ditetapkan menjadi milik-Nya. Tanpa pimpinan Roh Kudus, kita tidak dapat mengatasi kesia-siaan. Hanya Roh Kudus yang mampu memberikan penjelasan akan pengajaran Yesus yang diterima dari Bapa-Nya dan Roh kudus mampu mempertajam pertimbangan hati yang tumpul supaya dapat melihat kemuliaan yang dianugerahkan oleh Yesus dalam penebusan-Nya. Itu sebabnya berikan hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus agar tidak hidup sia-sia tetapi memiliki pengharapan untuk satu kali kelak bersekutu dengan Tuhan Yesus di dalam kerajaan-Nya yang kekal. Amin.