Kaum Wanita ke-57

 Kidung Agung 3:3-4

 

Ibu Ester Budiono

 

Shalom,

“Aku ditemui peronda-peronda kota. “Apakah kamu melihat jantung hatiku?"  (Kid. 3:3-4)

Si putri mencari kekasihnya keliling kota, di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan tetapi tidak berhasil menemukannya!

Apa jadinya bila kita begitu giat dalam pelayanan tetapi sesungguhnya kita hidup tanpa kehadiran dan penyertaan-Nya? Kita tidak berjumpa dengan-Nya padahal Dia adalah kekasih kita yang memberikan sukacita, keba-hagiaan dan semangat. Lain halnya jika kita tidak mengasihi Dia, kita tidak akan peduli apakah Ia hadir atau tidak; kita hanya sibuk mementingkan pelayanan bahkan bangga bila terlibat dengan banyaknya pelayanan berakibat timbulnya pertengkaran, perselisihan dan kesa-lahpahaman yang tak kunjung terselesai-kan sehingga masing-masing saling men-dendam tidak mudah mengampuni. Bukankah hal serupa terjadi pula dalam kehidupan nikah dan keluarga? Apa penyebab terjadinya ketidakharmonisan? Karena Dia tidak hadir bersama dengan kita. Sayangnya, kita  belum/tidak (mau) menyadarinya; bila terjadi konflik, kita malah memperbesar masalah dengan mencari siapa yang benar/salah kemudian saling mencurigai, menghakimi bahkan memvonis.

Tidak demikian dengan tindakan putri Sulamit karena ada ikatan saling mengasihi antara si putri dengan raja. Tanpa menunda-nunda si putri segera bertindak pergi mencari sang kekasih berdasarkan apa yang ada dalam alam pikirannya. Awalnya si putri tidak menjumpai sang kekasih namun jerih payahnya tidak sia-sia, dia berhasil berjumpa dengan pujaan hatinya.  

Apakah perjumpaan dengan sang kekasih karena hasil si putri berkeliling kota atau jalan-jalan yang dia tempuh itu benar atau karena pengakuan kegagalannya kepada peronda-peronda? Sama sekali tidak! Jujur, kita sering beranggapan dengan kekuatan sendiri kita dapat mengatasi masalah (jasmani maupun rohani) yang sedang kita hadapi. Namun melalui pengalaman si putri, kita disadarkan bahwa sebenarnya bukan usaha kita sekalipun kita mempunyai ketekadan hati untuk kembali berada dekat dengan Dia selalu. Buktinya? “Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia sampai kubawa dia ke rumah ibuku ke kamar orang yang melahirkan aku.” (ay. 4) Jelas, peronda-peronda (menunjuk pada para pemimpin rohani) yang sedang bertugas menjaga   keamanan pada malam itu tidak mampu membantu si putri menemukan kekasihnya.

Implikasi: penggembalaan sangatlah penting karena kita adalah domba-domba milik-Nya, termasuk para pemimpin rohani, harus lebih dahulu memberi hidup untuk digembalakan oleh Firman penggembalaan agar bertumbuh rohani dan makin mengenal Dia, Sang Gembala Agung, secara pribadi. Dengan demikian, karakter kita dibentuk menjadi serupa dengan karakter-Nya dari hari ke hari dan kasih-Nya makin nyata tampil dari hidup kita sehingga kita memiliki kasih tak berpamrih, suci, tahan uji, tekun, ulet dan tak mudah putus asa.

Perhatikan, kehendak Tuhan ialah kita berjumpa dan mengenal Dia secara pribadi. Itu sebabnya Yesus bertanya kepada para murid-Nya siapa Dia dan dijawab oleh Petrus bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-16). Apakah kemanusiaan Petrus hebat karena dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan tepat? Dengan terus terang Yesus menjelaskan bahwa jawaban Petrus bukan dari manusia melainkan berasal dari Bapa di Surga (ay. 17). 

Implikasi: kita harus sadar diri bahwa kita hanyalah manusia biasa yang terbatas dalam segala hal termasuk kemampuan untuk menjawab dengan tepat. Ingat, setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yak. 1:17).

Lebih lanjut, perjumpaan si putri dengan raja, kekasihnya, memberikan pembelajaran bagi kita bahwa sekalipun kita sudah berada di jalan kebenaran, ini tidak berarti kita sudah sempurna. Masih banyak pelajaran yang perlu kita pelajari, alami dan praktikkan karena kita tidak hanya ada di dalam hati Tuhan tetapi juga di dalam tangan-Nya untuk diproses mencapai tujuan kesempurnaan.

Bagaimanapun juga Dia tahu batas kemampuan kita dalam menjalani proses demi proses penyucian menuju kesempurnaan. Kesanggupan kita masih jauh dari kesempurnaan namun Ia tidak membiarkan kita sendiri tetapi memimpin dan menyertai kita. Juga karena kerinduan hati kita yang memuncak, Ia rela untuk ditemui (bnd. Ams. 8:17). Dengan penuh kesabaran, Tuhan, Gembala agung, menuntun dan membimbing kita melangkah maju. Di saat proses penyucian berlangsung begitu berat bagi kita, Dia menyatakan diri-Nya dan memberi kita kelegaan sebab Dia melihat kerinduan yang mendalam dari hati kita meskipun tidak murni sepenuhnya. Yang perlu diketahui, jangan mudah putus asa sebab Tuhan sudah menentukan ukuran (seturut kehendak-Nya) saat  kita masuk dalam proses penyucian. Amin.