Editorial

 

MERDEKA!

Pekik kemerdekaan sering kali diteriakkan saat-saat kita memperingati hari kemerdekaan untuk mengingat kembali masa-masa memper-juangkan kemerdekaan itu. Tak jarang dalam film atau drama sejarah kemerdekaan digam-barkan seorang pahlawan dengan tubuh ber-gelimang darah karena peluru musuh namun tetap tegar dan dengan tangan teracung berteriak dengan sisa tenaga yang ada …Merde... ka!!

Dia rebah lalu mati.

Benarlah apa yang dikatakan “Freedom is never free” bahwa kemerdekaan tidak pernah didapatkan dengan gratis! Untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, para pahlawan berjuang keras bahkan rela mengurbankan nyawa. Untuk apa? Agar semua bangsa kita juga generasi mendatang bebas dari penjajahan yang sangat menindas kita. Lalu bagaimana penghargaan kita akan curahan darah serta pengurbanan nyawa mereka? Apakah kita telah benar-benar merdeka?

Ternyata banyak dari anak bangsa yang telah dibebaskan dari penjajah masih membiarkan dirinya “dijajah dan diikat” oleh keinginan akan uang atau oleh kebiasaan buruk yang tidak ingin dilepaskannya. Mereka merasa kemerdekaan adalah bebas melakukan perbuatan dosa apa pun yang dikehendaki dan disukainya tanpa menyadari bahwa hal itu merupakan keterikatan sebagai hamba dosa (Yoh. 8:34).

Sesungguhnya Yesus telah membayar dengan mahal kemerdekaan kita yaitu dengan darah-Nya dan mati disalib penuh derita, sengsara dan kehancuran. Itu sebabnya Yesus menga-takan, “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.(Yoh. 8:36) Pertanyaannya ialah apakah kita benar-benar mau dimerdekakan dari semua dosa kita atau masih mempertahankan dosa-dosa itu?

Selamat merayakan ulang tahun Kemerdekaan Indonesia. Merdekaaaaa!!! (Red.)