Kaum Wanita ke-56

 

Kidung Agung 3:2-3

 

Ibu Ester Budiono

Shalom,

Kita sudah berada di awal tahun 2016, hendaknya kita menyerahkan tahun baru ini ke dalam pimpinan Allah tanpa melupakan pengalaman kita di tahun 2015 sebab dengan mengingat berbagai peristiwa penting dan berkesan yang telah terjadi, kita mengingat kembali cara Tuhan berkarya melalui peristiwa-peristiwa tersebut dan memetik pelajaran yang dapat diambil serta berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan kemudian melangkah dengan iman yang lebih mantap di tahun 2016 ini.

Bagaimana dengan langkah hidup putri Sulamit? Apa yang terjadi dengannya? Menyadari tidak adanya kemajuan dalam iman, si putri segera bertindak "bangun" berarti tidak tidur lagi alias tidak berlena-lena. Memang menyadari kesalahan itu baik namun bila tidak dilanjutkan dengan tindakan semuanya tidak akan ada artinya.

Sebelumnya si putri berpikir bahwa perhentian hanya berlaku di suatu tempat dalam waktu tertentu dan kondisi semacam itu dinikmatinya. Itu sebabnya si putri bertahan pada perasaannya namun pada saat yang sama dia juga ingin bersama dengan raja, kekasihnya. Bukankah kita memiliki pengalaman serupa? Setelah Tuhan memimpin kita melangkah maju setapak dalam iman barulah kita mengerti bahwa perhentian senantiasa dapat kita nikmati di mana pun dan kapan pun asal kita bersama Dia dengan menaati/tunduk pada kehendak-Nya dan melepaskan kehendak sendiri. Jelas semua tergantung dari dengar-dengaran kita kepada suara Yesus/Firman yang hidup, sumber sukacita, damai sejahtera dll.; karena itu penting sekali membaca dan merenung-kan Firman-Nya sebab tidak mungkin kita dapat dengar-dengaran (=melakukan) Firman tanpa membaca dan mendengarkannya lebih dahulu. Jika tidak, hubungan kita dengan Tuhan Yesus, sang Kekasih jiwa, pasti renggang dan semakin menjauh berakibat tugas pelayanan dilakukan hanya sebagai kebiasaan/rutinitas yang melelahkan dan membosankan menimbulkan banyak keluhan, sungutan dan omelan karena bergantung pada perasaan yang bersifat labil.

Perhatikan, Tuhan adalah Kekasih/jantung hati kita. Jika kita tidak lagi memiliki kasih-Nya, hati kita pasti terasa kosong walau diisi dengan segala sesuatu yang diinginkan sebab hati tidak dapat dipuaskan dengan harta, uang, kedudukan dll. yang ada di dunia ini.

Kidung Agung 3:2-3 menuliskan, “Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?"

Di malam yang gelap pekat si putri memutuskan untuk bangun dan berkeliling kota, hal ini menunjukkan keputusannya segera dibuktikan dengan tindakan. Bagaimana dengan kita? Berapa banyak keputusan yang sudah kita ucapkan dan sudahkah semua dinyatakan dalam tindakan? Atau hanya sekadar tutur-kata yang segera lenyap dengan berlalunya waktu?

Ternyata si putri tidak berhasil menemukan kekasihnya meskipun dia sungguh-sungguh mencari berkeliling di kota, di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan! Di mana sebenarnya sang kekasih berada? Dan di mana letak kesalahan si putri dalam tindakan pencariannya? Bukankah kita juga melakukan hal yang sama setelah sadar dari segala  kesalahan, kekurangan dan kelemahan kita? Dalam hati ada keinginan membara untuk mengejar ketinggalan akibat ketidakpengertian dan kebodohan lalu hati rindu untuk melibatkan diri kembali dalam kegiatan rohani. Tindakan semacam ini memang baik tetapi langkah awal yang harus dilakukan ialah berdamai dengan Yesus, Juru Selamat, yang sudah menyelamatkan kita dari segala dosa dengan pengurbanan-Nya di atas salib. Bagaimana caranya? 

