Kidung Agung 2:17

 

Kaum Wanita ke-54

 

Ibu Ester Budiono

Shalom,

Yang diperhatikan dalam kitab Kidung Agung, bagaimana sikap seorang milik Tuhan dan kerinduannya kepada Tuhan yang memilikinya. Apakah kerinduan kepada Tuhan, dengan berjalannya waktu, makin meningkat atau malah menurun? Masihkah kita ingat bahwa panji kitab ini ialah "cinta"?

Kidung Agung 2:17 menuliskan,“Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, kembalilah, kekasihku, berlakulah seperti kijang atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah!”

Kata "kembalilah" pada ayat di atas menyiratkan dua hal, yaitu:

1. Si putri tidak mungkin menyusul karena tidak dapat segera bangun pergi bersama dengan sang kekasih ketika sang kekasih me-manggilnya.

2. Si putri ingin bersama dengan raja, sang kekasih.

Kesimpulannya, si putri sangat mendambakan untuk bersama dengan kekasihnya, sang raja, tetapi di tempat si putri bukan di tempat raja berada.

Bukankah hal seperti itu terjadi pada gereja akhir zaman ini? Menginginkan dan mempertahankan perasaan nikmat penyertaan-Nya menurut perasaan sendiri? Jujur, para wanita lebih banyak dikendalikan oleh perasaan akibatnya kepentingan diri sendiri menjadi fokus!

Untuk itu diperlukan penggembalaan yang membawa kehidupan rohani bertumbuh agar dapat mengerti bila mendengar suara/Firman-Nya dan tampak/melihat dengan pandangan iman akan penampilan pribadi-Nya dalam kuat kuasa kebangkitan-Nya. Dengan demikian, kita dibebaskan dari keterandalan atas perasaan yang dapat menipu kita. Waspada, perasaan membuat seseorang menjadi egois bahkan kalau memungkinkan Tuhan pun diatur menurut keinginan kita – menolak bersama Tuhan di mana Dia berada; sebaliknya, menghendaki Tuhan menyertai kita di mana kita berada. Sesungguhnya, Tuhan menghendaki agar kita menyatu dengan-Nya yang telah mati untuk segala pelanggaran kita dan bangkit untuk pembenaran kita (Rom. 4:25). Alangkah bahagianya berada bersama dengan Dia yang bangkit di mana pun dan kapan pun tanpa dibatasi oleh waktu dan ruang!

Si putri meminta agar kekasihnya/sang raja mau kembali sebab dia tahu tempat tujuan raja tetapi tahu pula bahwa tidak mungkin baginya ke sana menyusul raja. Sayangnya, si putri tidak meminta raja menolongnya untuk dapat ikut bersama raja ke tempat itu, karena sesungguhnya si putri sudah merasa puas dengan penyertaan raja di tempatnya. Si putri belum menyadari betapa sayangnya bila dia tidak bisa mengikuti raja ke tempat yang raja inginkan. Karena itu dia hanya minta agar raja kembali dengan sikap "serupa kijang atau anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah".

Implikasi: kondisi semacam itu juga sering terjadi dalam kerohanian kita – merasa aman padahal hubungan dengan Tuhan sudah tidak lagi intim meskipun masih terlibat dengan banyak kegiatan rohani tetapi sebenarnya tanpa penyertaan Tuhan. Apabila kita suka menolak panggilan suara/Firman Tuhan dan memilih jalan sendiri, merasa Tuhan tetap beserta namun sebenarnya kita melayani dengan kekuatan sendiri akibatnya timbullah banyak omelan serta keluh-kesah bahkan tak jarang pula rasa bosan. Ini disebabkan karena kita lebih mengutamakan perasaan rasa aman di dalam daripada menghadapi kenyataan bersama dengan-Nya di atas gunung-gunung dan bukit-bukit. Tuhan memanggil agar kita bangun dan keluar dari tempat aman di balik dinding ke’aku’an yaitu sifat, tabiat, watak kita untuk bersama dengan Dia yang bangkit. Marilah kita merespons panggilan-Nya dengan iman dan segera bangun, melangkah keluar dan bersama Dia kita menang atas sifat tabiat yang labil, ragu, bimbang, takut, khawatir, tidak bisa maju karena hidup ini dikendalikan oleh perasaan sendiri bukan dikendalikan oleh Firman dan Roh Kudus-Nya.

Jujur, banyak kali kita menyakiti hati Tuhan sebab kita tidak berada di tempat di mana Dia menghendaki kita bersama dengan-Nya yang sudah menang atas maut di atas gunung Golgota. Kalau kita mengakui segala kesalahan, kekurangan dan dosa kita, Ia adalah setia dan adil maka Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh. 1:9).

Masa gelap segera datang "angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang" dan malam pun tiba. Suatu suasana gelap menyelubungi seluruh langit/dunia ini itulah krisis dalam segala hal sehingga ketakutan mencengkeram manusia yang ada. Namun Yesus, Mempelai Pria Surga, memanggil dan mengajak kita untuk lebih meningkat lagi dalam mengatasi sifat-tabiat sendiri sekalipun untuk itu kita harus berani bayar harga. Manusia pada umumnya berani bayar harga demi kesembuhan penyakit yang membahayakan hidupnya (hanya untuk hidup sementara di dunia ini) tetapi sulit dan tidak rela bayar harga demi penyucian yang menyangkut hidup kekal. Akibatnya, merasa masih hidup bersama Tuhan dan giat dalam pelayanan rohani tetapi semua dilakukan karena kebiasaan/rutinitas yang berakhir pada puncak kejenuhan. Kita mutlak membutuhkan Dia berkarya dalam kita karena tanpa Dia – Sang Firman Agung – dan Roh Kudus, kita tidak berdaya. Dia bersedia menolong setiap orang yang datang mohon pertolongan-Nya. Amin.