Kidung Agung 2:16

 

Ibu Ester Budiono

 

"Kekasihku kepunyaanku dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung." (Kid. 2:16)

Ayat di atas merupakan cetusan hati si putri dan dipertegas di Kidung Agung 6:3 yang menga-takan, "Aku kepunyaan kekasihku dan ke-punyaanku kekasihku yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung."

Demikian pula hubungan kita dengan Kristus dalam saling memiliki; sayangnya, kasih kita kepada-Nya masih banyak terkait dengan kepentingan pribadi kita dan tidak berfokus pada Pribadi-Nya, misal: kita mengasihi Dia karena kita membutuhkan perlindungan, kesembuhan, finansial dan masih banyak kebutuhan lain yang perlu dipenuhi. Dengan kata lain semua berpusat pada ego kita; akibatnya, bila semua berjalan baik, suasana hati pun menjadi baik dan manis sehingga tidak sulit untuk mencetuskan kata-kata "Kekasihku kepunyaanku dan aku kepunyaan kekasihku". Tanpa disadari kita sudah memanfaatkan Kristus demi segala sesuatu yang kita inginkan tanpa memedulikan perkenanan hati-Nya.

Jujur, bukankah kita sering memikirkan Tuhan demi kepentingan dan kepuasan hati kita, bukan untuk memuaskan hati-Nya? Untuk itu kita butuh penggembalaan yang dapat membebaskan kita dari segala rasa khawatir akan kebutuhan hidup lahiriah yang bersifat fana. Perhatikan, jangan tinggalkan penggembalaan tetapi setialah digembalakan oleh-Nya sebagai domba-domba-Nya!

Bila kita membaca Kidung Agung 6:3 lebih cermat terjadi peningkatan meskipun belum sepenuhnya: sang raja menjadi intinya tetapi diri si putri termasuk di dalamnya. Peningkatan ini berlanjut sampai pada penyerahan total tanpa ada sisa untuk diri sendiri seperti tertulis pada Kidung Agung 7:10, “Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju." Di sini terlihat hidup si putri sepenuhnya ditujukan kepada kekasihnya.

Dalam Kidung Agung 2:16 tercetus pengakuan/pernyataan dari hati si putri yang merasa sangat puas dalam kemanunggalannya dengan raja. Namun apa kaitannya dengan frasa “yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung"?

Bagi kita sekarang, kita yang berdosa diselamatkan oleh Yesus – satu-satu-Nya Juru Selamat – yang mengasihi kita dan kita menjadi milik-Nya karena Dia sudah membeli kita dengan harga lunas bukan dengan emas atau perak tetapi dengan darah-Nya yang suci melalui kematian-Nya disalib (1 Ptr. 1:18-19). Terjadilah saling memiliki antara Dia dengan kita dan sebaliknya! Hal ini membuat hati sangat bahagia dan dengan sendirinya tercetus  pengakuan/pernyataan seperti  tercantum di atas. Jangan lupa, Dia adalah Gembala baik yang rela mati untuk domba-domba-Nya – kita semua (Yoh. 10:11).

Sungguh Dia tak tertandingi, Yesus – Sang Firman – mengerti keadaan kita yang diciptakan-Nya! Harus diakui pengenalan kita terhadap Pribadi-Nya belum sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Untuk mencapainya, kita perlu memberi diri digembalakan yang akan membawa kehidupan rohani kita bertumbuh untuk makin mengerti kehendak-Nya dan makin rela melepaskan kehendak sendiri yang egois. Hati nurani kita disucikan oleh darah Yesus, Gembala baik, yang telah menyerahkan nyawa untuk domba-domba-Nya.

Yesus mengambil contoh bunga bakung yang hidup bebas dari kekhawatiran, bukankah hidup kita jauh lebih berharga daripada bunga bakung (Mat. 6:28)? Namun kenyataannya pengikutan kita kepada Yesus dalam keseharian hidup hanya berfokus pada kepuasan diri sendiri karena Dia memenuhi segala yang kita inginkan tanpa pernah memikirkan apa yang harus kita perbuat untuk memuaskan hati-Nya atau apakah Ia puas dengan hidup kita.
Marilah kita belajar untuk memuaskan hati-Nya melalui tingkah laku dan tutur kata kita serta setia digembalakan hingga mencapai kesempurnaan!
Ibrani 12:1,2 menuliskan, “Karena kita mempunyai banyak saksi, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam  iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan….” Amin.