MARIA MENGENAL-NYA

 

“– dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –” Itulah yang dikatakan bapak Simeon kepadaku saat menubuatkan Yesus, bayi yang kudukung. Aku terpana dan tak mengerti tetapi ku simpan kata-kata itu dalam hatiku…

Suatu hari kami kehilangan Dia di Yerusalem saat Paskah. Kami menemukan Dia bercakap-cakap dengan para ahli Taurat. “Mengapa Kau berbuat demikian, Nak?” tanyaku. Ia menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku…? Aku harus berada di rumah bapak-Ku!” Jawaban itu memedihkan tetapi kembali aku menyimpannya dalam hati.

Ketika kami diundang ke perjamuan kawin di Kana, aku memberitahukan Dia bahwa tuan rumah kehabisan air anggur. Lagi-lagi jawaban-Nya menempelakku!

Di lain kesempatan Ia sepertinya tidak mengakuiku sebagai ibu-Nya juga tidak mengakui saudara- saudara-Nya.

Yang paling menghancurkan ialah ketika aku berdiri di bawah salib tempat Ia dipaku. Dapatkah dibayangkan seorang ibu melihat Anak yang sangat dikasihinya dianiaya, dirajam hingga tubuh-Nya hancur? Masih belum cukup, tubuh-Nya dipaku di atas salib dan tombak telah menusuk lambung-Nya. Aku pun merasakan “pedang” itu benar-benar menembus  jiwaku! Kami sama-sama hancur.

Ketika aku dan anak-anakku yang lain duduk bersama-sama murid-murid-Nya, aku merasa begitu bahagia dan bersyukur. Siapakah diriku ini hingga terpilih untuk melahirkan, mengasuh dan membesarkan Putra yang Mahatinggi? Aku memandang jauh ke depan… aku melihat jutaan manusia mendapatkan kembali jalan menuju ke Surga dan aku pun kelak berada di sana tanpa lagi merasakan kesengsaraan tusukan pedang tetapi kebahagiaan kekal semata-mata. (Maria)