Akhir Sebuah Kisah Kehidupan

 

Perlu diakui bahwa siklus hidup manusia tidak bervariasi, kering dan berulang-ulang terjadi seperti tertulis di Kejadian 5:9-24 mengenai silsilah keturunan Adam, isinya: lahir, beranak-pinak dan mati. Namun, jika kita memerhatikan lebih teliti pada ayat ke-21 tentang Henokh, ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan pendahulu-pendahulunya. Memang Henokh berumur lebih pendek ( usia rata-rata orang zaman itu) tetapi dia memiliki catatan hidup yang lain – bukan dari segi kesuksesan atau kekayaan – namun karena hidup pergaulannya dengan Allah. Dengan kata lain, yang penting dari hidup itu bukan panjangnya tetapi isinya.

Ternyata bergaul dengan Allah memiliki makna tertinggi dari seorang manusia dan per-gaulan ini seharusnya telah terjadi pada saat kita masih hidup di dunia bukan setelah hidup bersama-Nya dalam kekekalan saja. Untuk itu bergaul dengan Allah haruslah menjadi gaya hidup (way of life) bukan sekadar hidup di dalam hukum-hukum Tuhan atau bersifat moral belaka. Sangatlah penting hidup bergaul dengan Allah karena bergaul dengan-Nya berarti kita akrab dengan Sang Pencipta – satu-satunya yang berwenang menjelaskan mengapa kita ada di dunia dan apa tujuan hidup kita. Jika kita hidup bergaul dengan-Nya, kita akan berani hidup berbeda dengan dunia, kita tidak hidup bagi diri sendiri tetapi menjadi reflektor (peman-car) sifat-sifat ilahi Allah.

Yesus Kristus adalah contoh ideal tentang bagaimana hidup bermakna: bukan dari lamanya tetapi dari isinya. Ia hanya berusia ± 33 tahun ketika meninggalkan dunia ini namun seluruh hidup-Nya bernilai kekal karena dalam segala hal Ia selalu berhubungan erat dengan Bapa Surgawi-Nya.

Kita sering merasa sayang ketika seseorang mati muda tetapi kalau matinya sudah tua, kita merasa hal itu wajar-wajar saja. Jadi, kita mengukur hidup berdasarkan pada panjangnya bukan isinya. Kita takut berumur pendek namun tidak takut hidup tidak bermakna. Ingat, berapa pun panjangnya umur kita, tetap suatu hari hidup kita di dunia akan berakhir juga.

Tak dapat disangkal panjang umur dapat pula berarti kesengsaraan bagi kita atau orang-orang di sekeliling kita karena semakin tua renta semakin kita mengandalkan orang lain untuk melayani kita dalam segala hal. Selain itu, pada usia lanjut sering timbul perasaan-perasaan bahwa dirinya tidak berguna, menyesal akan kesalahan-kesalahan di masa lampau, serta diliputi perasaan takut: sakit, kesepian, mati, dst.

Memang memerhatikan hidup dari sudut waktu juga penting seperti Musa dalam doanya memohon, “Ajarkan kami menghitung hari-hari kami sedemikian” (Mzm. 90:12a) tetapi kelanjutan doanya menjelaskan tentang apa maksud tujuan menghitung hari. Ternyata, waktu dihitung bukan untuk mengetahui panjang-pendeknya tetapi agar “kami beroleh hati yang bijaksana.” Dengan kata lain, bagaimana menjadikan waktu bermakna dalam hubungannya dengan Allah (Mzm. 90:13-17). Tak ketinggalan Rasul Paulus menasihati kita, “Karena itu perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal tetapi orang arif dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:15-16)

