Kidung Agung 3:4 ke 60

 

Kaum Wanita ke-60

oleh: Ibu Ester Budiono

 

"Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku, kupegang dan tak kulepaskan dia sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku."

 (Kid. 3:4)

Bagi anak, sosok ibu menjadi wadah penampung segala kerinduan dan kekhawatiran yang ada dalam hati untuk mendapatkan jawaban yang meneduhkan. Ibu dengan sikap melindungi putrinya pasti mengharapkan kata-kata janji dan pengharapan dari sang pria/(calon) menantu untuk tidak menyia-nyiakan anak perempuannya.

Kerinduan dan kekhawatiran sang mempelai wanita agar segera bersatu dengan kekasihnya merupakan hal yang wajar mengingat budaya Timur menempatkan wanita dalam posisi penantian akan tindakan inisiatif dan aktif dari sang pria. Kalau pria tidak cepat meminang atau menunda memperkenalkannya kepada orang tua, pihak wanita menjadi resah terlebih jika usia tidak muda lagi. Bagaimanapun juga, hasrat bersatu yang begitu menggebu-gebu harus dikendalikan sampai tiba waktunya yang tepat.

Introspeksi: bagaimana dengan kasih dari pasangan suami istri? Masihkah ada perasaan saling merindukan? Jangan perasaan kangen terjadi hanya saat belum saling memiliki! Sebaliknya, justru ketika sudah saling memiliki, pereratlah tali kasih, jaga dan lindungi pasangan Anda agar hanya dia menjadi fokus Anda dalam mengarungi bahtera pernikahan tanpa lupa menempatkan Tuhan sebagai Kepala rumah tangga! Lebih luas lagi, bagaimana dengan hubungan antarsaudara seiman sebagai keluarga Allah? Adakah kita mengkhawatirkan dan merindukan mereka atau malah berusaha menjauhi bahkan memengaruhi orang lain untuk menjauhinya? Faktanya, sikap semacam ini sedang terjadi sekarang. Untuk saling menjauhi bukanlah hal yang sukar di dunia ini karena adanya dorongan kuat dari sekitar kita. Ingat, kasih manusiawi bersifat sementara, tidak tahan uji dan mengandung pamrih. Dengan kata lain, untuk mendekatkan diri satu dengan yang lain tidak dapat kita peroleh dari siapa pun di dunia ini kecuali di dalam diri Allah yang memiliki kasih sejati ditandai dengan keberanian dan kerelaan untuk berkurban.

Peristiwa pertemuan dengan sang kekasih terjadi di malam hari setelah si gadis mencari jantung hatinya dengan berkeliling di kota (Kid. 3:1) dan nekat membawa kekasihnya kepada ibunya. Sebenarnya tindakan semacam ini tidak sesuai dengan adat istiadat bangsa Ibrani pada waktu itu. Sangat jelas, kenekatan mencari kekasihnya dan tidak mau melepaskannya lagi menunjukkan cintanya yang berkobar-kobar.

Tak dapat disangkal, cinta itu tidak statis melainkan dinamis! Cinta sejati mengalir selaras dengan irama dan musim; demikian pula gairah cinta tak mengenal pasang surut bagaikan musim silih berganti – masing-masing memiliki unsur-unsur penting yang berperan serta dalam membangun gairah cinta itu. 

Bila kita merenungkan kembali apa yang dilakukan sebelumnya oleh mempelai laki-laki, dia mengajak kekasihnya keluar menyaksikan indahnya musim semi yang mana ladang dipenuhi bunga-bunga ditambah lagi dengan merdunya bunyi tekukur (Kid. 2:10-14), ini melukiskan musim cinta asmara yang sedang merekah. Terasa begitu pekanya si penulis terhadap kein-dahan alam yang diungkapkan dengan nada segar sekaligus menampilkan Pribadi Sang Pen-cipta akan keagungan karya ciptaan-Nya juga kasih sejati-Nya yang tampak nyata dalam ciptaan-Nya. Perhatikan, semua ini tidak terdapat di kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama kecuali kitab Kidung Agung yang menampilkan secara gamblang hubungan pria-wanita juga nikah dalam kesucian sesuai dengan rencana dan  kehendak-Nya.  

Sayangnya, penulis menyatakan bahwa mempelai perempuan tidak segera merespons ajakan suaminya untuk menikmati keindahan nyanyian musim semi. Itulah gambaran keadaan para wanita/istri (gereja) yang banyak kali kurang tanggap/peduli dengan kasih sejati-Nya!

Jujur, wanita lebih peduli bahkan sangat peduli akan hal-hal yang seharusnya diabaikan/dibuang misal: perkara yang membuat hati sakit, gusar, kecewa namun justru persoalan seperti ini yang cepat ditanggapi/direspons kemudian mengabaikan ajakan Firman untuk menikmati suasana kasih dalam kebersamaan dengan Pribadi-Nya yang penuh dengan sukacita dan bahagia meski ada banyak tantangan hidup yang harus dihadapi bagaikan musim yang silih berganti. Kiranya Roh Kudus membuka alam pikiran kita untuk mengerti bahwa hubungan yang baik dan sehat dengan Sang Firman berdampak hubungan baik dan sehat pula dalam nikah dan sesama.

Meskipun harus menghadapi "rubah-rubah kecil" yang dapat merusak kebahagiaan sejati, setiap pasangan bertanggung jawab untuk memelihara hubungan dan mengembangkan diri masing-masing untuk bertumbuh menjadi dewasa rohani. Hanya dengan hidup bertanggung jawab (dewasa rohani), sepasang kekasih dapat menikmati hubungan saling memiliki; demikian juga dalam hubungan antaranggota tubuh Kristus. Bila terasa ada jarak dalam hubungan nikah maupun dengan sesama walau hanya sesaat, segeralah bertindak dan jangan segan-segan mengungkapkan kerinduan serta rasa kehilangan terlebih bila berkaitan dengan hubungan pribadi yang mendalam dengan Sang Firman Tuhan. Ingat, dalam cinta sejati, ketidakhadiran pasangan hidup justru memicu untuk lebih menghargai dan memupuk pendewasaan diri. Amin.