Kidung Agung 2:16

 

Ibu Ester Budiono

 

Shalom,

Ketika membaca Kidung Agung, yakinlah bahwa kita dikasihi oleh Allah. Oleh karena itu hendaknya kita bertekad memandang kehidupan pribadi, seks, dan perkawinan dari sudut pandang-Nya.

Hendaknya setiap pasangan mengenali gangguan-gangguan sekecil apa pun yang berpotensi menimbulkan masalah di antara mereka untuk kemudian menanggulanginya bersama-sama. Bukan sebaliknya, bila ada "rubah-rubah kecil", satu sama lain malah saling menyalahkan karena merasa diri sendiri benar sehingga terjadi pertengkaran besar. Belajarlah melihat dari sudut pandang Tuhan ketika menyelesaikan sesuatu yang menimbulkan gangguan dalam pasangan nikah.

Apa kata Kidung Agung 2:16; 6:3 dan 7:10? Kekasihku kepunyaanku dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.”

Sang wanita mengatakan bahwa dia dan kekasihnya saling memiliki dan memberikan diri sepenuhnya satu kepada yang lain. Kiranya suami istri benar-benar mengalami penyatuan dan ini dapat terjadi bila masing-masing memberi diri digembalakan oleh Firman penggembalaan untuk menerima penyucian sehingga mereka mampu menanggulangi gangguan kecil untuk tidak menjadi besar dan makin memburuk yang berakhir dengan kehancuran. Keputusan untuk mengikatkan diri dengan pasangan hidup dimulai di altar pernikahan dan ikatan ini harus dipelihara setiap hari!

Harus disadari betapapun dekatnya hubungan kita dengan orang tua atau sahabat terbaik kita, penyatuan sempurna baik pikiran, hati maupun tubuh hanya tercapai di dalam hubungan nikah. Bukankah dari awal Firman sudah menyatakan, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggal-kan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej. 2:24) dipertegas oleh Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya:" Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia." (Mat. 19:4-6) juga Rasul Paulus menambahkan, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.(Ef. 5:31-33)

Rasul Paulus menjunjung tinggi ikatan perkawinan dan menganggapnya sebagai penyatuan kudus, simbol hidup dan hubungan berharga yang membutuhkan kepedulian yang lemah lembut serta pengurbanan diri sepenuhnya. Yang dimaksud perkawinan di sini bukanlah sekadar kebutuhan praktis atau obat untuk hawa nafsu melainkan gambaran tentang hubungan antara Kristus dan gereja-Nya. Firman Allah dan Kurban Kristus mengerjakan penyatuan antara suami dan istri sehingga hampir tidak ada hal yang dapat memengaruhi yang satu tanpa memengaruhi lainnya. Kisah penciptaan menceritakan tentang rencana Allah bahwa suami istri harus menjadi satu (Kej. 2:24) dan Yesus juga mengacu pada rencana ini (Mat. 19:4-6).

Yang perlu diperhatikan, dari kitab Kidung Agung ini kita belajar memahami sifat kasih dari Tuhan, tidak hanya belajar bagaimana bersikap sebagai wanita, istri, ibu dan janda – semuanya adalah jemaat yang perlu dikuduskan sampai tak bercacat cela dalam mempersiapkan diri untuk kelak menjadi mempelai perempuan Anak Domba. Ingat, praktik hidup sekarang ini menentukan yang akan datang saat Dia datang sebagai Mempelai Pria Surga. Untuk itu suami istri harus makin merindukan penyatuan dan masing-masing berada di tempat yang sudah Tuhan tentukan sesuai dengan kehendak-Nya (Ef. 5:22 – 6:1-9). Tak ketinggalan masing-masing pribadi juga rindu untuk hidup menaati dan mengasihi Firman Tuhan yang menyucikan dimulai dari dalam hati sampai pada perbuatan yang dapat dilihat dan perkataan yang dapat didengar.

Tak dapat disangkal, melalui penggembalaan Firman dan pimpinan Roh Kudus, hidup kita makin disucikan dan hubungan kita dengan Tuhan dibarui serta hati dipuaskan karena kita memiliki Dia dan menjadi milik-Nya. Akibatnya, hubungan suami istri dalam nikah makin disatukan dalam kebahagiaan juga hubungan dalam keluarga dan jemaat makin menyenangkan hati Tuhan serta menjadi berkat bagi sesama. Amin.