Mengakui semua yang menyebabkan kita gagal bukan berdalih dengan menyalahkan orang lain. Ingat, segala ketidakbaikan yang kecil bagaikan rubah-rubah kecil seperti: malu, takut dikecam orang lain, dusta putih dll. mempunyai akar yang sangat dalam yaitu tinggi hati. Apabila semua itu belum diperdamaikan dengan Tuhan, walau kita mencari Dia keliling kota, di jalan-jalan maupun di lapangan-lapangan, kita tidak akan pernah menemukan-Nya. Kita tidak mempunyai pilihan, kita harus menempuhnya walau semua itu tidak menyebabkan pertemuan dengan Kekasih jiwa kita.

Ketika si putri sedang mencari jantung hatinya, dia ditemui peronda-peronda kota yang stand-by menjaga  keamanan dan ketertiban kota pada malam hari. Si putri menanyakan di mana kekasihnya tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak untuk menolongnya. Peronda-peronda menunjuk pada para pemimpin yang bertugas menjaga dan bertanggung jawab atas keselamatan jiwa kita (Ibr. 13:17). Mereka senantiasa berkeliling dalam kota dan sangat paham masalah rohani. 

Aplikasi: bila kita ingin berjumpa dengan Tuhan, kita sendiri yang harus datang kepada-Nya. Tidak ada seorang peronda/pemimpin rohani mampu mewakili Dia karena berjumpa dengan ‘peronda’ bukan berarti berjumpa dengan Tuhan. Hendaknya kita menyadari bila kita terlalu bersandar pada seorang pemimpin, kita akan semakin menjauhi Tuhan membuat kita kecewa. 

Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas didikan dan pengajaran Firman-Nya yang menyucikan hati dan pikiran kita juga menyadarkan kita bahwa ketidakhadiran Tuhan di dalam kesibukan pekerjaan pelayanan akan membuat hati kita hampa dan kering berakibat pekerjaan Tuhan menjadi sangat melelahkan dan klimaksnya kita kehilangan gairah dalam pelayanan sebab semua dikerjakan dengan terpaksa. Lebih parah lagi, dengan habisnya waktu yang dipakai untuk sibuk dalam kegiatan pelayanan, banyak kegiatan lain menjadi terbengkalai seperti urusan rumah tangga, persoalan anak dll. Sebaliknya, jika kita bertemu dengan Tuhan dan ada penyerahan kepada-Nya, selain ada sukacita dalam pelayanan, kita dapat mengatur waktu untuk kegiatan rumah tangga juga perhatian terhadap anak-anak.

Yang pasti, tanpa Dia kita tidak akan mengalami sukacita dalam pelayanan juga dalam nikah dan rumah tangga! Kalaupun kita mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan penuh tanggung jawab, semua berjalan serba dingin, kaku dan tegang sebab tidak ada kasih dan keharmonisan di dalamnya.

Perlu diketahui, ada kalanya Tuhan berpaling dari umat-Nya dengan maksud baik (Hos. 5:15). Untuk sementara waktu Tuhan membiarkan kita ‘berjalan’ sendiri namun ini tidak berarti Tuhan tidak mau dengan kita lagi tetapi supaya kita menyadari pentingnya dengar-dengaran kepada Firman-Nya untuk mengalami penyucian sampai pada hal-hal kecil – kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering kita remehkan. Misal: kita sebagai istri menolak untuk berada pada tempat yang sudah disediakan. Ingatlah bahwa yang terbaik adalah tunduk pada kehendak-Nya.

Perhatikan, kerohanian seseorang tidak diukur dengan banyaknya pekerjaan pelayanan tetapi dari dengar-dengaran, tunduk dan patuh kepada Firman serta kepada kehendak-Nya. Apa gunanya kita mati-matian melayani tetapi pada akhir perjalanan hidup kita dikatakan, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Mat. 7:21-23) Amin.