Perlu diketahui betapa pun panjangnya umur hidup seseorang, riwayat semasa hidupnya tertulis dengan singkat pada ‘obituarium’ (berita kematian) yang meliput hanya kelahiran dan kematian, bukan mencatat kronologi kesuksesan hidup yang dicapainya. Kedua peristiwa ini (kelahiran-kematian) merupakan hal paling penting dalam hidup kita. Tanpa kelahiran, kita tidak akan pernah ada di bumi ini; tidak ada sejarah apa pun yang kita ukir dan tidak pula ada apa pun yang kita miliki (keluarga, prestasi, harta, dst). Sebaliknya, kematian menghentikan kita dari segala sesuatu yang di belakangnya diembeli kata ‘ku’ seperti: suamiku, istriku, anakku, hartaku, gelarku, bahkan tubuhku. Kita dicabut dari semuanya. Perbedaan yang lebih penting adalah: pada kelahiran kita tidak dapat berbuat apa-apa karena kita tidak dapat ikut ambil bagian sedikit pun di dalam prosesnya sedangkan kematian ada di belakang kita; jadi, kita dapat berbuat sesuatu untuk memberi arti baginya – kita berperan penuh dalam mem-berinya makna. Sekali lagi kita melihat contoh sempurna dalam diri Yesus. Ia melihat gambaran besar hidup-Nya ialah ‘mati bagi orang banyak’ dan ke sanalah Ia mengarahkan seluruh aktivitas hidup-Nya. Ia mengatakan ‘sudah selesai’  ketika visi dicapai-Nya.

Menulis obituarium berarti melihat hidup dari akhirnya bukan dari depannya. Kita menggam-barkan kelahiran sebagai bagian depan atau pintu masuk sedangkan kematian sebagai pintu belakang atau akhir. Hidup harus dilihat bukan depan atau tengahnya tetapi akhirnya karena bagian akhir menyingkapkan segala sesuatu dan memberi makna bagi apa yang ada baik yang di depan maupun yang di tengahnya. Tanpa melihat dari pintu belakang, kita akan mengorientasikan pandangan hidup ke hal-hal sementara dan pemuasan nafsu belaka yang kelak ketika dilihat dari akhirnya merupakan kesia-siaan yang menyedihkan dan mengakibatkan penye-salan kekal. Kisah dalam Lukas 16 tentang ‘orang kaya dan Lazarus’ menunjukkan kepada kita kebenaran tentang hal ini. Dari sudut pandang manusia kita tidak mampu melihat hidup dari akhirnya, hanya Allah yang mampu. Itu sebabnya bila kita hidup dalam Firman-Nya, kita akan melihat dari perspektif Allah. Sedikit waktu lagi semua akan menjadi jelas. Akan ada sukacita ketika kita berdiri di hadapan takhta Allah yang dilingkupi kemuliaan dan keindahan yang tak tertuliskan.

Ketika lahir, kita tidak membawa apa-apa; tetapi pada saat kematian, kita dapat menentukan dua hal, yaitu: apa/siapa yang akan kita tinggalkan dan ke mana kita pergi. Contoh: menge-nai Henokh, tercatat dengan jelas apa/siapa yang ditinggalkannya (anak cucunya; dari garis keturunannya Nuh dilahirkan sebagai keluarga yang hidup bergaul dekat dengan Tuhan dan warisan paling berharga yang ditinggalkannya yaitu pergaulannya dengan Allah, bukan materiil semata); ke mana dan kepada siapa dia pergi juga ditulis dengan jelas dan pasti yaitu dia pergi kepada Allah untuk melanjutkan pergaulannya ke tingkat yang paling intim, bersekutu ‘muka dengan muka’ dengan-Nya. Allah yang bagi-Nya Henokh hidup sekarang menjadi Allah yang bersama-Nya ia hidup.

Kepastian yang sama kita peroleh di dalam Yesus Kristus Tuhan sebab Dia berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”  Hanya melalui Dia kita sampai kepada Allah; berarti, di luar Kristus tidak ada kepastian penerimaan Allah atas kita (Kis. 4:12).

Di dalam kitab Pengkhotbah pasal 7 disebutkan adanya dua macam tempat: rumah pesta dan rumah duka. Kelahiran biasanya dirayakan dengan pesta sementara pada kematian tidak ada pesta. Ini dijadikan alasan mengapa orang lebih menyukai Natal daripada Paskah. Namun Pengkhotbah memberi nasihat radikal dengan mengatakan, “Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran. Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia.” (ay. 2)

Itu sebabnya orang berhikmat lebih suka berada di rumah duka karena di sanalah ia diingatkan bahwa di satu pihak ia harus meninggalkan dan mewariskan dan di pihak lain ia harus pergi dan mendapatkan.

Baiklah kita merenungkan sebelum hidup kita berakhir, apakah kita telah mengisi hidup kita dengan visi-misi yang bermakna dan bernilai kekal serta warisan apa yang ingin kita tinggalkan saat meninggal?

Ringkasan dari: Akhir Sebuah Kisah Kehidupan (Yohan. C)