Kidung Agung 3:1-2

 

Ibu Ester Budiono

Shalom,

"Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di-jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia." (Kid. 3:1-2)

Kata "malam" di sini berbentuk jamak (menurut naskah aslinya) berarti bukan terjadi satu malam saja tetapi beberapa malam berturut-turut si putri sendirian di ranjangnya. Sebenarnya ranjang merupakan tempat untuk beristirahat tetapi si putri malah gelisah, bingung, gundah-gulana dan penyebabnya jelas yaitu sang kekasih tidak bersama dengannya lagi. Sebelumnya si putri begitu bangga dengan pengalamannya semalam suntuk bersama dengan sang kekasih tertulis di Kidung Agung 1:13, "Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur tersisip di antara buah dadaku (that lies all night between my breasts (=sepanjang malam di antara buah dadaku).” Namun kenyataan tidak sama dengan yang dirasakannya, sang kekasih seakan-akan sengaja bersembunyi.

Bukankah kita juga sering berpikir seperti itu? Kita merasa cukup puas memiliki Dia yang disalibkan demi kita, sekarang Dia menjadi milik kita dan kita menjadi milik-Nya. Dia sudah melakukan apa yang harus dilakukan-Nya yaitu menyerahkan hidup-Nya dan mati disalibkan sedangkan kita yang menerima-Nya pasti diselamatkan. Kemudian kita terlibat aktif dalam banyak kegiatan gereja yang membuat hati kita penuh sukacita Surga. Sayangnya, kita terbuai dengan kenikmatan perasaan hingga melupakan bahwa kita ini milik-Nya bukan hanya Dia menjadi milik kita.

Pertanyaan: Dia sudah melakukan bagian-Nya, bagaimana dengan kita? Sebagai milik-Nya, apakah hati-Nya puas dengan kita? Puaskah Dia dengan segala kegiatan pelayanan kita? Yang pasti, hati-Nya puas apabila kita dengar-dengaran akan kehendak-Nya yaitu bersama dengan Dia di mana pun dan ke mana pun Dia pergi dan berada. Bersama dengan Dia dalam kegiatan yang dikehendaki-Nya tanpa dibatasi waktu dan tempat! Namun yang terjadi di atas petiduran tempat si putri menganggap ada perhentian ternyata timbul peristiwa yang tidak diingininya. 

Kisah si putri ini menjadi pembelajaran bagi kita, para wanita, yang umumnya hidup mengandalkan perasaan. Perlu diketahui bahwa perasaan itu tidak stabil, semua serba tak menentu dan serba mengira-ngira/kemungkinan. Untuk itu kita perlu dibebaskan dari sifat mengandalkan perasaan yang membuat kita bertindak bodoh dan tidak dengar-dengaran pada kehendak-Nya. 

Kalau mau jujur, bukankah sikap kita tidak jauh beda dengan sikap hidup si putri? Setelah menyadari kita telah tertinggal jauh dari-Nya, apa yang kita lakukan?

  • "Di atas ranjangku" Ini yang kita lakukan, mencari Tuhan tetapi tidak mau meninggalkan kedudukan yang salah. Bagaimana mungkin mencari sang kekasih tetapi tidak beranjak turun dari ranjang? Selanjutnya,
  • “Aku hendak bangun" Sekarang si putri memutuskan hendak bangun!

Kiranya kita pun mau belajar untuk bertindak cepat dan tepat apabila hidup tidak lagi menikmati perhentian karena tidak ada kemajuan dalam iman dan hati terasa kosong.

"Bangun" berarti tidak tidur dan tidak terlena dalam perasaan! Dalam hal ini Tuhan menghendaki kita belajar mengalami perhentian tanpa ketergantungan pada tempat atau waktu melainkan dalam pimpinan-Nya. Perhatikan, selama kita berjalan bersama-Nya, kita pasti menikmati perhentian.

Marilah kita belajar beriman dan percayalah bersama dengan Dia, kita pasti menikmati perhentian dalam situasi dan kondisi apa pun. Amin.