Editorial

Shalom,

Di awal kisahnya, Ayub dikatakan sebagai seorang yang saleh dan jujur juga takut akan Allah serta menjauhi kejahatan. Namun ternyata kriteria-kriteria sema-cam itu tidak menjamin seseorang me-ngenal Tuhan secara pribadi.

Pengenalan secara pribadi dengan Allah baru dirasakan Ayub setelah dia meng-alami penderitaan paling parah. Bahkan ketika orang paling dekat dengannya yang seharusnya paling mencintai dan mendukung dia dalam penderitaan mengatakan kepadanya, “Kutukilah Allahmu dan matilah.” (Ay. 2:9)

Pengenalannya secara pribadi dengan Allah diakui dan dicetuskan dalam kata-katanya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ay. 42:5)

Ayub kini mengenal Allah sebagai Seorang yang sanggup melakukan segala sesuatu – segala rencana-Nya tidak pernah gagal dan di balik semua rencana-Nya ada maksud yang sangat indah bagi dirinya.

Kiranya penderitaan Ayub juga memberi pelajaran yang indah bagi kita semua. Ketika kita mengalami penderitaan bertubi-tubi yang kita rasakan bukan karena perbuatan dosa kita, ketika kita merasa ketidakadilan telah terjadi atas kita, ketika orang-orang menghakimi dan menyalahkan atau meninggalkan kita, marilah kita mengatakan dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada pada kita, “Ya Tuhan, aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”

Penderitaan hanyalah sebuah alat untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bila kita mengerti dan tetap setia kepada-Nya, berkat ganda disediakan bagi kita dan sesuatu yang sangat indah dilimpahkan kepada kita melebihi apa yang kita pinta. (Red.)