Editorial Edisi 576 - 14 Agustus 2016

Syalom,

Dua kali Alkitab menuliskan Henokh "hidup bergaul dengan Allah" (Kej. 5:21, 24). Dari penegasan ini tampak betapa eratnya hubungan Henokh dengan Allah hingga saat terakhir ketika dia diangkat hidup-hidup oleh Allah. 

Dari kata-kata "hidup dengan Allah", kita dapat merasakan kontinuitas perjalanan hidup Henokh bersama Allah sementara "bergaul dengan Allah" menunjukkan keeratan dan keindahan kualitas hubungan mereka. Tentu mereka saling bersahabat baik, memperbincangkan dan memutuskan masalah bersama, saling mengenal pribadi masing-masing, mengetahui apa yang disukai/tidak sukai oleh sahabatnya. Mereka pasti saling memerhatikan dan mengasihi. 

Henokh dikatakan "hidup bergaul dengan Allah" setelah dia memperanakkan Metusalah (ay. 21). Dia berhasil mendidik keturunannya dan menjadikan mereka orang-orang yang takut akan TUHAN. Dia juga berhasil dalam mencari nafkah (dengan bekerja penuh susah payah di tanah yang dikutuk TUHAN) dan memperoleh penghiburan.

Jika Anda berkesempatan untuk berbicara dengan Henokh, mungkin Anda akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini:

"Ceritakan kepada kami, bapak Henokh, apa saja yang kau bincangkan dengan TUHAN saat menghadapi kenakalan anak-anakmu? Saat menghadapi kemelut rumah tangga? Saat membesarkan dan mendidik anak-anak?"

"Ceritakan kepada kami, bapak Henokh, apa yang menyukakan hati TUHAN saat kau melakukan pekerjaan sehari-hari, saat menjalani kehidupan berat, melelahkan dan berpeluh dalam mencari nafkah?"

"Ceritakan kepada kami, bapak Henokh, bagaimana kami harus beribadah kepada TUHAN agar dapat memiliki hubungan erat dengan Dia dan memperkenan hati-Nya?"

Jika Anda masih merindukan untuk mendapatkan jawabannya, ulangi lagi ringkasan Firman Tuhan minggu lalu dalam penerbitan ini dan selamat menikmati! (Red.)